Kenangan Indah Berpadu Konflik Dalam Teater Daring “Rumah Kenangan”

Jakarta, Kirani – Rumah adalah tempat kita pulang. Saat raga lelah, saat jiwa merana, kembali ke rumah selalu membawa kesejukan bagi hati yang mendamba. Namun, apa jadinya bila rumah tak mampu memberikan kesejukan? Bila kenangan manis yang pernah terukir di dalam rumah tertutup oleh sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang rasanya ingin dilupakan.

 

“Rumah Kenangan”, pertunjukan teater pertama persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Titimangsa Foundation yang digelar secara daring, pada 15-16 Agustus 2020. Pementasan yang dapat disaksikan di www.indonesiakaya.com ini didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Yats Colony, dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo.

 

Happy Salma sebagai Mutiara Wijaya dan Butet Kartaredjasa sebagai Raden Wijaya

 

Seperti kita ketahui bersama, selama pandemi ini begitu banyak pertunjukan seni yang terpaksa harus dibatalkan. Pekerja seni pun kehilangan mata pencarian. Pementasan teater “Rumah Kenangan” seakan menjadi jawaban dari kondisi ini. Dilakukan tanpa penonton dan ditayangkan secara daring, “Rumah Kenangan” berkisah tentang enam manusia dengan beragam karakter, yang diikat oleh persaudaraan. Pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk berada dalam satu rumah setelah sebelumnya terpencar. Dan dengan keberadaan mereka di dalam satu rumah, segala yang selama ini terpendam, perlahan-lahan terbuka di dalam sebuah Rumah Kenangan.

 

Mengedepankan protokol kesehatan, proses persiapan pementasan ini dimulai dari latihan yang diadakan melalui aplikasi Zoom, dengan pemain dan sutradara yang berada di beragai kota di Indonesia. Saat tiba waktunya, semua tim baik pemain dan kerabat kerja menjalankan rapid test dengan hasil non reaktiv, kemudian dikarantina di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Semua akses keluar maupun masuk pun ditutup dan siapapun yang tidak berkepentingan dengan proses produksi, dilarang masuk. Pengecekan suhu badan serta keharusan mencuci tangan pun diterapkan setiap kali masuk ruangan, selain juga suplemen kesehatan yang selalu tersedia untuk menjaga semua tetap dalam kondisi sehat.

 

Ratna Riantiarno sebagai Amelia Wijaya dan Butet Kertaradjasa sebagai Raden Wijaya

 

Cerita yang dicetuskan oleh Happy Salma ini diproduseri juga oleh Happy Salma dan Butet Kartaredjasa. Sementara itu naskah ditulis oleh Agus Noor yang juga bertindak sebagai sutradara di pementasan ini. Menampilkan nama-nama yang berdidikasi di teater maupun film seperti Butet Kartaredjasa, Ratna Riantiarno, Happy Salma, Reza Rahadian, Susilo Nugroho dan Wulan Guritno, pementasan ini juga melibatkan jejeran kerabat kerja yang telah malang melintang di dunia seni pertunjukan, yaitu Iskandar Loedin dan Deden Jalaludin Bulqini sebagai Penata Artistik, Indra Ing sebagai Penata Musik, Retno Ratih Damayanti sebagai Penata Kostum dan FourColors Production sebagai Tim Alih Media.

 

“Proses ini berlangsung kurang lebih 2 bulan. Singkat padat dan bergizi. Semua kisah berpusat di satu rumah dengan beragam kejadian masalah keluarga. Saya deg-degan juga. Tidak tahu jadinya akan seperti apa. Saya hanya memikirkan bahwa bersama kawan-kawan, panggung harus bergerak. Harus ada langkah nyata bahwa kita masih hidup. Betul yang diucapkan Sutradara dan Penulis Naskah Agus Noor, bahwa kita mencintai pilihan profesi kita, kita melakukan sepenuh hati dan menyerahkan pada semesta setelahnya,”papar Happy Salma.

 

Reza Rahadian sebagai Randy Wijaya dan Wulan Guritno sebagai Mona

 

Happy juga menambahkan, “Pentas dilakukan seperti pada umumnya pementasan, tidak ada cut to cut kecuali perpindahan set. Walau ini teater daring, tapi keasyikan permainan teater dan ruang peristiwa rasanya tetap terjaga. Tapi tentu energi magis menonton langsung tak akan pernah bisa tergantikan.”

 

Sementara itu, Renitasari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation mengungkapkan,“Seni pertunjukan selama masa pandemi mengalami mati suri karena sifatnya yang harus mengumpulkan banyak orang di tempat tertutup secara fisik. Dalam pertunjukan teater daring “Rumah Kenangan” ini, Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Titimangsa Foundation mencoba menghadirkan formula baru dalam menyelenggarakan dan mengapresiasi seni pertunjukan. Seni sebagai salah satu media yang paling berhasil dalam merespon situasi sehingga kesenian selalu berkembang sesuai zaman dan media kesenian dapat beradaptasi dengan beragam kemungkinan. Kami berharap jika formula ini berhasil dilakukan dan mampu mengumpulkan banyak penonton, seni pertunjukan di Indonesia dapat kembali hidup dan menggeliat.”

 



Teks Setia Bekti | Foto Dok. Indonesia Kaya

 

Facebook Comments