Nycta Gina; Bukan Ibu Bertanduk, Tapi Ibu Kreatif

Jakarta, Kirani – Menjadi seorang ibu dalam mendidik anak-anak di rumah memang harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan. Ibu adalah figur penting bagi tumbuh kembang anak-anaknya, apalagi dalam menciptakan suasana belajar bagi mereka. Hal ini disadari oleh Nycta Gina, sebagai ibu dari dua orang anak yang sangat aktif. 

Nycta Gina memiliki cara unik dalam mendidik anak-anaknya di rumah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dia memahami bahwa setiap anak memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda, sehingga ia berusaha menghadirkan metode yang kreatif dan interaktif.

Banyak mencari tahu dan belajar untuk menciptakan suasana edukatif agar anak-anaknya tidak bosan. Melalui permainan edukatif, bercerita, hingga eksperimen sederhana, Nycta Gina memastikan anak-anaknya tetap antusias dalam mengeksplorasi berbagai pengetahuan baru.

Pendekatan ini dilakukan agar tercipta proses belajar tidak terasa membosankan, melainkan menjadi pengalaman yang seru dan penuh makna bagi buah hatinya.  

“Saya ciptakan suasana belajar dengan membuat momen senang sehingga membangkit mood yang bagus bagi keduanya. Terbukti cara ini sangat ampuh membuat mereka menikmati, meski dibutuhkan kesabaran yang ekstra,” kata Nycta Gina, dalam Konferensi Pers Peluncuran CSR Oreo Berbagi Serunya Berilmu, di Jakarta, Senin 17 Maret 2025.

Menciptakan hubungan ibu dan anak yang erat dengan cara memahami karakter anak dan selalu kreatif menciptakan suasana belajar

Mengenal karakter anak menjadi syarat penting bagi seorang ibu untuk dapat mengetahui apa saja yang yang membangkit mereka untuk belajar. Misalnya, anak pertama Nycta Gina akan lebih mudah menyerap pelajaran dalam kondisi perut yang kenyang, sementara adiknya lebih suka belajar sambil berjoget dan bermain.

Sebisa mungkin, Nycta Gina mengikuti keinginan anak-anaknya daripada memaksakan cara belajarnya sendiri. “Anak-anak belajar  harus menyenangkan, begitu belajarnya happy, semua mudah. Buat ibunya juga mudah, apalagi yang harus dipelajari, semuanya mudah,” jelasnya.

Memiliki dua anak dengan gaya belajar yang berbeda kerap membuat Nycta Gina kebingungan. Namun, cara paling ampuh baginya adalah komunikasi dengan anak-anak tersebut.

Nycta Gina akan berusaha mengikuti mood dan keinginan sang anak dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Daripada belajar terlalu serius, anak-anak Nycta Gina justru lebih mudah memahami materi ketika belajar sambil bermain. 

“Anak-anak aku kalau disuruh belajar kayak merasa disuruh melakukan sesuatu yang nggak menyenangkan. Tapi kalau diajak main pasti semangat. Jadi yang harus diperbaiki bukan cuma anak-anaknya tapi juga gurunya. Apalagi pendidikan paling dini adalah keluarga,” paparnya.

Selain itu, Nycta Gina juga menekankan pentingnya suasana hati orang tua ketika mengajarkan sang anak. Mood orang tua atau pengajar yang sedang baik dan bahagia akan mempengaruhi sikap anak-anak dan kemampuannya dalam menyerap pelajaran.

“Terus belajar dalam pola pembelajaran anak, menjadi syarat penting bagi saya, agar mereka tidak mengenal ibu yang bertanduk lagi. Saya ingin mereka mengenal ibu yang kreatif, fun, dan asik dalam menikmati belajar dan bermain bersama,” urainya.

Bermain dan Belajar

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, seorang ibu ditempa oleh keadaan yang membuatnya harus belajar.

“Yang penting kita sebagai orang tua happy dulu, nanti insyaAllah output positif keluar ke anak. Kalau kita stres duluan, nanti kebawa aura negatifnya ke anak-anak. Makanya penting tahu karakter anak masing-masing seperti apa, metode belajarnya seperti apa supaya bisa diserap dengan baik,” jelas Nycta.

Perlunya mengenal karakter anak, sehingga dapat membantu dalam proses pembelajaran (Dok.IG Nycta)

Bermain merupakan salah satu kegiatan yang berpengaruh positif untuk perkembangan anak. Khususnya, bisa membantu anak melatih kemampuan sensorik dan motorik. Dari kecil, ia mengaku sudah membiasakan anak-anaknya untuk bermain (sensorik) fisik.

Salah satu anaknya mengalami speech delay. “Anak aku ada beberapa delay, motorik halus dan kasar, konsentrasi, dan fokusnya. Waktu itu sempat terapi, salah satunya jangan bermain gadget. Main aja yang bisa melatih motorik kasar dan halus supaya anak bisa duduk diam dan diukur konsentrasinya,” kata dia.

Nycta mengatakan bahwa kadang ia tidak bisa memahami apa yang dibuat oleh anaknya. Hal ini dikarenakan anak-anak sudah bisa berimajinasi dan berpikir lebih kritis.

Sebagai perempuan yang memiliki banyak peran, Nycta harus pintar-pintar mengatur waktu antara mengurus keluarga dan pekerjaan. Itu sebabnya, ia menerapkan konsep Work Hard Play Hard.

“Karena kita adalah orangtua pekerja, lebih ke momen buka puasa dan sahur kalau bisa selalu sama-sama (dengan keluarga). Tapi, kita usahakan kalau Ramadan bisa berkumpul, makan, ngobrol. Killing time-nya adalah main,” ujar sosok yang tenar karena karakter Jeng Kelin itu.

Teks : Galuh | Foto : Mondelez Indonesia