NARA-Gadis Pantai Pemberani, Sebuah Lakon Karya Teater Djarum

Jakarta, Kirani – Hidup adalah sebuah perjuangan. Memang tak mudah, namun semangat berjuang itu yang akan membawa kita tetap tegar dalam menghadapi badai persoalan yang datang silih berganti. Demikian kurang lebih pesan yang ingin disampaikan melalui  NARA, sebuah lakon besutan Teater Djarum yang digelar pada 8 September 2018 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Ditulis dan disutradarai oleh Asa Jatmiko, selama kurang lebih 60 menit, lakon NARA mengisahkan seorang perempuan sebatang kara bernama Nara, yang tinggal di pesisir pantai bersama bocah kecil ceria bernama Gendhuk dan Ibu dari Gendhuk, yang sudah menganggap Nara seperti anak sendiri. Nara merupakan perempuan cantik, cerdas, pemberani dan kerap ikut melaut untuk membantu warga pesisir lainnya mencari ikan. Suatu ketika, Nara dibawa secara paksa ke Kotapraja oleh penguasa pesisir yang bernama Gola. Merasa tidak terima dipisahkan dengan Nara, Gendhuk dan Ibunya pun ikut bersama Nara ke Kotapraja.

Di Kotapraja segalanya terpenuhi, Nara, Gendhuk, dan Ibu Gendhuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus berusaha keras. Namun kemudahan itu tidak serta merta membuat Nara bahagia, di Kotapraja Nara merasa kemerdekaannya direnggut, karena dijauhkan dari warga-warga pesisir yang ia cinta, suasana pantai, dan ombak yang menjadi sumber keceriaannya.

Waktu pun berjalan hingga kemudian Gola tiada dan kemudahan- kemudahan yang didapatkan Nara, Gendhuk dan Ibu Gendhuk pun hilang, segala kebutuhan yang awalnya terpenuhi mulai menghilang. Nara kini harus membayar pajak kepada Wira, pemimpin baru di Kotapraja. Sebagai sosok yang selalu bersemangat dan berusaha, Nara tidak menyerah. Nara membuka usaha galeri bersama seorang pengusaha bernama Prana. Kesuksesan bisnis Nara membuat Wira geram dan akhirnya membakar galeri milik Nara. Bukan hanya usahanya saja yang hilang, Nara juga harus kehilangan Gendhuk, ibu Gendhuk, dan Prana. Nara yang merasa putus asa, akhirnya bangkit dengan semangat yang membara dan memulai semuanya kembali dari awal.

“Lakon NARA merupakan simbolisasi dari semangat hidup yang tidak pernah menyerah. Nara yang beradaptasi dengan cara berpikir, budaya dan gaya hidup yang berbeda dengan apa yang biasa ia rasakan. Melalui sosok Nara ini kami ingin mengajak penikmat seni untuk selalu bersemangat, gigih dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan dan masalah di dalam kehidupan, seperti api yang menyala, selalu menerangi dan memberi semangat bagi sekitarnya” ujar Asa Jatmiko.

Teater Djarum sendiri merupakan kelompok seni pertunjukan yang menjadi wadah ekspresi dan berbagai gagasan estetika para karyawan PT. Djarum, dan terdiri dari seluruh lapisan dan berbagai departemen. Beraangotakan 35 orang, Teater Djarum terus berproses dan bermetamorfosa, berusaha menjadi kelompok teater yang semakin baik, indah, dan karyanya dapat memberi manfaat pembelajaran dan penyadaran bagi anggota dan organisasinya. Jumari HS, Yudhi Ms, dan Asa Jatmiko merupakan sosok-sosok pendiri Teater Djarum, dengan dukungan penuh Thomas Budhi Santoso dan Oey Riwayat Slamet. Termasuk di dalamnya ada Adi Pardianto ketika masih di Kudus, sempat turut mengawal dan mengolah Teater Djarum.

Teks : Tya Handayani

Foto : Image Dynamics

Facebook Comments