Jakarta, Kirani – Salah satu penggerak utama roda ekonomi di Indonesia adalah UMKM, karenanya wajar bila sektor ini pun semakin mendapatkan perhatian serius. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,5 persen pada 2025.[1] Capaian ini turut didukung oleh layanan keuangan digital dari fintech yang mampu menjangkau sektor UMKM hingga akar rumput.
Pertumbuhan ini pun membuka ruang bagi fintech untuk menghadirkan instrumen investasi yang tidak hanya berorientasi pada imbal hasil, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Amartha secara resmi meluncurkan Amartha Prosper, solusi investasi berbasis dampak (impact investment) yang dirancang untuk menghubungkan modal publik dengan pertumbuhan UMKM di Indonesia. Melalui Amartha Prosper, investor dapat memperoleh imbal hasil yang kompetitif sekaligus berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi komunitas, terutama perempuan pengusaha ultra mikro di perdesaan.
Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, mengatakan, “Peluncuran Amartha Prosper merupakan langkah strategis jangka panjang untuk memperluas akses investasi berbasis dampak yang terukur dan bertanggung jawab. Amartha Prosper menjadi alternatif investasi pendapatan tetap yang kredibel dan relevan dengan kebutuhan investor saat ini, sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif di Indonesia.”
Melalui Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS), investor dapat menyalurkan dana ke UMKM mitra Amartha. Produk ini menawarkan potensi imbal hasil hingga 14 persen, yang terbagi dalam empat profil, yaitu Balanced-Flex, dengan potensi imbal hasil bulanan yang fleksibel; Balanced, relatif resilien terhadap kondisi ekonomi; Progressive, memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi; serta Dynamic, dengan potensi imbal hasil tertinggi disertai risiko yang lebih besar.

Tren Investasi Berdampak Kian Relevan
Tren investasi berbasis tujuan semakin relevan dengan kebutuhan investor saat ini. Berdasarkan laporan Global Impact Investing Network (GIIN) pada 2025, 31 persen investor berencana meningkatkan investasi berdampak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam lima tahun ke depan.[2]
“Saat ini momentum investasi berbasis dampak dan ESG semakin relevan. Selain imbal hasil, investor semakin mempertimbangkan transparansi, manajemen risiko yang baik, serta dampak nyata yang terukur. Produk investasi seperti Amartha Prosper berpotensi menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio pendapatan tetap yang seimbang antara return dan purpose,” kata Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner.
Melalui pendekatan impact investing, Melvin menekankan bahwa investasi tidak semata mengejar return finansial, tetapi juga tentang memberi makna pada setiap rupiah yang diinvestasikan. Dengan membantu pelaku usaha kecil naik kelas, investasi menjadi sarana agar uang benar-benar “bekerja”, menciptakan dampak sosial nyata, mendorong pertumbuhan yang inklusif, serta menghasilkan return yang stabil dan berkelanjutan.
Dampak investasi tersebut juga dirasakan langsung oleh para mitra UMKM, salah satunya Ibu Kamila, pemilik usaha nasi kuning dan soto banjar asal Kalimantan Selatan.
“Dulu saya sering menolak pesanan karena modal bahan baku terbatas. Setelah menerima pendanaan dari Amartha Prosper, stok bahan jadi lebih siap, produksi lancar, dan pesanan yang masuk bisa terpenuhi. Dari usaha ini juga, saya bisa menambah pendapatan keluarga dan membantu suami.” ujar Ibu Kamila, Mitra UMKM Amartha sejak 2023.
Sebagai bagian dari upaya memperluas dampak di tingkat komunitas, Amartha juga menghadirkan program “Cerita Rasa by Amartha Prosper”, kompetisi memasak yang melibatkan lebih dari 1.000 ibu mitra Amartha di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali-Nusra, dan Jawa.
“Ke depan, kami ingin Amartha Prosper menjadi jembatan yang mempertemukan investor dengan pertumbuhan ekonomi komunitas secara berkelanjutan. Dengan tata kelola yang kuat dan fokus pada UMKM perdesaan, kami optimis Prosper dapat berkontribusi lebih besar terhadap ekonomi nasional dan daerah,” tutup Julie.
Teks: Tim Kirani | Foto: Amartha
[1] OJK: Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025

