7 Cara Melindungi Anak Dari Kejahatan Seksual

Jakarta, Kirani – Akhir-akhir ini media massa juga sosial media ramai membicarakan kasus kejahatan seksual, yang dilakukan oleh warga negara Indonesia yang tinggal di Manchester, Inggris. Para korban dalam kasus tersebut adalah para lelaki muda.

 

Sementara beberapa waktu lalu, juga sempat ramai diberitakan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak. Bahkan dapat dikatakan, kasus pelecehan seksual terhadap anak ini cukup sering terjadi. Pelakunya pun kerap kali orang-orang yang dalam keseharian dikenal oleh anak-anak yang menjadi korbannya. Dalam arti bukan orang asing. Tentu saja hal ini membuat miris para orang tua. Terlebih mereka yang terpaksa meninggalkan anaknya di rumah karena harus pergi bekerja.

 

Mengutip data dari Komnas Perlindungan Anak, dari 10 laporan kekerasan pada anak, 8 diantaranya adalah kasus kejahatan seksual, dan 80% korbannya adalah anak perempuan. Meski secara statistik anak perempuan lebih sering menjadi korban, akan tetapi anak laki-laki juga tidak aman. Lalu bagaimana cara kita sebagai orang tua melindungi anak-anak kita agar terhindar dari fenomena mengerikan tersebut? Berikut beberapa tips yang dapat orang tua terapkan untuk menjaga anak dari kejahatan seksual.

 

1. Ajari anak anatomi tubuhnya dengan bahasa sebenarnya
Pengenalan anatomi tubuh sangat diperlukan untuk mengajari anak tentang anggota tubuhnya. Ketika Anda mengajari anak, misalnya ini tangan, ini mata, gunakan juga sebutan yang sebenarnya untuk alat kelamin. Kebiasaan kita sebagai orang timur, selalu menggunakan sebutan lain untuk alat kelamin, misalnya burung untuk Mr.P dan kata lain untuk menyebut Miss V. Akibatnya anak menjadi bingung atau salah tafsir saat mengalami pelecehan. Biasakan menyebut ‘penis’ untuk organ intim anak laki-laki dan ‘vagina’ untuk perempuan, tidak perlu diperhalus. Menggunakan istilah asli ini sebagai langkah pertama pendidikan seks anak, sehingga bila terjadi hal yang tidak kita inginkan, anak dapat mengomunikasikannya dengan benar dan dapat dipahami orang lain.

 

2. Ajari anak tentang privasi dan otoritas diri
Otoritas diri adalah mengajarkan anak tentang batasan pada dirinya. Ajari si kecil mengenai area tubuh mana yang tidak boleh dilihat, apalagi disentuh oleh orang lain. Bagian tubuh yang tertutup baju renang merupakan area yang tidak boleh disentuh oleh orang lain selain diri sendiri serta ibu dan ayah, kecuali dalam situasi tertentu, misalnya oleh dokter saat memeriksa, atau oleh pengasuh saat memandikan. Dukungan Anda sangat diperlukan dalam menjaga privasi anak, seperti mengganti baju anak di ruang tertutup, atau tidak mengunggah foto anak tanpa busana di media sosial. Dengan demikian Anda dan si kecil sama-sama memberikan batasan dan melindungi dirinya sendiri dari resiko pelecehan seksual.

 

3. Berikan pemahaman tentang jenis sentuhan
Ada tiga jenis sentuhan yang perlu diketahui oleh si kecil. Pertama adalah sentuhan baik dan boleh, yaitu sentuhan dari orang lain menggunakan tangan yang dilakukan di tubuh bagian atas bahu dan di bawah lutut. Ini merupakan sentuhan karena didorong rasa sayang seperti membelai kepala atau mencubit pipi. Kedua adalah sentuhan waspada karena mungkin membingunkan menilainya apakah sayang atau ada maksud lain, yaitu sentuhan di bawah bahu hingga atas lutut. Dan yang ketiga adalah sentuhan jelek dan terlarang, yaitu ketika orang lain menyentuh bagian tubuh yang biasanya tertutup pakaian renang atau pakain dalam, seperti dada, pantat, bahkan alat kelamin. Ajarkan anak untuk berani menolak dan tegas berkata “tidak!”, bila ada yang menyentuh area ini.

