Sore

SORE: Istri Pemenang Piala Citra FFI 2025

“Terimakasih kepada suami saya, selamanya…”

Jakarta, Kirani – Kalimat itu adalah potongan kata sambutan yang diucapkan Sheila Dara saat memenangkan Piala Citra FFI 2025 kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik, dari film “Sore: Istri Dari Masa Depan”. Saat itu, kamera mengarah ke Vidi Aldiano, suami Sheila Dara yang terlihat begitu bangga dan terharu atas prestasi sang istri.

Bukan hanya Vidi, seluruh Indonesia sepertinya ikut meneteskan air mata haru. Ya, akting Sheila Dara di film “Sore: Istri Dari Masa Depan” memang begitu luar biasa. Berpadu dengan kepiawaian Yandi Laurens sang sutradara yang juga memenangkan Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik, tak heran bila penonton film ini begitu fanatik, rela menonton hingga 3-4 kali, bahkan ada yang sampai 7-8 kali. Luar biasa!

Sebagus apakah film yang berhasil meraih empat piala citra di FFi 2025 ini? Mari kita bahas.

Diadaptasi dari web series fenomenal (2017) berjudul sama, sebagian mengira, film garapan Yandi Laurens ini berupa kepanjangan cerita web seriesnya. Namun, ketika akhirnya tayang, hampir semua penonton speechless, usai pemutaran menonton film.

Berkisah tentang perempuan bernama Sore (Sheila Dara) yang melakukan time travel–kembali ke masa lalu untuk mengubah gaya hidup suaminya, Jonathan (Dion Wiyoko), menjadi lebih baik dan berumur panjang. Cerita yang sekilas nampak sederhana.

Di awal bahkan ekspresi Sore seperti dibuat-buat, ketika Jonathan, fotografer asal Indonesia yang tinggal di Grožnjan-Kroasia, terbangun dan terkejut melihat perempuan asing di ranjangnya, dan mengaku sebagai istrinya yang datang dari masa depan.

Sore berusaha mengubah pola makan Jonathan menjadi lebih sehat, juga membuang rokok dan minuman keras pria itu. Hingga suatu malam ia memergoki Jonathan merokok secara sembunyi-sembunyi, ia marah lalu berkata,”Kita ulang lagi dari awal yah.” Kemudian hidungnya berdarah dan ia terjatuh.

Detik berikutnya, adegan berulang. Sore kembali terbangun di samping Jonathan. Saat itulah penonton yang semula duduk santai, langsung menegakkan duduknya dan serius menatap layar. Detik itulah kita paham, ini adalah adegan yang sama yang harus dilalui Sore untuk ke sekian kalinya.

Tiga Hal Yang Tidak Bisa Diubah…

Adegan tersebut terus berulang. Membuat kita sebagai penonton ikut merasakan betapa lelahnya Sore. Ia harus mengulang dan terus mengulang, mencari apa yang salah dari semua usahanya. Hingga sampai di satu titik, ia menyerah. Ia berusaha mencari pekerjaan, dan bertemu Marco, desainer dan pemilik butik di Zagreb, kota yang berbeda dengan tempat Jonathan tinggal.

Kehidupan Sore sempat tenang beberapa waktu. Hingga suatu hari, Jonathan dan tunangannya, Elsa, datang ke butik untuk memesan busana pengantin. Raut tidak bahagia tergambar di wajah Jonathan. Pasangan tersebut terlibat adu mulut, dan akhirnya putus. Sore dan Marco menjadi saksi atas kejadian tersebut.

Saat itu Sore teringat ucapan Marco,”Ada tiga hal yang tidak bisa kita ubah: masa lalu, rasa sakit, dan kematian.” Diucapkan saat pria tersebut menyadari kedatangan Sore ke Zagreb hanya berbekal pakaian dan sepatu yang dikenakannya. Ia mengira Sore ditinggalkan oleh kekasihnya.

Perempuan itu pun menghampiri Marco dan bertanya, “Marco, kau percaya manusia akan berubah?”

“Tentu saja, hanya saja mereka dapat berubah jika dari dalam,” jawab Marco.

Sore kemudian memeluk Marco dan pamit. Pria bijak itu pun paham, Jonathan lah kekasih Sore.

Kemarahan Sang Waktu

Melanjutkan misi dengan cara pandang berbeda, Sore berusaha memahami Jonathan. Ia menikmati menit demi menit yang dilalui bersama sang suami, meski harus mencurangi waktu.

Ia juga berusaha meredam amarah Jonathan terhadap ayahnya. Namun, semakin lama, waktu semakin tidak berpihak kepadanya. Perubahan siang dan malam datang jauh lebih cepat dari biasanya.

“Jangan biarkan aku ditelan waktu ya…” Begitu pesan Sore kepada Jonathan, ketika merasa waktu semakin menghimpitnya. Berputar semakin dan semakin cepat, seperti tidak mengijinkan ia mengubah keadaan.

Sore, perempuan yang melakukan time travel, demi bisa hidup lebih lama bersama sang suami, terjebak dalam time loop yang berulang dan terus-menerus. Akhirnya ia pasrah ketika ‘waktu’ yang marah karena telah dipermainkan olehnya, menghukumnya.

Ketika layar ditutup, seperti banyak penonton lain, penulis diam terpaku di tempat, sebelum akhirnya keluar dengan perasaan tak menentu. Yandi Laurens, Sheila Dara, Dion Wiyoko dan semua tim telah menghadirkan pengalaman menonton  luar biasa, yang harus diakui, baru kali ini ada di Indonesia. Sinematografi yang memanjakan mata, alur yang kaya makna, ketegangan yang berulang, musik dan segala hal magical didalamnya,  membuat film ini memang tak cukup untuk ditonton hanya satu kali saja.

Setelah keberhasilan film sebelumnya, “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” yang meraih 7 Piala Citra, kini “Sore: Istri Dari Masa Depan” berhasil memboyong 4 Piala Citra, sepertinya wajar bila ada ungkapan “In Yandi Laurens we trust.”

Teks: Setia Bekti | Foto: Cerita Films