Waspada Flu Musim Pancaroba 2026, Kenali Gejalanya dan Obat yang Tepat

Jakarta, Kirani – Memasuki awal Oktober 2026, cuaca terasa tidak menentu. Pagi panas terik, sore hujan deras. Inilah musim pancaroba, masa peralihan yang selalu membawa tantangan bagi kesehatan.

Hampir di setiap rumah ada yang batuk, pilek, dan demam. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga akhir September 2026 terdapat 1.527 kasus positif influenza, dengan sebaran tertinggi di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. BMKG sendiri memprediksi musim hujan akan mulai di akhir tahun 2026, yang menurut International Journal of Molecular Sciences dapat memengaruhi pertahanan alami saluran pernapasan.

Kemenkes menegaskan lonjakan ini adalah siklus musiman tahunan yang wajar. Istilah ‘super flu’ yang ramai di masyarakat tidak dikenal dalam nomenklatur WHO. Positivity rate kumulatif tahun ini 17%, justru lebih rendah dari 2025 yang 24%. Jadi yang dibutuhkan bukan panik, melainkan pemahaman.

Hal ini juga dibahas dalam acara talkshow Better Self Care Starts from Better Preparation on Transitional Weather bersama Actifed di The Manor Andara, Depok, Kamis (1/10). Menurut dokter umum sekaligus content creator kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth’i menjelaskan, ketidakstabilan cuaca saat ini memang berdampak langsung pada kerentanan tubuh terhadap serangan penyakit. 

Kenapa Tubuh Lebih Rentan Saat Pancaroba?

Pancaroba adalah periode adaptasi. Suhu yang berubah cepat dari panas terik ke dingin lembap membuat tubuh bekerja ekstra. Menurut dr. Ikhsan, sapaannya, bahwa perubahan suhu ini memang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. “Musim pancaroba ini ada perubahan suhu, baik itu dingin ke panas atau sebaliknya, memang masalah kesehatan yang paling banyak terjadi adalah infeksi,” jelasnya.

Ada tiga alasan ilmiahnya sebagai berikut:

1. Daya tahan tubuh menurun akibat kurang tidur dan aktivitas padat.

2. Virus influenza lebih stabil di udara lembap.

3. Orang lebih sering berkumpul di ruangan tertutup, sehingga penularan droplet lebih cepat.

Kelompok paling rentan adalah anak usia 0-4 tahun, lansia, dan ibu hamil. Data IDAI menyebut anak 0-4 tahun menyumbang 42% kasus dan berisiko dua kali lebih tinggi mengalami gejala berat.

Dhanica Mae Dumo-Tiu, General Manager Haleon Indonesia
Bedakan Gejalanya: Flu Biasa vs Influenza

Banyak yang menyamakan, padahal penanganannya bisa berbeda. Dan hal ini yang menjadi fokus edukasi Actifed.

Flu biasa disebabkan Rhinovirus dengan gejala ringan seperti hidung mampet dan bersin, sembuh 3-4 hari. Sementara influenza disebabkan Virus Influenza A/B dengan gejala mendadak: demam tinggi di atas 38°C, menggigil, nyeri otot, dan lemas total yang bisa berlangsung 7-10 hari.

“Gejala batuk dan pilek dapat muncul berbeda pada setiap orang. Penting memerhatikan perkembangannya. Jika menetap, memburuk, atau disertai sesak napas dan nyeri dada, segera cari bantuan medis,” jelas dr. Ikhsan.

Actifed Luncurkan Kampanye “Beda Gejalanya, Beda Warnanya”

Melalui acara ini, Actifed meluncurkan modul panduan pada swamedikasi flu dan batuk dengan menekankan pentingnya pencegahan lebih baik pada flu dan batuk selama perubahan cuaca, mendorong keluarga dan para perawat anggota keluarga untuk mengenali gejala yang beragam, mempraktikan swamedikasi yang bijak, dan mencari panduan kesehatan jika dibutuhkan. 

Actifed juga mengenalkan inisiatif kampanye “Beda Gejalanya, Beda Warnanya” yang bertujuan untuk mengedukasi konsumen lebih baik dalam membuat keputusan informatif tentang obat batuk dan pilek untuk kesehatan pernapasan.  

Selanjutnya, Actifed bersama 100 apoteker dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) meluncurkan modul edukasi baru berjudul “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care”.

General Manager Haleon Indonesia, Dhanica Mae Dumo-Tiu mengatakan, “Melalui Actifed, kami ingin membuat informasi swamedikasi untuk batuk dan pilek lebih mudah dipahami agar masyarakat lebih percaya diri merawat diri dan keluarga.”

Penulis modul, Dr. apt. Lucy Novianti, MM, menambahkan, “Banyak orang menentukan obat berdasarkan kebiasaan atau rekomendasi orang lain. Padahal kondisi tiap individu bisa berbeda. Modul ini membekali apoteker untuk memberikan konseling dan mengidentifikasi kapan perlu rujukan medis.”

Actifed juga mengenalkan kampanye edukasi “Beda Gejalanya, Beda Warnanya” untuk membantu konsumen memahami gejala sebelum memilih obat.”

“Melalui kampanye ini, kami ingin membantu konsumen mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat untuk kesehatan pernapasan sehari-hari,” ujar Anindita Pranawestri, Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia.

Dan pendekatan keluarga juga menjadi kunci. Nucha Bachri, kreator konten dan pembawa acara siniar Curhat Bapak Ibu, yang juga hadir di acara talkshow mengatakan, “Beberapa bulan terakhir di setiap tahun biasanya menjadi masa yang paling sibuk bagi seluruh anggota keluarga. Ini juga merupakan saat di mana batuk dan pilek lebih sering terjadi akibat perubahan cuaca. Sebagai seorang ibu, saya berusaha untuk selalu siap siaga dan memerhatikan berbagai gejala yang mungkin dialami anggota keluarga. Memiliki informasi yang lengkap membantu kami dalam mengambil keputusan yang lebih baik.”

Acara Talkshow Pencegahan Flu dan Batuk di Musim Pancaroba bersama Actifed (Gustiasa, Apoteker Lusy, dr. Ikhsanuddin, Nucha Bachri, Anindita)
Berikut Tips Swamedikasi Bijak Ala Actifed & IAI:

1. Kenali gejalanya dulu. Beda gejala, beda penanganan.

2. Kembali ke basic. Makan bergizi, minum air putih, tidur cukup, dan olahraga ringan.

3. Terapkan PHBS. Cuci tangan, etika batuk, pakai masker saat sakit.

4. Bijak minum obat. Gunakan sesuai aturan, jangan panic buying oseltamivir tanpa resep. Jika ragu, tanya apoteker.

5. Tahu kapan ke dokter. Jika demam lebih dari 3 hari, sesak napas, atau anak lemas tidak mau minum, segera ke fasilitas kesehatan.

Musim pancaroba pasti datang setiap tahun. Yang bisa kita kendalikan adalah kesiapan kita. Dengan mengenali gejala dan melakukan swamedikasi yang bijak, maka kita bisa melindungi diri dan keluarga.

Teks: Hadriani Pudjiarti | Foto: Istimewa