Jakarta, Kirani – Apa sih cantik itu? Pasti banyak jawaban yang akan keluar tentang definisi cantik sesungguhnya. Mungkin bayangan tentang kulit mulus, tubuh langsing, wajah simetris, atau aroma wangi. Tak bisa dipungkiri, standar kecantikan semacam itu telah lama mendominasi cara kita memandang diri dan orang lain.
Kecantikan tidak hanya sekedar tampilan luar, melainkan juga keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa, dan preferensi pangan cukup erat dengan konsep ini. Inilah yang disebut dengan kecantikan holistic.
Apa sih kecantikan holistik? Kecantikan yang dilakukan dengan pendekatan menyeluruh yang berpadu erat dengan wellness.
Menurut Sutamara Lasurdi Noor, Koordinator Food Culture Alliance Indonesia, kesadaran akan kecantikan holistik ini belum diimbangi dengan perubahan gaya hidup yang nyata. Salah satu tantangan terbesarnya adalah preferensi makanan masyarakat yang masih didominasi oleh makanan ultra-proses (Ultra-Processed Foods/UPF).
“Kita rela keluarkan uang untuk skincare mahal, tapi tetap konsumsi UPF yang bisa merusak kesehatan dan mempercepat penuaan kulit. Ini paradoks,” ujar Sutamara saat membuka talkshow Beauty Dialogue bertajuk “A Holistic Perspective: An Exploration on Redefining Beauty and Its Connection to Wellness”, yang digelar oleh Komunitas Eathink menggandeng Food Culture Alliance Indonesia di Jakarta, Sabtu (21/6).

Seiring makin tumbuhnya kesadaran perempuan tentang kehidupan, maka makin bergeser juga makna cantik sekarang ini. Standar kecantikan selalu berubah dari masa ke masa. Sayangnya, perubahan ini kerap menimbulkan tekanan.
“Dulu cantik itu harus kuning langsat, rambut panjang, tubuh tinggi semampai. Padahal perempuan Indonesia punya bentuk tubuh dan warna kulit yang sangat beragam. Tak jarang hal ini membuat perempuan menjadi tertekan untuk memenuhi standar umum,” jelas Puji Maharani, Pengamat Tren Perempuan.
Cantik Dengan Tubuh Ideal
Tubuh seksi dan langsing bak gitar, menjadi mainstream di kalangan perempuan. Berlomba-lomba mereka membentuk tubuh hanya ingin memiliki tubuh Impian. Tak heran, banyak perempuan merasa tertekan untuk tampil sesuai standar.
Diet ekstrem pun sering dijadikan jalan pintas demi mengejar tubuh langsing. Tekanan untuk memiliki tubuh ideal sering kali berdampak pada kesehatan mental.
“Dulu aku sempat naik hampir 40 kg karena eating disorder. Pola makanku berantakan. Setelah belajar mengenali tubuhku sendiri dan memperbaiki gaya hidup, berat badan turun 30 kg,” ungkap Bia Dai, seorang hybrid influencer.
Kini, Bia lebih sadar terhadap apa yang dibutuhkan tubuhnya. Walau bekerja di bidang promosi produk kecantikan, ia mengaku tidak lagi mudah tergoda oleh janji manis iklan. “Meski kerjaanku promosi produk, aku sekarang tahu apa yang tubuhku butuhkan. Aku nggak gampang kemakan iklan,” tambahnya.
Memang kecantikan tidak pernah lepas dari masalah kesehatan yang akan berkaitan dengan pola hidup yang dijalani. “Cantik itu sehat. Apa yang kita makan, itu yang membentuk kulit dan tubuh kita. Sayangnya, masih banyak yang lebih rela beli skincare mahal, tapi pelit untuk beli makanan sehat,” katanya.
Pola makan sehat yang terjaga, memang tidak memberikan hasil instan. Namun, efeknya jauh lebih bertahan lama dan menyeluruh. “Cantik itu tentang conscious of function. Kita harus tahu apa yang kita mau dan butuhkan. Dari situ, kita bisa lebih menghargai tubuh kita sendiri,” jelas Feni Sulistiani, S.Gz, seorang nutrisionis.
Bagi Puji, kecantikan holistik adalah bentuk perlawanan terhadap konstruksi sosial dan tekanan kapitalisme. “Cantik itu tentang conscious of function. Kita harus tahu apa yang kita mau dan butuhkan. Dari situ, kita bisa lebih menghargai tubuh kita sendiri,” jelasnya.
Senada dengan Puji, Fahra Affifa, seorang konsultan riset dari Food Culture Alliance Indonesia menambahkan: “Kecantikan dan penampilan adalah aspirasi semua orang, karena terkait validasi sosial dan kepercayaan diri. Tapi aspirasi itu bisa dicapai lewat gaya hidup sehat, termasuk makanan bernutrisi,” katanya.
Menjadi diri sendiri, tanpa memenuhi validasi umum tentang kecantikan adalah sebuah pilihan yang tepat. Menurut Grace Sita Betania, Retail Marketing, PR & Insight Executive dari The Body Shop Indonesia, tekanan akan citra fisik mulai bergeser ke arah yang lebih inklusif. “Dulu kulit putih dianggap ideal. Tekanan akan citra fisik mulai bergeser ke arah yang lebih inklusif. Seperti, menjadi versi terbaik dari diri sendiri itu sudah cukup. Nggak perlu sempurna,” ujarnya.
Kecantikan holistik bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi tentang mengenali, menerima, dan merawat diri sendiri secara sadar dan penuh kasih.
Setiap perempuan memiliki definisi cantiknya masing-masing. Entah melalui olahraga, tidur cukup, gizi seimbang, pikiran yang tenang, atau rutinitas skincare yang disesuaikan kebutuhan semuanya adalah bentuk self love.
Teks : Galuh | Foto : Istimewa.

