Jakarta, Kirani – Hari Minggu (15/10/2023) merupakan hari ke 35 penayangan film Air Mata Di Ujung Sajadah yang masih serentak diputar di bioskop XXI, CGV dan Cinemapolis di seluruh Indonesia. Dan di hari ke 35, film ini berhasil meraih tiga juta lebih penonton. Bahkan kini film tersebut juga diputar di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan sebagainya.
Pemutaran film ini memang agak istimewa, mulai tayang sejak 7 September lalu hingga sekarang masih bertahan dan menjadi magnet bagi masyarakat yang ingin menyaksikan sambil tumpah ruah bercucuran air mata sebagai perasaan haru menyaksikan film yang menceritakan keikhlasan tulus seorang ibu melepaskan anak kandungnya.
Film yang mengharu biru ini menampilkan sederet pemain film di Indonesia yang secara kualitas kemampuan aktingnya tidak perlu diragukan lagi seperti Fedi Nuril, Citra Kirana, Titi Kamal, Jenny Rachman, Tuti Kirana, Mbok Tun dan bintang cilik Faqih Alaydrus.
Film garapan sutradara Key Mangunsong ini dipersembahkan Beehave Pictures dan Multi Buana Kreasindo Productions, dengan diproduseri Ronny Irawan dan Nafa Urbach.
Sinopsis Film Air Mata Di Ujung Sajadah
Film ini menyoroti perjalanan hidup dan konflik antara Aqilla (Titi Kamal) dan Yumna (Citra Kirana). Benang merah film ini juga menuturkan perjuangan seorang ibu dalam mendapatkan anak kandungnya kembali setelah dibesarkan oleh keluarga lain.
Kisah ini bermula dari Aqilla yang melahirkan bayi laki-laki dari hasil pernikahannya dengan Arfan (diperankan oleh Krisjiana Baharuddin, suami pedangdut Siti Badriah) yang tidak direstui oleh sang Mama Aqilla, Halimah yang diperankan oleh Tutie Kirana. Namun Arfan meninggal dunia karena kecelakaan motor, dan Aqilla yang masih muda dan buta dengan pernikahan, dalam keadaan hamil besar kembali ke Mamanya.
Di saat itulah, Halimah membohongi Aqilla bahwa bayinya meninggal setelah dilahirkan. Halimah membohongi putrinya lantaran merasa Aqilla belum siap menjadi seorang ibu tanpa suami. Halimah menyuruh Aqilla fokus melanjutkan pendidikannya ke London. Sebelum terbang ke luar negeri, Aqilla sempat mengunjungi makam bayinya yang ternyata makam palsu.
Naluri seorang Ibu, tak menyurutkan rasa cinta dan kasih yang besar dalam diri Aqilla. Setiap ulang tahun putranya sejak usia setahun hingga usia tujuh, Aqilla selalu merayakan dan berdialog sendiri seolah berbincang dengan buah hati tercintanya ini.
Kemudian Halimah, Mama Aqilla memberikan cucunya kepada pasangan yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai buah hati, yakni Arif diperankan oleh Fedi Nuril dan Yumna (Citra Kirana).
Dalam perjanjiannya itu, Halimah mengizinkan cucunya dibawa Arif dan Yumma dan meminta mereka merawatnya dengan catatan harus meninggalkan Jakarta. Dan pasutri ini setuju bersukacita lalu memberikan nama bayinya, Baskara yang berarti Cahaya.

Pergelutan Batin antara Ibu Kandung dan Ibu Adopsi
Setelah tujuh tahun berlalu, Aqilla harus pulang ke Indonesia, Sang Mama sakit dan sebelum meninggal dunia menceritakan bahwa putranya masih hidup. Di sinilah, Aqilla kemudian berjuang untuk mendapatkan kembali anaknya. Dan perjuangan ini jadi pergelutan dan perhelatan batin antara Ibu Kandung dan Ibu Adopsi yang saling memperebutkan Baskara, anak mereka.
Aqilla berdalih Baskara adalah anaknya dan darah dagingnya, sementara Yumna menegaskan meski dia Ibu Adopsi bukan Ibu Biologis tetapi ada air mata dan keringat selama tujuh tahun mendidik, merawat, membimbing Baskara.
Ada dialog mengiris hati Ketika Aqilla menemui Arief dan menuturkan dengan sendu, “Mas, bisa bayangin bagaimana hancurnya hati saya ditolak ketemu oleh anak saya sendiri. Atau bagaimana hancurnya hati saya dibohongi sama ibu saya sendiri bertahun-tahun, saya bahkan enggak dikasih kesempatan untuk mengasih nama kepada anak saya sendiri,” kata Aqilla dengan sangat menyentuh.
