Pertarungan Pendekar Nomor Wahid dalam Lakon “Sri Eng Tay” Melalui #NontonTeaterDiRumahAja

Jakarta, Kirani – Kreativitas kakak beradik Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto (alm) memang seakan tak pernah habis. Bahkan di penghujung umurnya, alm. Djaduk masih sempat menghadirkan karya-karya yang indah untuk dinikmati. Beberapa karya apiknya telah dihadirkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation melalui program #NontonTeaterDirumahAja. Dan pada akhir pekan ini, penikmat seni dapat kembali menyaksikan kakak beradik yang super kreatif ini bekerja sama dengan Agus Noor dan Bre Redana yang tergabung dalam Indonesia Kita, dalam lakon Sri Eng Tay.

 

Lakon Sri Eng Tay ditayangkan pada Sabtu, 1 Agustus 2020 dan Minggu 2 Agustus 2020 pukul 15.00 WIB di website www.indonesiakaya.com serta channel YouTube IndonesiaKaya. Sebuah tayangan yang merupakan rekaman dari pementasan Indonesia Kita yang diselenggarakan pada 28-29 Oktober 2016, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

 

 

Lakon ini mengambil warisan cerita legendaris Tionghoa kepada publik berjudul Sri Eng Tay dengan balutan Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan. Dimeriahkan oleh para pemain senior seperti Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Yu Ningsih, Trio Gam (Gareng, Joned, Wisben), Henky Solaiman, Hans Huang, Alena Wu, Febrianti Nadira, Flora Simatupang, Fitri Wahab,  Vivi Yip, Mira Rompas, Bulgari (Kelompok Wushu Jakarta). Serta Tim Artistik oleh Ong Hari Wahyu dan Pemusik dari Jakarta Street Music.

 

“Alur cerita pada pementasan kali ini mengangkat tema silat yang sangat kental, mulai dari musik hingga kehadiran Bulgari (Kelompok Wushu DKI Jakarta) sebagai penguat cerita pada pementasan ini. Segala aspek yang membuat penonton dapat membuka ruang imajinya akan cerita silat di masa lampau. Semoga penayangan Sri Eng Tay dalam kegiatan #NontonTeaterDiRumahAja mampu mengajak penikmat seni bernostalgia dan memberikan hiburan bagi para penikmat seni tentang cerita silat di Indonesia,” ujar Butet Kartaredjasa.

 

 

Cerita dimulai dengan suasana duka dan gelisah sebuah perguruan silat bernama “Go Bi Pai”, yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Suasana gelisah ini diakibatkan beredarnya kabar tentang munculnya seorang pendekar akan membunuh suhu mereka. Tidak main-main, pendekar ini dikabarkan telah berhasil merenggut banyak nyawa para pendekar hebat.

 

Para anggota perguruan mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk apabila suhu besar atau guru besar mereka akhirnya tewas. Bahkan sebelum suhu mereka benar-benar tewas, para murid telah menyiapkan upacara kematiannya, bahkan mereka juga membicarakan siapa yang akan menjadi pengganti bila suhu mereka tewas. Ancang-ancang ini berkembang menjadi suatu perebutan, intrik dalam perguruan yang semakin menggelisahkan, karena sang suhu belum juga mewariskan jurus pamungkasnya.

 

 

Jurus pamungkas itu ternyata hanya akan diwariskan kepada Eng Tay. Jurus yang hanya bisa dimainkan oleh perempuan, dan bila dipelajari oleh lelaki, akan membuat lelaki itu akan menjadi “keperempuan-perempuanan”. Namun, Eng Tay sudah lama  pergi dari perguruan itu, tak jelas kemana. Banyak kabar burung berkata tentang kepergian Eng Tay yang tak jelas kebenarannya. Rupanya semua itu adalah siasat para pendekar untuk menjadi Pendekar Nomor Wahid di dunia persilatan, yang membuat banyak perguruan silat berkumpul dan menghimpun kekuatan masing-masing. Pada saatnya nanti para pendekar yang misterius itu muncul dan pertarungan besar pun terjadi. Siapakah yang memenangkan pertarungan?

 

“Melalui kegiatan #NontonTeaterDiRumahAja, Indonesia Kita kerap menyuguhkan pementasan yang memiliki ciri khas tersendiri. Dengan Lakon yang mengangkat cerita tentang salah satu seni bela diri silat yang mengandung nilai-nilai budaya tradisional Indonesia yang dapat dikembangkan, serta dilestarikan bagi generasi penerus. Oleh karena itu kami berharap, beragam hiburan yang kami tayangkan dapat menambah wawasan dan meningkatkan semangat cinta budaya, cinta Indonesia kepada para penikmat seni, terutama generasi muda,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

 

 

Teks Setia Bekti | Foto Dok. Indonesia Kaya

 

 

Facebook Comments