Cantik itu Sebuah Perjalanan, Bukan Sebuah Tujuan

Jakarta, Kirani –  Seorang perempuan disebut cantik ketika ia memiliki tubuh langsing dan mulus, kulit putih atau kuning langsat, dengan wajah berbentuk oval atau simetris. Standar kecantikan semacam ini telah berpuluh tahun tertanam di dalam benak sebagian besr masyarakat Indonesia. Tak heran, begitu banyak perempuan yang bersaha begitu keras,  berlomba memutihkan kulit hingga mengubah bentuk wajah agar setidaknya masuk dalam kategori cantik.

Akan tetapi apakah pendapat semacam itu benar? Apakah memang harus seperti itu kita mendefinisikan kecantikan? Bagaimana dengan perempuan yang dinilai tidak sesuai dengan ‘standar kecantikan’ tersebut? Apakah secara otomatis akan dianggap tidak cantik? Padahal, kita tinggal di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya memiliki warna kulit sawo matang, dengan bentuk wajah yang cukup beragam.

Kecantikan Holistik

Oleh karena hal tersebut di atas, belakangan ini berkembang pemahaman baru mengenai ‘cantik’. Kini, kecantikan tidak lagi sekadar tampilan luar, melainkan juga mencakup keseimbangan tubuh, pikiran, jiwa, bahkan juga preferensi pangan.

Inil disebut ‘kecantikan holistik’—sebuah pendekatan menyeluruh yang berpadu erat dengan wellness.

Sutamara Lasurdi Noor, Koordinator Food Culture Alliance Indonesia, mengatakan bahwa kecantikan sejati berakar dari dalam—dari apa yang kita konsumsi, bagaimana kita menjalani hidup, hingga seberapa sadar kita dalam merawat tubuh. Menurutnya, kesadaran akan kecantikan holistik belum diimbangi dengan perubahan gaya hidup dimana masyarakat masih didominasi oleh makanan ultra-proses (Ultra-Processed Foods/UPF).

“Kita rela keluarkan uang untuk skincare mahal, tapi tetap konsumsi UPF yang bisa merusak kesehatan dan mempercepat penuaan kulit. Ini paradoks,” ujar Sutamara dalam Beauty Dialogue bertajuk “A Holistic Perspective: An Exploration on Redefining Beauty and Its Connection to Wellness”, yang digelar oleh Komunitas Eathink bersama Food Culture Alliance Indonesia di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).

Kecantikan tidak lagi sekadar tampilan luar, melainkan juga mencakup keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa, dan preferensi pangan cukup erat dengan konsep ini.

Menerima Diri Sendiri: Versi Terbaik Setiap Perempuan

Puji Maharani, pengamat tren perempuan mengatakan, kecantikan holistik adalah bentuk perlawanan terhadap konstruksi sosial dan tekanan kapitalisme. “Cantik itu tentang conscious of function. Kita harus tahu apa yang kita mau dan butuhkan. Dari situ, kita bisa lebih menghargai tubuh kita sendiri,” jelasnya.

Saat ini, kesadaran perempuan semakin tumbuh dengan melihat tren kecantikan tak cuma penampilan, tapi juga merangkul kesehatan mental sebagai bagian penting dari perawatan diri.

Meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan kulit telah menyebabkan perubahan ini.

Fahra Affifa, konsultan riset dari Food Culture Alliance Indonesia menambahkan, “Kecantikan dan penampilan adalah aspirasi semua orang, karena terkait validasi sosial dan kepercayaan diri. Tapi aspirasi itu bisa dicapai lewat gaya hidup sehat, termasuk makanan bernutrisi.”

Sementara itu, Feni Sulistiani, S.Gz, seorang nutrisionis, juga menegaskan bahwa kecantikan tidak bisa dilepaskan dari kesehatan. “Cantik itu sehat. Apa yang kita makan, itu yang membentuk kulit dan tubuh kita. Sayangnya, masih banyak yang lebih rela beli skincare mahal, tapi pelit untuk beli makanan sehat,” ujar Feni.

Menurut Feni, pola makan sehat memang tidak memberikan hasil instan. Namun, efeknya jauh lebih bertahan lama dan menyeluruh. “Skincare bisa memberi efek cepat, tapi makanan sehat adalah investasi jangka panjang untuk kulit glowing alami,” tambahnya.

Untuk itu tren kecantikan holistik membawa perubahan besar dalam memandang kecantikan. Kini kecantikan dilihat secara keseluruhan, bukan hanya faktor luar, tapi juga dari dalam.

Tren kecantikan holistik mempertimbangkan keutuhan akan kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa sebagai tiga area terpisah. Meski demikian, ketiga aspek tersebut jika disatukan dapat membentuk diri manusia jadi lebih bahagia dan sehat. Ketika seseorang merasa bahagia, kulit pun akan ikut bersinar karena kulit mencerminkan apa yang ada di dalam diri seseorang. 

Kecantikan holistik bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi tentang mengenali, menerima, dan merawat diri sendiri secara sadar dan penuh kasih. Setiap perempuan memiliki definisi cantiknya masing-masing. 

Seperti dikatakan Grace Sita Betania, Retail Marketing, PR & Insight Executive dari The Body Shop Indonesia, “Dulu kulit putih dianggap ideal. Tapi sekarang, menjadi versi terbaik dari diri sendiri itu sudah cukup. Nggak perlu sempurna.”

Olahraga, tidur cukup, gizi seimbang, pikiran yang tenang, dan rutinitas skincare sesuai kebutuhan, merupakan bentuk self love. Dalam keseharian, cara kita memilih makanan, menyajikannya, atau bahkan membicarakan semuanya membentuk cara kita memaknai diri dan memperlakukan tubuh.

Ketika nilai-nilai kecantikan dan cara kita memaknai pangan berjalan seiring, maka pergeseran menuju makanan yang lebih bergizi dan berkelanjutan tak hanya mungkin tapi juga diinginkan. 

Remember, food and beauty are not perfection—they’re the combination of authenticity, balance, and wellness.

Teks : Galuh | Foto : Istimewa