Kehadiran Jenny Rachman, bintang senior dan langganan piala Citra sebagai Eyang Putri aktingnya cukup memukau. Sebagai Eyang Putri yang sangat mengasihi dan mencintai Baskara, cucunya yang ternyata bukan darah dagingnya. Akting Jenny begitu bernas berisi bahkan saat mengucapkan istigfar berulang kali mengingatkan kemampuan akting bintang yang pernah berperan di film Kartini, Gadis Marathon, Budak Nafsu, Kabut Sutra Undu dan Doea Tanda Mata ini.
Di film ini sungguh menyaksikan kepiawaian akting Jenny yang tidak terbantahkan. Dengan dialog yang kuat dan memiliki makna mendalam, totalitas Jenny terlihat disini. Beberapa dialog tersebut adalah “Jadi Baskara, anak siapa?” atau “Seburuk apapun situasinya, kita tidak boleh mengotori hati nurani kita sendiri.”
Film ini juga memiliki beberapa kutipan dari penggalan dialog menarik seperti, “Bagaimana kamu bisa merindukan seseorang yang tidak pernah hadir dalam hidup kamu.” Atau ada kutipan, “Kita jangan takut melepaskan apapun, jika ditakdirkan untukmu dia akan kembali serumit apapun alur ceritanya. Dan Ikhlas adalah ending yang paling indah dari setiap perjalanan alur cerita.”
Dialog menarik lain adalah, “Tidak semua orang dipertemukan menjadi teman hidup, kadang ada yang dipertemukan hanya menjadi pembelajaran hidup.” Juga, “Di dunia ini semuanya milik Allah apapun yang Dia ambil dari kita maka kita harus Ikhlas.”
Acungan Jempol untuk Tiga Tokoh di Film Ini
Akting tiga tokoh penting di film ini Fedi, Titi dan Citra patut mendapat acungan jempol. Fedi, sosok yang dianggap piawai berperan sebagai lelaki yang selalu memiliki dua hati atau indentik dengan sosok pria poligami seperti di film yang pernah dibintanginya yaitu Ayat-Ayat Cinta dan Surga yang Tak Dirindukan 1 dan 2.
Citra Kirana juga menjiwai dengan baik sosok Yumma, seorang ibu yang sangat mencintai buah hatinya, Baskara, meski bukan anak kandung.
Dan acungan dua jempol juga diberikan pada Titi Kamal yang memerankan sosok Aqilla dengan elegan. Aktingnya di film ini sungguh mampu menjadi spirit perjuangan seorang ibu yang berjiwa besar dan memiliki keikhlasan tulus.
Sosok Baskara juga diperankan dengan baik dan sangat manis oleh Faqih Alaydrus yang merupakan anak Habib Rifky Alaydrus, seorang tokoh agama dan dewan guru Jalsa Itsnain Majelis Rasulullah dari Jawa Barat,
Menyaksikan film ini memang mengandung bawang alias akan ada nangis bersama di bioskop sepanjang menonton filmnya. Bahkan tim pemain dan kru film setiap menghadiri pemutaran filmnya di bioskop bikin acara bagi-bagi tisu. Lantaran hampir semua penonton kedapatan menangis terharu dengan film ini.
Soundtrack film ini ada lagu Sepi yang dinyanyikan Yuni Shara dan lagu Dawai oleh Fadhilah Intan. Pada lagu Dawai kini menjadi viral dan sering digunakan untuk beberapa platform media sosial di Tik Tok, Instagram, Facebook, Snack Video, Helo Video dan Twitter.
Sejak diunggah, video lagu Dawai telah ditonton sebanyak 185 ribu kali dan menempati posisi sebagai video trending #20 di Youtube Music Indonesia.
Bila menilik liriknya, ‘Dawai’ berisi gambaran kisah tentang kondisi dilema seorang perempuan yang berniat memperjuangkan haknya yang sudah direnggut. Memang lirik dan musik lagu Dawai pada film ini sangat indah begitu mengena, larut dan bikin baper yang mendengarnya. Berikut liriknya : Dawai yang telah lama ku petik
Sumbang dan terus lirih berpekik
Do’a yang pernah ku ucap
Surga tak menjawab
Betapa sungguh tega oh hatimu
Mencuri yang digariskan untukku
Hati yang dulu terluka
Dirundung dilema
Teks : Hadriani Pudjiarti Foto : Instagram Jenny Rachman