 

Komunikasi yang baik dengan anak menjadi kunci

 

4. Jalin komunikasi yang baik dengan anak
Komunikasi yang baik antara Anda sebagai orang tua dengan si kecil, membuatnya merasa nyaman menceritakan segala hal yang ia alami kepada Anda. Yakinkan si kecil bahwa Anda adalah sosok yang tepat untuk ia menceritakan segala sesuatu. Pelecehan seksual sudah pasti bukan hal yang mudah untuk diceritakan, namun komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua memungkinkan adanya keterbukaan informasi, termasuk hal negatif. Jika si kecil termasuk anak yang tertutup dan tidak suka bercerita, ibu dapat memancingnya dengan bertanya, “Bagaimana sekolahnya hari ini?” atau “Ada pengalaman menarik apa hari ini?” atau pertanyaan lain yang mampu memancing si kecil bercerita. Selalu ingatkan bahwa ia bebas bercerita apapun kepada kedua orangtuanya.

 

5. Protektif terhadap anak
Beberapa orang kerap mencibir orang tua yang over protektif terhadap anaknya, terlebih saat anak sudah memasuki usia sekolah. Akan tetapi, lebih baik protektif daripada terjadi hal yang kita semua tidak inginkan, asalkan jangan berlebihan karena anak juga akan merasa terbebani. Sebagai orang tua kita harus tahu dengan siapa anak bermain, kenali kawan-kawannya. Selain itu, jangan pernah biarkan anak menginap di rumah teman yang orang tuanya belum Anda kenal dengan baik. Bahkan sebaiknya hindari acara menginap, biasakan anak untuk pulang ke rumah sehabis bermain. Kalau memang terlalu malam, ada baiknya Anda dan suami menjemput ke rumah teman tersebut.

 

6. Curigai orang dewasa yang selalu ingin berduaan dengan anak
Wajar bila anak bermain dengan orang yang lebih dewasa seperti paman, sepupu, atau teman dari orang tua. Akan tetapi, waspadalah terhadap orang-orang yang lebih tua dan selalu berusaha mendekati anak Anda. Dahulu mungkin kita hanya perlu curiga terhadap orang dewasa beda gender, akan tetapi sekarang, sebaiknya tetap waspada meski orang dewasa tersebut memiliki gender yang sama dengan anak. Terutama jika mereka sering sekali memberikan hadiah. Dalam banyak kasus, pelaku pelecehan seksual justru bukan orang asing, melainkan orang yang kita kenal baik, seperti anggota keluarga, guru, pelatih dan lainnya.

 

7. Percaya naluri Anda
Naluri seorang ibu biasanya cukup tajam dan dapat dipercaya. Ini karena setiap ibu selalu memiliki insting untuk melindungi anaknya. Jika ada seseorang yang membuat Anda merasa tidak nyaman, itu sudah merupakan alasan yang cukup untuk anak menjauhi orang tersebut. Bila anak masih kecil, maka Anda yang menjauhkan anak darinya. Namun bila anak sudah mulai besar atau sudah usia sekolah, beri penjelasan yang masuk akal kepada anak untuk menjauhi orang tersebut. Juga saat Anda merasa ragu saat akan menitipkan anak pada seseorang, bahkan bila orang itu adalah teman Anda, maka jangan lakukan. Sekali lagi, naluri ibu sebaiknya jangan dianggap sepele. Karena ibu beruang pun akan melindungi anaknya dari bahaya yang mungkin belum terlihat.

 

 

Teks : Setia Bekti     Foto : Dok. Istimewa

 

 

Facebook Comments