Jakarta, Kirani – Siapa yang tak kenal dengan pesona yang dimiliki oleh Gunung Rinjani di Pulau Lombok? Destinasi Gunung Rinjani bukan sekedar destinasi pendakian favorit, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, legenda, dan filosofi lokal yang sangat kaya.
Dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Secara administratif, Rinjani membentang di wilayah empat kabupaten sekaligus: Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Utara.
Namun daya tariknya melampaui batas administratif, karena gunung ini menjadi simbol alam sekaligus budaya yang menyatu dalam kehidupan masyarakat. Tak sedikit pendaki dari dalam dan luar negeri yang terpikat oleh keindahan alamnya yang lengkap, mulai dari sungai, danau, air terjun hingga jalur pendakian yang memikat. Salah satu daya tarik utamanya adalah Danau Segara Anak. Terletak di ketinggian 2.000 mdpl, danau ini memiliki luas 11.000 meter persegi dan kedalaman mencapai 230 meter.
Nama Rinjani sendiri ternyata menyimpan akar sejarah panjang, yang tak bisa dilepaskan dari cerita rakyat, tradisi, hingga aspek linguistik masyarakat Lombok. Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata “rinjani” berarti tinggi dan tegak, yang merefleksikan kondisi geografisnya sebagai salah satu puncak tertinggi Indonesia.
Akan tetapi, makna itu hanyalah pintu masuk menuju pemahaman lebih dalam tentang hubungan spiritual masyarakat dengan gunung ini.
Dalam berbagai cerita rakyat, nama Rinjani diyakini berasal dari sosok perempuan sakti bernama Rara Anjani, yang kemudian berubah menjadi Renjani, dan akhirnya menjadi Rinjani seperti yang dikenal saat ini. Bukti jejak nama ini masih hidup di masyarakat, seperti pada penamaan Desa Anjani di Lombok Timur dan Gedung Dewi Anjani di Mataram.
Kisah Rara Anjani berkembang menjadi legenda tentang Dewi Anjani, putri Raja Datu Taun dan Dewi Mas, yang menepi ke gunung setelah mengalami peristiwa tragis dalam hidupnya. Ia lalu melakukan pertapaan dan dipercaya diangkat menjadi ratu jin yang bersemayam di puncak Rinjani. Kekayaan cerita dan budaya yang ada disekitar Gunung Rinjani merupakan kearifan lokal yang harus dihormati dan tak lekang oleh waktu.

Pesona Gunung Rinjani juga yang menarik dari Juliana Marins untuk mendaki dan membuktikan langsung pesonanya. Tapi malang tak dapat ditolak, Juliana ditemukan terperosok dan mengakibatkan kematiannya. Kontan saja ini menjadi berita yang mengagetkan sehingga Gunung Rinjani menjadi sorotan media begitu gencar.
Pendaki tersebut terperosok ke jurang sedalam 600 meter di lereng menuju puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu, 21 Juni 2025. Kasus ini membuka mata semua pihak untuk membenahi tata kelola wisata pendakian agar aman dan nyaman.
Kearifan Lokal
Kearifan lokal yang dimiliki Gunung Rinjani, sangat disadari oleh Rara Wilis Kencana atau biasa disapa Alice. Dalam melakukan program Alice 7 Summits 2025, Alice mengakui banyak hal dipelajari dalam melakukan sebuah pendakian.
Program Alice Summits 7 2025 ini dirancang oleh Alice dalam rangka terapi penyembuhan telapak kaki kanannya yang cidera. Semua berawal dari bulan Agustus 2024, ketika dirinya mengalami cedera di bagian kaki sebelah kanan. Bukan cedera ringan, melainkan ada keretakan di bagian telapak kaki, di tengah kesibukan pekerjaannya yang padat merayap.
Pada Oktober 2024, dokter mengimbaunya untuk mulai melepas sepatu khusus, juga mulai melakukan olahraga ringan, seperti jalan dengan jarak yang panjang karena otot kaku setelah berbulan-bulan menggunakan sepatu khusus.
