Bogor, Kirani – Yogyakarta terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan; kutipan dari puisi penyair Joko Pinurbo memang sangat mengena tentang Yogya. Bagi kami, Yogya memang selalu menerbitkan rindu yang tak pernah usai.
Setiap langkah dan kehidupan di Yogya tak mudah dilupakan begitu saja. Yogyakarta selalu menawarkan pengalaman yang membuat banyak orang ingin kembali lagi. Itu yang menjadi alasan keberadaan Warung Temon yang terletak di kawasan Ahpoong Eco Art Park, tepatnya di Jalan Insinyur Haji Juanda, Sentul, Bogor.
Meski baru berusia dua tahun, Warung Temon langsung menarik perhatian pelanggan dari Sentul, Bogor, bahkan Jakarta. Selain menyajikan nuansa pedesaan Jawa Tengah yang kental, Warung Temon ini juga dilengkapi dengan cita rasa khas Yogyakarta. Bangunan utama berupa rumah joglo yang dikelilingi oleh taman hijau dan ornamen khas Jawa seperti anyaman bambu serta ornamen kayu lawas, mampu menghadirkan ‘rasa Yogya’ yang pas.

“Saat datang tadi di halaman parkir, saya dibuat nyesss di hati banget, jadi ingat Yogya. Bagus banget! Bangunan mewakili Jawa Tengah dan Yogya, tapi memang kurang luas yah? Soal rasa masakan yang dimiliki yang Warung Temon memang mewakili lidah Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Rina, seorang pelanggan yang berasal dari Jakarta Utara.
Rina, datang bersama tiga orang temannya hanya untuk menikmati makanan makan siang dan menikmati suasana sambil leyeh-leyeh. Beberapa sudut dihias menyerupai ikon Pasar Beringharjo dan angkringan Jogja, menciptakan kesan autentik dan nostalgia bagi para pengunjung yang rindu akan kampung halaman.

Menurut Manager Warung Temon, Hadie Zulkiflie, Warung Temon ini memiliki konsep eco art park, di mana elemen seni, budaya, dan kuliner berpadu secara harmonis. Membuat para pelanggan Warung Temon seperti dibawa ke Yogya atau kembali ke kampung halaman.
“Warung Temon, konsep berdirinya karena kami ingin memberikan nuansa rindu terhadap Yogya dan Jawa. Tidak hanya pada bangunan joglonya yang dibawa langsung dari Yogya, tapi juga pada masakan kami langsung melakukan riset dan belajar langsung ke tempatnya,” jelas Hadie.
Ragam Masakan Khas Jawa Meninggalkan Kesan
Rasa autentik khas Jawa Tengah yang dimiliki Warung Temon meninggalkan kesan khusus di hati pelanggan, sehingga tak heran bila kebanyakan dari mereka selalu ingin kembali. Sama seperti Yogya yang membuat orang selalu ingin kembali.
Beberapa menu favorit di warung ini adalah, Gudeg Krecek yang disajikan dengan porsi mengenyangkan, gudeg di sini memiliki rasa manis-gurih khas Jogja dengan krecek yang lembut dan ayam suwir melimpah.

Kemudian Nasi Goreng Temon dengan porsi besar, dilengkapi isi seafood dan sayuran yang menambah cita rasa khas pedesaan. Dan salah satu andalan yang menurut Hadie sangat diminati adalah Mangut Lele.
Aneka ragam minum tradisional juga ditawarkan, mulai dari Wedang Jahe, Sekoteng, Ronde, Es dawet, dan Es campur, menu terakhir ini cukup unik karena menggabungkan rasa asam-pedas dari rujak dengan manis dan dinginnya es krim khas Jogja.
Namun, kalau boleh sharing, menu favorit Tim Kirani adalah Bubur Manis, yang merupakan campuran antara bubur sumsum, ketan hitam, biji salak dan pacar cina. Campuran antara manis dan gurihnya terasa begitu pas di lidah.

Bukan hanya itu, di pintu masuk, terdapat juga penjual es goyang kampung dan jamu tradisional, menambah pengalaman kuliner yang otentik. Bahkan, ketika kita memasuki bangunan utama, harum aroma teh seakan menyapa dan memanggil mengenal Warung Temon lebih dekat.
Dari segi menu, tempat dan suasana, konsep yang diusung Warung Temon terbukti berhasil bukan hanya memikat, tetapi juga memberi kesan yang menyenangkan.
“Kami tidak akan mengubah konsep, tapi kami akan terus melakukan inovasi terhadap menu dan rasa untuk terus memberikan kepuasan kepada pelanggan,” tutup Hadie.
Teks/Foto : Tim Kirani.

