Jakarta, Kirani – Banyak hal berubah sejak pandemi melanda pada tahun 2020, salah satunya adalah industri logistik. Masyarakat yang harus diam di rumah lalu memilih belanja secara online dan dampaknya adalah bermunculan perusahaan kurir yang baru. Persaingan di industri ini yang awalnya hanya dilakoni oleh beberapa nama saja, seperti TIKI dan PT Pos Indonesia, tiba-tiba saja menjadi rebutan banyak nama. Lalu bagaimana TIKI menghadapi situasi ini?
Didirikan pada 1 September 1970 oleh Alm. Bpk Soeprapto Suparno dan Ibu Hj. Nuraini Soeprapto Suparno, TIKI (PT Citra Van Titipan Kilat) merupakan pionir industri kurir di Indonesia. Bergabungnya Alm. Bp Irawan Saputra, Bpk Gideon Wiraseputra dan Bpk Raphael Rusmadi pada tahun 1972, memperkuat perusahaan baru ini.
Di usia menjelang 55 tahun, TIKI harus bersaing dengan banyak perusahaan kurir baru yang bermunculan. Direktur Utama TIKI, Yulina Hastuti, yang juga merupakan anak kedua dari pasangan Alm. Bpk Soeprapto Suparno dan Ibu Hj. Nuraini, menceritakan perjalanan perusahaan.
“Terus terang tidak mudah sama sekali, waktu awal dibangun, kantor TIKI terletak di sebuah bangunan kecil di belakang salah satu apotik yang berlokasi di Jalan Raden Saleh. Hingga akhirnya mulai berkembang, apotik tersebut pun berubah menjadi kantor pusat TIKI. Berawal dari hanya beberapa karyawan, kini TIKI telah memiliki 3.700 karyawan di seluruh Indonesia dengan 1.700-nya berkantor di Jakarta,” jelas Yulina dalam sebuah wawancara terbatas.
Azas Kekeluargaan
Berbeda dengan perusahaan lain, sejak awal dibangun, TIKI menganut azas kekeluargaan yang sangat kuat. Contoh, apabila sedang kunjungan ke agen-agen di luar kota, usai membicarakan bisnis di meja kantor, para pendiri TIKI selalu meminta agen tersebut untuk mengajak keluarganya makan malam bersama. “Sebagai generasi kedua, kami selalu menjaga apa yang sudah diajarkan dan terus menjalankan hal ini,” terang perempuan yang akrab disapa Lena ini.
Prinsip kekeluargaan ini juga berlaku terhadap karyawan. Beberapa karyawan yang pernah bekerja di tempat lain merasakan perlakuan yang sangat berbeda dibandingkan tempat bekerja sebelumnya. Tak heran, turnover karyawan TIKI dapat dikatakan sangat rendah.

Produk Unggulan dan Inovasi
Memiliki segmen pasar 60% corporate dan 40% retail, produk unggulan TIKI yang sejak lama menjadi andalan adalah ONS (One Night Service), yang menjamin pengiriman dalam waktu satu hari.
Namun, tidak berhenti di situ, dengan banyaknya pesaing yang bermunculan, TIKI melakukan berbagai inovasi, seperti:
– Penguatan aplikasi dan sistem pembayaran real-time.
– SRP (Fish Delivery) – pengiriman ikan hias dan tanaman hias dengan izin resmi.
– TIREX (TIKI Kirim Reptil Ekspres) – layanan untuk komunitas penggemar reptil.
– FROOZY – pengiriman makanan beku dengan armada berpendingin.
“Kami tidak melihat kompetitor sebagai pesaing, tapi sebagai motivasi untuk terus berinovasi. Saya melihat apa yang bisa kami lakukan, serta mencari solusi atas kebutuhan masyarakat,” papar Yulina.
Berkaitan dengan berkembangnya bisnis online, TIKI menyasar langsung para UMKM yang menggunakan fasilitas media sosial untuk menjual produk mereka. Dengan TIKI SERLOK (Seller Online Booking), para pelaku UMKM mendapatkan begitu banyak kemudahan seprti free pick-up, diskon yang cukup besar, hingga pelatihan, bahkan mereka juga berkesempatan untuk berpromosi melalui aplikasi TIKI. Ini merupakan upaya TIKI mendukung kelompok industri ini agar terus berkembang.
Dengan inovasi dan pengembangan jaringan yang terus dilakukan, salah satunya pemanfaatan teknologi berbasis AI dan optimalisasi SDM, TIKI berhasil mempertahankan pertumbuhan hingga 15-25% per tahun.
Pesan dari Sang Ayah
Sempat merasa bimbang dengan kehadiran para kompetitor, Yulina berkonsultasi dengan sang ayah yang lalu memberinya pesan mendalam yang lalu dijadikannya pegangan hidup dan arah perusahaan hingga saat ini, yaitu:
1. Utamakan pelanggan.
2. Perhatikan kesejahteraan karyawan.
3. Jangan lupa berbagi dengan anak yatim.
Pada kesempatan tersebut, Yulina juga menjelaskan sejarah TIKI-JNE yang awalnya berada dalam satu naungan. Namun, karena perbedaan fokus bisnis, akhirnya TIKI dan JNE beroperasi secara terpisah, dengan manajemen masing-masing.
Teks dan foto: Setia Bekti

