Bunga penutup Abad

‘Bunga Penutup Abad’ Hadirkan Konflik dan Emosi dalam Panggung Artistik

Jakarta, Kirani – Pementasan teater ‘Bunga Penutup Abad’ kembali hadir. Digelar untuk keempat kalinya, teater ini menyapa pecinta sastra dan teater tanah air pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pentas yang diproduksi Titimangsa dan dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation inimenjadi bagian dari rangkaian peringatan Seabad Pram oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation.

Happy Salma selaku Produser sekaligus aktor dalam pementasan ini menyampaikan pentas ini dihadirkan kembali karena kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies selalu menginspirasi. “Pementasan kali ini menjadi reuni yang menyenangkan dengan pihak-pihak yang pernah bekerja sama sebelumnya, sekaligus pertemuan dengan pihak-pihak yang baru kali ini terlibat.”

Happy mengaku terharu melihat banyak pihak yang memberikan hati dan tenaganya untuk kerja kesenian.”Ekosistem seni pertunjukan semakin bertumbuh, pihak swasta dan pemerintahan bersanding bersama, menunjukkan bahwa kebudayaan menjadi kekuatan kita. Budaya adalah sebuah jalan perjuangan untuk kita menjadi manusia yang manusiakan diri.”

Pementasan teater Bunga Penutup Abad sebagai produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan adaptasi dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

“Kami percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menyentuh hati, dan menjembatani generasi dalam mengenal kekayaan budaya bangsa. Menjadi bagian dari pementasan Bunga Penutup Abad sejak awal hingga saat ini merupakan salah satu wujud komitmen kami untuk menghadirkan seni pertunjukan yang bermutu dan membumi,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Panggung Putar dan Drama Sarat Emosi

Cerita dibuka dengan adegan Minke (Reza Rahadian) membacakan surat dari Robert Jan Dapperste atau Panji Darman, pegawai Nyai Ontosoroh (Happy Salma) yang ia tugaskan menemani kepergian Annelies (Chelsea Islan) ke Belanda. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat, dan Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh.

Surat demi surat membuka pintu nostalgia, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.

Alur cerita yang maju mundur, mengajak penonton merasakan apa yang mereka bertiga rasakan. Setiap lembar surat dari Panji Darman membawa kenangan saat Annelies masih bersama mereka. Senang, sedih, bahagia, haru, kadang juga marah, berganti-ganti hinggap di hati.

Pementasan teater Bunga Penutup Abad tahun ini hadir dengan berbagai kebaruan. Naskah yang disesuaikan hingga konsep panggung panggung putar yang belum pernah diaplikasikan pada tiga pementasan sebelumnya. Konsep ini memungkinkan perpindahan adegan yang lebih dinamis, menciptakan pengalaman menonton yang lebih imersif.

“Ketika kembali dipercaya untuk menyutradarai Bunga Penutup Abad, saya ingin memberikan pembaruan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan semangat perjuangan yang hadir pada karya-karya Pram. Kami memperkuat struktur dramatik, terutama perkembangan psikologis Annelies, sehingga cerita ini tidak hanya relevan untuk generasi muda, tetapi juga segar bagi mereka yang sudah pernah menonton sebelumnya,” ujar Wawan Sofwan, Sutradara Bunga Penutup Abad.

Selain ketiga aktor di atas, pentas Bunga Penutup Abad ini juga menghadirkan  Andrew Trigg sebagai Jean Marais, dan Sajani Arifin sebagai May Marais.

“Semoga pertunjukan-pertunjukan alih wahana dari karya sastra terus menjadi pilihan untuk mengenal karakter kita dalam kebangsaan, menghargai dan mencintai bahasa yang indah serta simbol-simbol dan metafora yang disampaikan melalui karya sastra dan teater. Semangat terus untuk seni pertunjukan tanah air,” tutup Happy Salma.

Teks: Setia Bekti | Foto: Titimangsa