Setelah merasakan kenikmatan wisata alam, Alice kemudian mencoba untuk merasakan sensasi wisata alam yang lain. Hal ini membuat perempuan yang sudah memiliki cucu ini berkeinginan untuk naik gunung.
“Setiap gunung pasti menyimpan misteri dan cerita rakyat yang mengiringi keberadaan mereka. Itu kenapa kita perlu mengenali karakter gunung, masyarakat dan kebudayaan yang ada, sebagai penghormatan pada kearifan lokal yang dimiliki suatu daerah,” kata perempuan berdarah campuran Jawa dan Belanda ini.
Rara menyadari bahwa dalam mendaki gunung kita tidak boleh arogan, sombong dan perlu kerja sama tim.
Ketegangan masih terasa saat Alice dan tim memulai perjalanan pada Jumat, 27 Juni 2025. Di awal pendakian, setelah melintasi sabana dari Pos 2 menuju Pos 3, Alice sempat berhenti dan bertanya kepada seluruh anggotanya, mau terus naik sampai Puncak Gunung Rinjani atau balik badan kembali ke Basecamp Sembalun.
Hal yang sama juga Alice tanyakan saat berada di jalur ekstrem Letter E, apakah mereka masih ingin melanjutkan ke puncak atau turun kembali. Jalur yang berbatu, berpasir, dan berpapasan langsung dengan jurang curam membuat suasana terasa mencekam.
Ada banyak cobaan dan halangan dalam melakukan pendakian Gunung Rinjani, sehingga tak jarang ada keraguan tapi berkat kerja sama tim maka semua itu dapat teratasi. Di tengah perjalanan menuju puncak, Alice bahkan sempat dua kali meminta pertimbangan tim: apakah lanjut atau turun. Namun, jawaban tim tetap satu: “Summit!”

“Saya ingin mencapai Puncak Gunung Rinjani bersama seluruh anggota tim pendakian saya. Kalau saja ada satu orang yang tidak sanggup saya tidak akan memaksa sampai ke puncak. Alhamdulillah akhirnya semua sampai. Bahagia sekali dapat merayakan hari ulang tahun saya yang ke-57 tahun bersama seluruh anggota tim Alice 7 Summits 2025,” ujarnya.
Alice mencatatkan prestasi luar biasa. Pada 28 Juni 2025, perempuan berusia 57 tahun ini sukses mencapai Puncak Gunung Rinjani (3.726 mdpl) sekaligus merayakan ulang tahunnya di atas ketinggian.
“Alhamdulillah saya sungguh bersyukur akhirnya sukses menyelesaikan program Alice 7 Summits 2025 melakukan pendakian di puncak tertinggi tujuh gunung di Indonesia. Dari tujuh gunung itu tiga di antaranya merupakan gunung tertinggi di tiga provinsi,” ungkap Alice pada Kirani.id di Penang Bistro, Jakarta Selatan, Sabtu (5/7).
Diakui oleh Alice, pesona Rinjani memang indah dan menyimpan banyak cerita. “Pada intinya kita harus menghormati alam dan jangan pernah melawan. Jangan melakukan perkataan kotor dan pikiran kita harus jernih. Kerja sama tim harus terus terbangun dan harus diskusi dengan guide yang membawa kita,” ungkapnya.
Selama lima bulan, Alice mendaki tujuh gunung dengan total 18 hari pendakian, tidak termasuk bulan Maret karena fokus ibadah Ramadan. Gunung-gunung yang didaki semuanya berada di atas 3 ribu mdpl, enam di Pulau Jawa dan satu di Lombok.
“Mendaki gunung bukan perkara menaklukkan gunung tersebut, tapi lebih menjaga, merawat dan mencintai ciptaan Allah SWT. Itu sangat saya pegang dan ditanamkan oleh kami saat melakukan program ini,” ujar Alice.
“Untuk mewujudkan mimpi kita, diperlukan kerja keras, perencanaan matang, mengetahui kekurangan dan kelemahan sendiri, kesiapan fisik dan mental, dan didukung tim yang bersatu untuk mewujudkan mimpi kita menjadi kenyataan,” tutupnya.
Teks : Galuh | Foto : Tim Alice Summits 7

