Jakarta, Kirani – Daewoong merilis obat terbarunya bernama Crezet. Obat ini merupakan kombinasi obat Ezetimibe dan Rosuvastatin untuk turunkan kadar LDL tubuh.Daewoong Pharmaceutical Indonesia memperkenalkan opsi baru yang digadang menjadi terobosan bagi pasien risiko rendah hingga risiko sangat tinggi.
Perusahaan farmasi asal Korea, Daewoong Pharmaceutical Indonesia, baru merilis obat terbarunya bernama Crezet. Obat ini merupakan kombinasi obat Ezetimibe dan Rosuvastatin. “Obat ini membantu menurunkan kadal LDL-C, lebih rendah dan lebih cepat,” kata Head of Indonesia Business Division sekaligus Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia Baik In Hyun pada akhir November 2025.
Melalui peluncuran obat kombinasi tetap Ezetimibe–Rosuvastatin, terapi ini dirancang bekerja dalam dua jalur sekaligus yakni menekan produksi kolesterol di hati serta mengurangi penyerapan kolesterol dari saluran cerna. Dengan mekanisme ganda tersebut, penurunan LDL-C dapat dicapai lebih optimal meski pada dosis rendah, sehingga memberikan peluang keberhasilan terapi lebih cepat dibanding penggunaan statin tunggal.
Peluncuran resminya berlangsung dalam simposium ilmiah di JW Marriott Hotel Jakarta, (29/11/25), menghadirkan lebih dari 170 dokter spesialis jantung dari Indonesia dan Korea Selatan. Para pakar menekankan bahwa pendekatan dual-mechanism therapy bukan lagi sekadar alternatif, melainkan arah baru tata laksana dislipidemia modern.
Dalam diskusi klinis, para ahli sejalan menyampaikan bahwa penurunan LDL-C yang cepat dan signifikan sangat berkaitan dengan pencegahan kejadian jantung pada jangka panjang. Ketua PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, mengungkapkan bahwa pencapaian target kolesterol di Indonesia masih jauh dari ideal.
“Lebih dari 80% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C 70 mg/dL, dan hanya 8,5% yang mencapai target risiko sangat tinggi 55 mg/dL,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip yang ditekankan European Society of Cardiology (ESC) sangat jelas: semakin rendah dan semakin cepat dicapai, semakin baik. Karena itu, memulai terapi kombinasi sedari awal dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan statin dosis tinggi.
Sejalan dengan itu, Prof. Won Ho Youn dari Korea Selatan memaparkan hasil beberapa penelitian seperti ACTE (2011) serta RACING (2022), yang menunjukkan bahwa terapi kombinasi memberikan penurunan LDL-C lebih besar dengan risiko efek samping lebih rendah. Hal ini sekaligus menguatkan bahwa terapi dual-pathway mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan jangka panjang, sebuah poin krusial dalam manajemen penyakit kronis.
Daewoong menghadirkan tiga pilihan dosis yakni 10/5 mg, 10/10 mg, dan 10/20 mg, termasuk tablet kombinasi 10/5 mg pertama di Indonesia. Pilihan dosis ini memungkinkan dokter memberikan terapi lebih presisi sesuai tingkat risiko kardiovaskular masing-masing pasien. Selain itu, penggunaan dosis lebih rendah membantu menekan efek samping tanpa mengurangi efektivitas penurunan kolesterol.
Dalam sambutannya, Mr.Baik In Hyun, Head of Indonesia Business Division sekaligus Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyatakan bahwa kehadiran obat kombinasi ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk menghadirkan terapi yang inovatif dan berbasis bukti klinis.
Daewoong menegaskan bahwa langkah ini bukan akhir, melainkan pembuka jalan menuju era pengobatan lipid management yang lebih agresif, terstruktur, dan berbasis data klinis global. Dengan meningkatnya akses ke terapi kombinasi ini, diharapkan pasien di Indonesia memiliki peluang lebih besar mencapai target LDL-C dan menurunkan risiko kejadian kardiovaskular di masa mendatang.
Teks: Ratna Kamil | Foto: Daewoong.

