Mengulik Masa Lalu Lewat Rasa di Lidah

Jakarta, Kirani – Berbicara Medan, tentu kita tahu bahwa kota ini terkenal dengan kuliner yang kaya rasa. Semua rasa itu mewakili budaya multikultural dan menjadi ikon klasik dari Medan yang membuat wisatawan selalu terkenang.

Sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia, Kota Medan, Sumatera Utara memiliki banyak pilihan makanan yang mampu menggoyang lidah pecinta wisata kuliner. Tak lengkap rasanya ke Medan, bila tak berkunjung ke Kawasan Kota Tua Kesawan yang menjadi pusat revitalisasi memadukan sejarah dan kuliner.

Kawasan ini menciptakan pengalaman “Medan The Kitchen of Asia” dengan nuansa tempo dulu dan UMKM kuliner modern, menjadikannya destinasi penting untuk merasakan warisan kuliner klasik dan kekinian. 

Kawasan Kesawan dikenal sebagai kawasan kota tua Medan, arsitektur kolonial Belanda yang megah berdiri di sepanjang jalan, memberikan nuansa klasik yang memikat, Sejarah Kesawan dimulai sejak zaman kolonial Belanda, di mana daerah ini menjadi pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat elit pada masa itu.

Jalan Kesawan menjadi Jalan Ahmad Yani setelah dilakukan revitalisasi (Dok. Pemkot Medan)

Tidak hanya menawarkan pemandangan kota tua yang mempesona, tetapi juga menjadi surga bagi para pecinta kuliner. Berbagai jenis makanan dapat ditemukan di sini, mulai dari kuliner tradisional Medan hingga hidangan internasional, pengunjung dapat mencicipi berbagai makanan khas Medan seperti Bihun Bebek, Soto Medan, hingga Durian Ucok yang legendaris.

Ada dua tempat yang selalu menjadi ikon dan didatangi bila berkunjung ke Medan, yaitu Tip-Top Restaurant dan Soto Kesawan. Dua tempat legendaris yang selalu menjadi incaran bagi wisatawan yang berkunjung ke Medan.

Rangkuman Cerita dan Rasa

Bak merangkum sebuah cerita, maka sangat tepat bila Tip-Top Restaurant mewakili cerita sepanjang sejarah penjajahan dan usia yang berhasil dilewatinya. Restoran Tip-Top didirikan oleh Bapak Jangkie, membuka toko roti di Jalan Pandu pada tahun 1929. Toko tersebut dinamai sesuai nama pendirinya sendiri, “Jangkie”.

Pada tahun 1934, Bapak Jangkie memindahkan toko rotinya ke Jalan Kesawan (sekarang bernama Jalan Ahmad Yani) dan mengubah nama toko rotinya menjadi Restoran Tip-Top. Selama invasi besar-besaran Jepang (1942-1945), nama “Tip-Top” dilarang. Karena itu, pendiri mengubah kembali namanya menjadi “Jangkie”.

Restoran bernama Tjang Kie sesuai dengan nama pendirinya, bolak-balik mengalami perubahan nama karena penjajahan di Indonesia. Baru setelah Indonesia merdeka digunakan nama Tip-Top Restaurant hingga sekarang. (Dok. Tip-Top Restaurant)

Tepat setelah Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pendiri kembali mengganti namanya menjadi Restoran Tip-Top hingga sekarang. Restoran ini tetap mempertahankan konsep, tradisi, dan resep lama dari masa lalu untuk para pelanggannya.

Kenangan restoran ini terukir di sepanjang dinding restoran dengan banyak foto-foto masa lampau. Tip-Top tidak hanya terkenal dengan makanan dan kue-kue lezatnya, tetapi juga merupakan bagian dari warisan sejarah Indonesia karena merupakan salah satu restoran tertua di Indonesia.

Salah satu menu andalan dan banyak dicari pembeli yang sangat klasik dan ngangenin. (Dok. Tip-Top Restaurant)

Berbagai menu masakan Tip-top dari western, oriental dan Indonesia banyak disukai para pelanggannya, dengan cita rasa yang unik dan otentik. Sebagai restoran klasik berusia hampir satu abad, Menu andalan seperti steak, nasi goreng spesial, hingga es krim buatan sendiri menjadi daya tarik utama restoran ini.

Soto Segar Mengikat Rasa

Tak ada spesial pada tampilan warung soto ini, tidak terlalu besar tempatnya, lampunya yang temaram. Tapi yang sangat mencuri perhatian adalah tampilan udang di etalase depannya, eh ini soto, kok ada udangnya? Makanan yang satu ini selalu laris dan diminati oleh banyak orang di Medan, bahkan mampu habis terjual hanya dalam waktu tiga jam saja setiap hari kerja.

Warung Soto Kesawan yang sederhana dan memiliki sajian yang lezat. (Dok. Kirani)

Soto Kesawan dikenal sebagai soto legendaris yang telah berdiri dari 1950-an, soto ini mengandung racikan yang unik dengan pilihan soto daging, soto ayam dan soto udang. Mau santap kuah santan, maka pilihan yang sering dituju adalah Soto Kesawan.

Menu andalannya, Soto Udang, menyajikan cita rasa unik dengan kuah bening gurih berpadu dengan udang segar. Selain Soto Udang, kamu juga bisa menikmati Soto Ayam dan Soto Daging yang tak kalah lezatnya.

Menu andalan yang banyak dicari pembeli yaitu Soto Udang yang kaya rempah dan segar. (Dok. Istimewa)

Soto ini memakai bumbu kuning dan santan sehingga rasanya gurih berempah, santan yang tak terlalu kental cocok untuk penikmat yang suka datar dengan kuah soto. Ketika menyeruput kuahnya, rasa soto ini sekilas sedikit berbeda dari soto yang pernah pada umumnya di Medan.

Selalu dipadati pelanggan yang hendak sarapan pagi dan makan siang bila masih tersedia. (Dok. Istimewa)

“Karena kan ada manis dan berempah, apalagi dengan udang segar yang digunakan sehingga memberikan rasa manis yang khas. Sering menjadi tempat sarapan pagi, bagi orang-orang Medan,” kata Mirna asli Medan.

Sebenarnya tidak hanya dua kuliner ini saja yang memiliki perjalanan panjang usia mereka, ada juga Rumah Makan Sinar Pagi, Warung Kopi Apex, Es Krim Soda Legendaris, Sate Memeng dan lainnya.

Teks : Galuh.