balet

Ngabuburit Asyik dengan Balet

Jakarta, Kirani – Selama bulan Ramadan, banyak orang melakukan Ngabuburit. Ya, Ngabuburit merupakan tradisi khas yang dilakukan selama bulan Ramadan di Indonesia. Sebuah kegiatan santai mengisi waktu menjelang berbuka puasa atau menunggu saat azan Magrib berkumandang.

Nah, istilah Ngabuburit ini berasal dari Bahasa Sunda, ngalantung ngadagoan burit, yang berarti bersantai menunggu waktu sore. Kini, Ngabuburit menjadi sebuah aktivitas yang lekat selama Ramadan. Meliputi mengaji, tadarusan atau membaca Al Quran, mendengarkan ceramah keagamaan, berburu takjil, jalan-jalan, berkumpul bersama atau kegiatan lainnya. 

Aktivitas ini umumnya dilakukan antara usai salat Ashar di sore hari hingga sebelum matahari terbenam atau menjelang malam hari. Bagi banyak orang, Ngabuburit dinilai memiliki tujuan positif yaitu untuk mengalihkan rasa lapar dan haus, serta mengisi waktu produktif. Di berbagi daerah di Indonesia seperti Minang, dikenal juga dengan Malengah Puaso, lalu di Banjar disebut Basambang, dan di Madura dikenal Nyarè Malem.

Di Kawasan Pejaten, Jakarta Selatan ada Sekolah Balet Natalenta. Ya, di sekolah balet ini  para murid-muridnya memiliki jadwal latihan pada pukul tiga, empat dan lima sore hari hingga pukul delapan dan sembilan malam.

Ngabuburit Sambil Latihan Balet
Rosalina Esther Tampubolon , S.Si, ARAD, RAD RTS

Menurut Rosalina Esther Tampubolon , S.Si, ARAD, RAD RTS, pemilik dan guru di Sekolah Balet Natalenta, murid-muridnya memiliki jadwal latihan setiap sore mulai Senin hingga Sabtu. Dengan jadwal kegiatan seperti itu, maka selama Ramadan ini secara tak langsung kegiatan tersebut sering bisa disebut sebagai bagian dari Ngabuburit.

“Menurut saya sebenarnya para murid yang berlatih balet di sini dengan jadwal waktu latihan mereka di sore hari maka ya mau tak mau jadi berasa seperti Ngabuburit. Kalau kemudian dibilang Ngabuburit asyik ya boleh saja, meski esensinya tidak seperti itu,” ujar Ester ketika ditemui pada beberapa waktu lalu di Kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Ester merupakan sosok perempuan yang sudah menekuni dunia balet selama hampir 43 tahun. Sekolah Balet Natalenta yang didirikannya menjadi sebuah lembaga tari dengan sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 2002.

“Jujur, kami bangga menyediakan pendidikan tari yang komprehensif dan beragam yang mencakup balet klasik, jazz yang memikat, dan kebebasan gerakan kreatif. Dan melalui talenta muda yang sedang berkembang hingga orang dewasa yang bersemangat, sekolah kami dengan hangat menyambut siswa dari segala usia dan tingkat kemampuan,” kata ibu tiga anak ini tentang sekolah yang dipimpinnya.

Kembali pada Ngabuburit dengan balet, Esther mengatakan tidak bisa dianggap mutlak sebagai sebuah kegiatan yang asyik. “Kalau sebagai Ngabuburit yang dilakukan para murid-murid yang memiliki kegiatan atau latihan balet bisa disebut demikian. Mereka berlatih balet dalam keadaan puasa sambil menunggu jam berbuka karena jadwal latihan mereka atau seperti di Sekolah Balet Natalenta, biasanya mulai sore hingga  malam,” kata Esther menjelaskan.

Namun Esther menegaskan bahwa sejatinya berlatih balet itu penuh dengan gerakan-gerakan yang menguras energi. “Bisa dikatakan asyik karena bergerak lincah ke sana-sini, meski ya sejatinya balet itu menguras energi. Seseorang yang dalam keadaan riang atau perasaan gembira bisa tetap harus totalitas dengan balet karena semua gerakannya mengeluarkan energi,” pungkas Esther.

Teks : Hapudji | Foto : Istimewa