Sofie dan Cerita Akar Budaya yang Berpindah

Jakarta, Kirani – Perancang Sofie selalu menyajikan hal berbeda pada setiap peragaannya. Di panggung Jakarta Fashion Festival JF3 2026, pemilik nama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini menghadirkan “Roots in Transit.”

Inspirasinya, Sofiie mengamati tentang genarasi urban yang hidup di antara dua dunia: di satu sisi ingin terus membawa tradisi, di sisi lain ingin terus bergerak menuju masa depan.

“Akar budaya yang terus melangkah atau berpindah, Kami membawa akar ke mana pun kami pergi.” demikian peryataan singkat Sofie.

Perancang kelahiran Jember, 9 Maret 1969 dan pemilik label Sofie Design ini memang terkenal dengan karya busana siap pakai (ready-to-wear), gaya monokrom, edgy, genderless, serta perpaduan estetika streetwear dengan menggunakan wastra Nusantara.

Menurrut Sofie, budaya bukan sesuatu yang tertinggal di masa lalu, melainkan identitas yang hidup, bergerak, dan terus tumbuh bersama generasi urban masa kini. “Hal ini juga selaras dengan visi brand kami yang memadukan streetwear dengan identitas budaya Indonesia dalam bahasa visual yang kontemporer,” kata Sofie seperti tertulis dalam siaran persnya.

Secara keeluruhan, memang koleksi Roots in Transit ini mengangkat pengalaman generasi urban yang hidup di antara warisan budaya dan ritme kota yang terus berubah.

Dalam peragaan ini, Sofie menawarkan DNA desain dekonstruktifnya sebagai identitas urban Indonesia. Koleksi ini tidak sekadar menghadirkan busana siap pakai, tetapi membangun dialog antara tradisi dan kehidupan metropolitan.

Hadirkan Siluet Longgar

Desainer yang sukses mengangkat tema arsitektur, pola alam, dan geometris modern dalam rancangannya, seperti tema “Urban Morphology” dan “Iconic Fluidity” ini menghadirkan siluet longgar dan style utilitarian  atau gaya berpakaian yang mengutamakan kegunaan, manfaat, atau faedah praktis dari suatu hal disbanding dengan keindahan, seni, atau teori semata.

Berangkat dari kegelisahan terhadap pakaian sehari-hari yang terasa seperti pengulangan, Sofie pun memutuskan untuk membongkar struktur yang selama ini sudah akrab.

Sebagai contoh kemeja bergaris vertikal. Ia merupakan salah satu elemen paling klasik dalam menswear, namun kini diterjemahkan ulang. Melalui permainan draperi, potongan asimetris, dan kerah yang ditegakkan tegas, menjadi sebuah kemeja dengan ritme baru.

Kemudian dengan penambahan tarikan garis di bagian pinggang menciptakan dimensi arsitektur dan terlihat setiap siluet tampak hidup, dan tetap nyaman untuk dikenakan sehari-hari.

Sofie juga menambahkan tali crossbody bertekstur dengan semburat warna oranye, hitam, dan putih. Aksen ini memperkaya keseluruhan tampilan.

Lewat sentuhan kecil tersebut, terlihat pertemuan menarik antara estetika artisan dan energi streetwear modern.

Ketika dipadukan dengan ankle boots hitam bersol tebal, seluruh koleksi memancarkan karakter urban chic. Ia tampil fungsional dan berani, namun tetap relevan dengan ritme gaya hidup kota yang terus bergerak.

Sofie memang menyajikan inspirasi melalui beskap yang dihadirkan kembali melalui konstruksi siluet modern.

Dan cara berkain pun tidak ditampilkan secara langsung, melainkan melalui teknik layering dan permainan proporsi yang lebih kontemporer. Melalui detail  konstruksi yang berakar pada kearifan lokal tetap terasa namun tidak literal.

Kemudian Sofie juga menghadirkan penggunaan wastra sebagai aksen penguat cerita, bukan sebagai elemen utama. Dengan cara ini, Sofie meyakini interpretasi budayanya akan terasa segar, tetap matang dan berwibawa. Ya, malam itu Sofie memang hadirkan cerita akar budaya yang terus melangkah.

Teks: Hadriani Pudjiarti I Foto: JF3 2026