Film Menuju Pelaminan, Lika-liku Perjalanan Cinta Sarat Perbedaan Budaya

Jakarta, Kirani – Dalam rangka memperingati Hari Ekonomi Kreatif Nasional, PT Produksi Film Negara (PFN) bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menggelar kegiatan nonton bareng film Menuju Pelaminan di Lippo Mall Nusantara.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga simbol kolaborasi antara pemerintah, sineas lokal, dan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif nasional.Film Menuju Pelaminan menjadi salah satu bukti nyata transformasi PFN.

Tak lagi hanya berperan sebagai lembaga produksi, PFN kini memperluas kiprahnya melalui Indonesia Film Financing (IFF) yaitu program pembiayaan inovatif yang dirancang untuk memberikan akses modal bagi rumah produksi kecil dan menengah.

Menuju Pelaminan sendiri adalah proyek perdana dari skema pembiayaan ini, menjadikannya studi kasus penting bagi model pendanaan film berbasis investasi pasar. Disutradarai oleh Yuda Kurniawan dan diproduksi bersama Rekam Films serta Little Green White, film ini menghadirkan kisah yang hangat dan dekat dengan realitas banyak keluarga Indonesia.

Mengisahkan perjalanan cinta Fajar (Bhisma Mulia) dan Rahma (Maizura), dua insan dari budaya berbeda, Jawa dan Minang, film ini menggambarkan betapa rumitnya jalan menuju pernikahan ketika cinta harus melewati bentangan jarak, adat, dan restu keluarga.

Perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Pariaman menjadi simbol perjalanan batin dua keluarga yang harus belajar menerima perbedaan. Di balik tawa, emosi, dan momen haru, Menuju Pelaminan menampilkan bahwa cinta yang tulus mampu menjembatani dua budaya besar sekaligus memperlihatkan keindahan Indonesia mulai dari masjid bersejarah di Cirebon hingga panorama Sumatera Barat.

Film Menuju Pelaminan diproduksi bersama Rekam Films serta Little Green White, film ini menghadirkan kisah yang hangat dan dekat dengan realitas banyak keluarga Indonesia.

Sinema Penggerak Ekonomi Bangsa

Sejak tayang di bioskop pada 16 Oktober 2025, film ini disambut antusias. Rangkaian cinema visit dan nobar di berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Padang mempererat hubungan antara sineas dan penontonnya.

“Responnya luar biasa. Penonton merasa film ini bukan hanya lucu, tapi juga menyentuh. Keberhasilan Menuju Pelaminan akan menjadi penentu keberlanjutan Indonesia Film Financing batch ke-2,” ujar Dirana Sofiah, Project Manager IFF.

Tak sekadar tontonan, Menuju Pelaminan adalah simbol bahwa karya lokal bisa tumbuh lewat dukungan bersama. Jika film ini mencapai target yang ditetapkan, PFN berencana membuka peluang bagi lebih   banyak UMKM film di seluruh Indonesia untuk ikut dalam batch berikutnya.

Harapannya, semakin banyak cerita dari berbagai daerah bisa hadir di layar lebar akan dapat menghibur, menginspirasi, sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif bangsa. PFN mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton film lokal berkualitas, karena setiap tiket yang dibeli adalah bentuk dukungan terhadap masa depan industri kreatif yang mandiri dan berdaya saing.

Teks : Ratna Kamil | Foto : PFN