Bagaimana Pola Makan Bijak Demi Menyelamatkan Bumi?

Jakarta, Kirani – Warga dunia saat ini terus berupaya keras untuk mencegah kenaikan suhu yang semakin berbahaya bagi kelestarian lingkungan dan keselamatan bumi. Cerdas dalam mengonsumsi makanan sehari-hari, bisa menjadi aksi sederhana seorang individu untuk mencegah pemanasan global dan perubahan iklim.

 

Hal ini diungkap dalam kegiatan unik yang memadukan sesi diskusi tentang perubahan iklim dan demo masak bertema “Produksi dan Konsumsi yang Bertanggungjawab, ala Mediterania” yang diselenggarakan oleh Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, bekerjasama dengan Istituto Italiano di Cultura Jakarta (Pusat Kebudayaan Italia di Jakarta), dan Burgreens.

 

Maria Battaglia – Direktur Instituto Italiano di Culturo

 

“Pola makan seseorang akan menghasilkan jejak karbon yang berbeda-beda. Menurut data riset Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), seorang pecinta daging akan menghasilkan 3,3 CO2 per 2.600 kilo kalori dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Sedangkan seorang penganut pola makan vegan hanya menghasilkan 1,5 CO2 per jumlah kalori yang sama,” jelas Helga Angelina Co-Founder and Managing Director Burgreens.

 

Riset yang sama menunjukkan bahwa intensitas emisi yang dihasilkan dari konsumsi daging adalah 14,1 gram karbon dioksida per kilo kalori, sementara dari konsumsi gandum dan sereal hanya 1,3 gram karbon dioksida per kilo kalori.
“Angka yang dihasilkan sudah memperhitungkan potensi emisi yang dihasilkan dari seluruh kegiatan di rantai pasok jenis makanan tersebut. Mulai dari pemeliharaan sumber pangan hingga menjadi makanan yang siap dikonsumsi di tangan konsumen,” imbuh Helga. Ia menegaskan bahwa pola makan yang menghasilkan emisi tinggi, mengancam kapasitas dan daya tahan bumi dalam menyediakan lingkungan yang sehat bagi manusia.

 

Helga Angelina – Pendiri Burgreens

 

Produksi sebuah bahan pangan, contohnya daging sapi ternak, berdampak negatif terhadap kesehatan lingkungan. “Konsekuensi dari tingginya permintaan bagi konsumsi daging sapi adalah deforestasi akibat kebutuhan lahan ternak yang luas, pemborosan penggunaan air, tingginya jumlah limbah yang tidak tertangani lagi, hingga perubahan iklim. Ini semua terjadi akibat proses produksi dan konsumsi yang kurang bertanggungjawab. Bila jumlah pakan ternak kita berikan kepada manusia, maka kita dapat mencukupi kebutuhan pangan untuk 4 milyar manusia yang makan protein nabati,” urai Helga.

 

Pada kesempatan itu, Co-Founder and Executive Chef Burgreens, Max Mandias, kemudian memperkenalkan pola makan yang bijak dalam mengantisipasi perubahan iklim. “Pada prinsipnya, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dominan berbasis nabati, diolah dengan proses masak yang minimum, mengganti protein hewani ke protein nabati, mengurangi pemanfaatan minyak dan beralih kepada minyak kelapa, menggunakan bahan baku yang ditanam secara berkelanjutan dari sumber-sumber lokal, sedapat mungkin bersifat organik atau hidroponik, serta rendah limbah.” Ia merujuk pada gaya konsumsi mediterania yang khas dan dominan dengan sayur segar, terutama tomat, kacang merah dan garbanzo, serta minyak zaitun.

 

Kale Pineaple Smoothie

 

“Berkat pola makan sehat, penduduk Sardinia di Italia tercatat sebagai wilayah dengan usia hidup tertinggi di dunia. Kalangan pria di sana mencapai usia hidup rata-rata 100 tahun atau dikenal sebagai centeranians,” puji Max. Ia juga mencontohkan wilayah Ikaria di Yunani yang terkenal sebagai wilayah dengan angka dimensia terendah di dunia.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa 2019 yang diselenggarakan secara serempak oleh negara-negara anggota Uni Eropa di seluruh dunia, mulai 23 September-6 Oktober 2019.

 

Inovasi produksi dan konsumsi yang bertanggungjawab, menambah daftar upaya yang lahir dari tangan para pemuda untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Ini selaras dengan tema Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa tahun ini; “Anak Muda dan Aksi Iklim”.

 

 

Teks : Wiwied

 

 

 

Facebook Comments