Terbitlah Terang

Gema Suara Kartini pada Pementasan Terbitlah Terang

Jakarta, Kirani – Museum Nasional Indonesia bergema sore itu. Suara para Kartini muda seakan menghidupkan kembali segala ide dan pemikiran sang pejuang emansipasi. Melalui pementasan Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini, yang digelar Senin, 21 April 2025, Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation mengajak para seniman multigenerasi, untuk bersama-sama memberikan penghormatan terhadap pemikiran, perjuangan, dan jiwa seorang Raden Ajeng Kartini, sosok yang hingga hari ini masih menjadi nyala api bagi perempuan dan bangsa Indonesia.

Surat-surat yang dibacakan ini diambil dari ⁠buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, terbitan Lentera Dipantara 2006 dan buku Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899-1904 karya Wardiman Djoyonegoro, Jilid 1, terbitan Pustaka Obor 2024.

Kartini menulis surat pertamanya pada usia 16 tahun, kepada salah satu sahabat penanya, Estelle (Stella) Zeehandelaar, seorang aktivis feminisme di Belanda. Melalui surat-surat ini, Kartini tak hanya memperlihatkan kecerdasan dan kepekaan sosialnya, tetapi juga keberanian untuk menggugat struktur sosial yang timpang dan membungkam suara perempuan.

Maudy Ayunda dan Reza Rahadian

“Pementasan Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini ini tidak sekadar mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan emansipasi, tetapi juga sebagai perempuan visioner yang meletakkan dasar kesadaran diri, kesetaraan, dan keberanian berpikir. Melalui surat-suratnya yang jujur dan menggugah, Kartini menunjukkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk merasakan, merenung, dan menyuarakan kebenaran yang diyakini. Ini menjadi momen penting bagi generasi muda untuk merefleksikan makna perjuangan dan melanjutkan semangat Kartini di masa sekarang,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Happy Salma, Pendiri Titimangsa mengatakan bahwa kita tidak hanya mengenang Kartini sebagai tokoh sejarah, tetapi merayakannya sebagai refleksi bagi setiap manusia—perempuan maupun laki-laki—yang terus berjuang memahami pikirannya, meresapi perasaannya, dan mengekspresikan keduanya secara jujur.

Happy Salma

“Membaca surat-surat Kartini bukan sekadar menyelami sejarah, tetapi menapaki ruang batin seorang perempuan yang berani bermimpi dan berpikir melampaui batas-batas zamannya. Merayakan Kartini adalah merayakan keberanian untuk mengenal diri dan menyuarakan nurani. Kartini telah membuktikan bahwa suara seorang perempuan, ketika jujur pada pikirannya dan setia pada hatinya, memiliki kekuatan untuk mengubah arah sejarah,” ujar Happy Salma.

Para seniman ternama Indonesia: Christine Hakim, Ratna Riantiarno, Reza Rahadian, Marsha Timothy, Maudy Ayunda, Lutesha, Cinta Laura, Chelsea Islan, Happy Salma, dan Bagus Ade Putra, dengan arahan Sri Qadariatin sebagai sutradara, telah berhasil menghidupkan isi hati Kartini yang ditulis lebih dari seabad silam, namun tetap terasa begitu relevan hari ini.

Seperti dikatakan Happy Salma usai pementasan, bahwa dia sudah membayangkan sejak awal siapa akan membacakan apa, sesuai dengan karakter masing-masing. “Yang paling menarik, Bu Ratna ditaruh di awal buat menyampaikan kerangka siapa dia. Kita tahu RA Kartini itu sosok emansipasi perempuan. Gagasannya penting karena dia menulis, bersama Didiet Foundation kami berkolaborasi buat menyampaikan gagasan itu,” terangnya.

Seluruh tim Terbitlah Terang

“Pementasan ini tidak sekadar menjadi bentuk penghormatan terhadap R.A. Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai ruang reflektif bagi publik untuk menelusuri pemikiran dan keberanian perempuan dalam melampaui batas-batas sosial dan budaya zamannya,” tutur Sri Qadariatin.

Pementasan Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini ini juga merupakan bagian dari pembukaan pameran SUNTING: Jejak Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan. Pameran SUNTING merupakan penghormatan atas peran perempuan Indonesia dalam sejarah, dengan Sunting sebagai simbol kekuatan, martabat, dan perubahan sosial.

Teks: Setia Bekti | Foto: Titimangsa