Jakarta, Kirani – Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2025 resmi digelar. Tahun ini, berlangsung di dua mal besar di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (25/7) sampai Minggu (27/7). Kemudian berlangsung di Summarecon Serpong, Tangerang pada Rabu (30/7) hingga Sabtu (2/8).
Acara malam gala dinner pembukaan JF3, Kamis (24/7) di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara, dihadiri President Director Summarecon Agung Tbk Adrianto Adhi, dan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.
Chairman JF3, Soegianto Nagaria, mengatakan,”JF3 telah berhasil menjadi magnet industri fesyen nasional dan internasional dengan menyelenggarakan pameran berskala besar, runway berstandar nasional, serta menghadirkan lebih dari 650 model dan profesional industri tiap tahunnya.”
Beliau menjelaskan melalui program seperti Future Fashion Award dan PINTU Incubator, JF3 turut membantu dan memfasilitasi pertumbuhan desainer muda berbakat untuk membawa merek lokal ke level global.
JF3 menjadi sebuah refleksi dari komitmen untuk menjaga keberlanjutan industri mode Indonesia. “Melalui semangat ini, kami berharap fesyen Indonesia dapat berkembang menjadi kekuatan baru yang relevan dan mampu bersaing di industri mode global yang dinamis tanpa kehilangan akar budaya.”
Soegianto juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Pemprov DKI Jakarta, serta seluruh mitra strategis dan komunitas kreatif yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang JF3 hingga kini.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan acara JF3 ini relevan dengan arah pembangunan nasional yang digariskan dalam Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas dan mengembangkan industri kreatif sebagai kekuatan baru ekonomi nasional.

Fesyen dan Kuliner Indonesia Jadi Indentitas Kreatif Mendunia
Teuku Riefky menyebut fesyen dan kuliner memang menjadi unggulan. “Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 5 tahun, fesyen dan kuliner menjadi sub sektor ekonomi kreatif unggulan yang perlu didukung semua pihak.”
Menurutnya, kedua sub sektor ekonomi kreatif ini berada dalam klaster kreativitas berbasis budaya dan desain. Fesyen dan kuliner Indonesia telah berkembang menjadi identitas kreatif yang mendunia. Dan melalui JF3, industri kreatif mendapat panggung untuk mempertemukan para desainer, pegiat ekraf, media, pemerintah, dan masyarakat sebagai ruang kolaborasi yang menampilkan keragaman bangsa dalam bentuk paling indah serta membanggakan.
“Inilah saatnya kita bahu-membahu menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, the new engine of growth yang digerakkan talenta lokal, warisan kearifan bangsa, dan inovasi tanpa henti,” ujar Teuku Riefky.
JF3 2025 mengusung tema “Recrafted: A New Vision”, dengan semangat yang mendorong para desainer lokal dan pengrajin tradisional untuk menampilkan keindahan wastra Nusantara dalam balutan gaya modern dalam industri mode. Selain itu, juga memberikan ruang penting, menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar.
Menghadirkan lebih dari 45 desainer dari Indonesia, Thailand, Laos, Vietnam, Korea Selatan, dan Prancis, para desainer Indonesia yang berpartisipasi di JF3 kali ini adalah Adith, Howard Laurent, Adrie Basuki, Sofie, Hartono Gan, Ernesto Abram, desainer Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), desainer Indonesia Fashion Chamber (IFC) hingga Lakon Indonesia.
Kemudian berbagai merek juga berpartisipasi seperti Metamorph by Zack, Be Spoke, Brilianto, Nes By HDK, Asha, Abbey by Ariy Arka, dan Future Loundry.
Menampilkan pula karya para desainer internasional serta karya kolaborasi kreatif antara desainer luar negeri dengan jenama Indonesia. Salah satunya ada Victor Clavelly, desainer muda Prancis yang pernah berkolaborasi dengan berbagai selebritas dunia seperti Beyonce, Rick Owens, FKA Twigs hingga Katy Perry.
Tak ketinggalan, JF3 2025 ini juga menghadirkan lebih dari 50 merek terkurasi, meliputi kategori ethnic apparel atau pakaian etnik, modern apparel atau pakaian modern dan perhiasan.
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto : JF3

