Menanamkan Disiplin Pada Anak, Bukan Dengan Hukuman Lho

Jakarta, KiraniBanyak orang tua enggan mengajarkan disiplin kepada anaknya. Padahal, bila anak tak pernah diajarkan disiplin sejak kecil, maka sampai dewasa nanti ia tidak akan mengerti konsep menghargai orang lain dan mematuhi peraturan serta norma yang berlaku di masyarakat.

 

Sedang asik berbincang dengan teman yang sudah sekian lama tak bersua di salah satu café, tiba-tiba saja obrolan Anda terganggu oleh pekik suara anak-anak kecil yang sibuk berlarian di dalam café. Anda melihat sekeliling, ternyata ibu dari anak-anak tersebut sedang asik berbincang dengan temannya tanpa merasa kalau anak mereka mengganggu kenyamanan Anda dan pengunjung café lainnya.

 

 

Pernah mengalami hal seperti diatas? Kesal? Pasti. Bukan tak mungkin Anda akan bersungut-sungut sambil berucap,”Kok bisa sih tenang saja sementara anaknya mengganggu orang lain? Apa tidak bisa mengajarkan disiplin ke anak?” Seringkali jawaban yang keluar dari orangtua yang membiarkan anaknya berlarian di tempat umum adalah, “Namanya juga anak-anak.” Seakan anak-anak bisa berbuat apapun tanpa perlu ditegur, meski itu berarti mengganggu orang-orang di sekitarnya.

 

Masih cukup banyak orang tua yang enggan mengajarkan disiplin kepada anaknya. Dalam benak mereka mengajarkan disiplin berarti menghukum, dan mereka tak sampai hati menghukum anak mereka yang masih kecil. Padahal, bila anak tak pernah diajarkan disiplin sejak kecil, maka sampai dewasa nanti ia tidak akan mengerti konsep menghargai orang lain dan mematuhi peraturan serta norma yang berlaku di masyarakat. Akibatnya, anak akan tumbuh liar, semaunya sendiri, dan tidak memiliki empati terhadap lingkungan.

 

 

Sebelum semua menjadi terlambat, yuk kita belajar mengenai apa sih disiplin itu. Benarkah mendisiplinkan anak harus dengan hukuman? Sejatinya, mengajarkan anak disiplin bukan berarti setiap kali anak berbuat salah maka harus dihukum. Mendisiplinkan anak adalah mendidik anak untuk mengetahui dan memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan, serta membantu mereka untuk mempelajari kontrol diri dan menemukan alternatif penyelesaian masalah.

 

Kapan tepatnya Anda dapat memulai mengajarkan disiplin kepada anak? Disiplin dapat mulai dikenalkan sedini mungkin. Yang pertama adalah beri pengertian kepada anak mengenai aturan serta alasan di baliknya agar anak memahami mengapa aturan itu penting. Bahkan saat anak belum memahami kata per kata, melalui intonasi dan nada bicara yang tepat, orang tua dapat membuat anak memahami bahwa ada beberapa rutinitas yang harus dilakukan. Seiring waktu, anak akan lebih memiliki pemahaman verbal, ia pun akan lebih memiliki kemampuan untuk memahami tujuan dari diterapkannya sebuah aturan.

 

Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam menerapkan disiplin. Tentu saja komunikasi yang disesuaikan dengan usia, perkembangan, kebutuhan serta kepribadian anak. Anda dapat mengenalkan peraturan misalnya dari permainan atau kegiatan sehari-hari. Misalnya, biasakan anak untuk tidur di jam tertentu, meski ia masih asik melakukan sesuatu, tapi wajibkan ia untuk tidur bila memang sudah waktunya, dan minta ia menghentikan apa yang sedang dilakukan saat itu.

 

 

Dalam menanamkan disiplin Anda perlu menghindari pemberian hukuman yang merendahkan, mempermalukan, dan menimbulkan rasa takut. Pemberian hukuman seperti itu memang biasanya efektif untuk menghentikan perilaku buruk segera. Akan tetapi dapat menimbulkan akibat yang negative, seperti anak menjadi pasif tidak berdaya, atau sebaliknya menjadi agresif, atau selalu menghindari orangtuanya.

 

Selain itu, penting untuk menghindari penerapan hukuman yang tidak tepat karena akan mempersulit terbentuknya disiplin. Salah satu bentuk penerapan disiplin yang tidak tepat seperti tidak konsisten, penerapan disiplin yang diiringi teriakan, pukulan atau hukuman yang meningkat, juga mengandalkan satu penerapan disiplin untuk setiap kondisi. Hal-hal seperti ini cenderung tidak berhasil menerapkan disiplin pada anak. Yang selalu penting untuk diingat adalah sesuaikan penerapan disiplin dengan usia anak, tahapan perkembangan, kebutuhan dan kepribadian anak.

 

 

Teks : Setia Bekti Foto : Dok. Istimewa

 

 

Facebook Comments