Jakarta, Kirani – Pangku, merupakan film drama di Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Reza Rahadian dalam debut penyutradaraannya. Pada Kamis lalu (20/11), film ini berhasil meraih penghargaan tertinggi sebagai Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2025.
Dalam FFI kali ini yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, film Pangku juga berjaya dengan meraih penghargaan untuk Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Christine Hakim. Lalu Penulis Skenario Asli Terbaik yang diterima oleh Reza Rahadian bersama Felix K. Nesi. Dan selanjutnya film ini juga meraih Pengarah Artistik Terbaik untuk Eros Eflin.
Kemenangan “Pangku” bukan hanya pencapaian personal bagi Reza Rahadian sebagai sutradara, melainkan juga sebuah penanda bahwa sinema Indonesia semakin berani mengangkat isu-isu sosial yang nyata dan berat dengan kualitas produksi yang mumpuni.
Di film yang berdurasi satu jam 44 menit ini boleh dibilang tidak bergenit-genit ria dalam mengumbar sisi wajah atau secuil potret tentang kemiskinan di Indonesia.
Kemiskinan yang tampak di film ini ada dan terjadi di sebuah Kampung Nelayan di Eretan Wetan, Kecamatan Kandang Haur, Indramayu. Potret yang selain menyajikan keindahan alam laut, pasar ikan dan perahu-perahu para Nelayan, juga menyajikan betapa kemiskinan begitu dekat. Hal ini menjadikan para perempuan berjuang demi kelangsungan hidup dengan menjadi penjual kopi berkedok semi prostitusi, yaitu melayani para pelanggan yang minum kopi dan dipangku oleh para pelayannya.
Sartika dan Pantura

Film Pangku menceritakan kisah Sartika Puspita yang diperankan Claresta Taufan. Sartika, seorang wanita muda yang tengah hamil, pergi meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan lebih baik. Akhirnya, Sartika bertemu Bu Maya diperankan oleh Christine Hakim, pemilik kedai kopi, yang menolongnya hingga melahirkan.
Namun kemudian Sartika terjebak untuk melanjutkan hidup dengan bekerja menjadi pelayan di kedai kopi pangku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ya sebagai seorang Ibu, Sartika harus berjuang untuk masa depan terbaik anaknya, mendapatkan kembali kebebasan dan harga dirinya. Secara perlahan Sartika bisa mulai berani keluar dari situasi sulit ini berkat bantuan sopir truk bernama Hadi yang diperankan Fedi Nuril.
Dialog yang lahir di film ini begitu sederhana namun sarat makna. Seperti nukilan protes Bayu, anak Sartika di film ini yang keberatan menyaksikan ibunya harus berjualan kopi sambil dipangku, “Bayu enggak mau lihat ibu dipangku-pangku lagi,” kata bocah lelaki kecil itu ketika ditidurkan ibunya.
Bayu, bocah yang lahir di rumah Bu Maya ini tidak memiliki kejelasan asal-usul siapa ayahnya. Yang jelas, ibunya turun dari truk di kawasan diskotek dangdut kawasan Pantura saat sedang mengandungnya.
Bayu akhirnya menjadi bagian dari perjuangan Sartika sebagai Gadis Kopi Pangku sampai bertemu Hadi yang berhasil membawanya ke luar dari kemiskinan dan profesi tersebut. Kehadiran Hadi juga menjadi penyelamat Bayu yang akhirnya bisa diterima sekolah, setelah sebelumnya ditolak karena tidak memiliki ayah. Kini, ia sudah memiliki akte sekaligus ayah yang bertanggungjawab dan mencintainya.
Kehidupan Normal yang Harus Pupus

Namun kemiskinan, kenistaan dan kegetiran hidup masih terus menyapa dan membalut hidup Sartika. Kebahagiaannya bersama Bayu dan Hadi tak berlangsung lama. Impian menjalani hidup normal dengan berjualan mie ayam seperti mendiang Ayah Sartika saat dirinya kecil, harus pupus dan kembali menerima kenyataan pahit.
Faktanya, Hadi, pria yang dianggapnya sebagai Dewa Penolong ternyata sudah beristri. Bahkan kekayaan serta finansial yang dimiliki Hadi selain dari hasilnya sebagai sopir truk pengantar ikan, ternyata milik istrinya yang menjadi TKW di luar negeri.
Sartika mengkeret tidak berdaya saat didatangi istri Hadi yang menguak siapa Hadi. Termasuk kemampuan keuangan untuk membangun rumah dan menjalani kehidupan normal mereka, ternyata berasal dari jerih payah si istri, yang diperankan oleh Happy Salma.
Menjalani profesi sebagai pelayan Kopi Pangku menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi Sartika. Dia melakukan hal ini sebagai bentuk perjuangan seorang ibu demi masa depan kehidupan anak-anaknya yang terjebak dalam fenomena ini.
Ya, sebagai Ibu Tunggal, Sartika terus berusaha lepas dari kemiskinan yang membelenggu hidupnya. Meski tak bisa dipungkiri, kembali Sartika terseret dan rela menjadi pelayan Kopi Pangku saat mengandung Sekar, buah hatinya dengan Hadi.
Ibu dan Rayuan Perempuan Gila

Pangku menghadirkan karakter-karakter yang berlapis dimensi dengan perspektif humanis. Ada Pak Jaya (Jose Rizal Manua) yang sepanjang film tidak mengucapkan dialog apa pun, tetapi kita bisa menangkap kekuatan karakternya. Lalu Mami Karaoke (Djenar Maesa Ayu) yang menyediakan penyewaan kamar.
Pangku juga menampilkan bagaimana para wanita yang sering dicap negatif, sesungguhnya hanya bertahan hidup dengan pilihan terbatas di tengah krisis moneter 1998, yang jadi latar waktunya. Seperti ketika Sartika dan Bayu yang sedang di kamar, harus menyingkir sementara, karena kamar tersebut akan digunakan temannya untuk melayani hasrat birahi pria hidung belang.
Secara keseluruhan, film Pangku memiliki komposisi kamera yang merekam secara apik. Tidak mengumbar dialog, namun membiarkan ekpresi yang berbicara.
Sebagai pengiring, soundtrack film ini ada lagu “Rayuan Perempuan Gila” dari Nadin Amizah. Lagu besutan Nadin ini menghidupkan suasana berbunga-bunga yang dirasakan oleh Sartika, yang juga membawa penonton dalam suasana romantis.
Film ini menjadi satu-satunya yang mendapatkan izin lisensi dari Nadin Amizah untuk menggunakan lagunya sebagai soundtrack. Selama ini, ia menolak lagunya digunakan untuk berbagai film yang meminatinya. Namun, dengan senang hati ia mengizinkan Pangku menjadi rumah lagu Rayuan Perempuan Gila.
Sementara lagu “Ibu” karya musisi legendaris Iwan Fals, menjadi gong yang menghidupkan film ini dan membawa penonton terhanyut. Lagu yang mengiringi perjalanan Sartika membesarkan Bayu, dengan segala keterbatasannya.
Menariknya, spesial untuk film arahan Reza Rahadian ini, Iwan Fals sampai merekam ulang lagu yang pertama kali dirilisnya pada 1998 silam tersebut. Sebuah totalitas tanpa batas!
Dan mengalunlah lirik lagu ini:
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku, anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas Ibu…. Ibu….
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto: IG @filmpangku

