Pesona Morowali dan “Hoax” Yang Mengiringi

Morowali, Kirani – Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai destinasi wisata alam yang memukau dan sedang berkembang. Selain itu, Morowali juga memiliki kekayaan alam yang berpotensi bagi Indonesia. Tak heran bila  kawasan industri tambang di Morowali sedang berkembang pesat.

 

Salah satu industri yang berada disana adalah, PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP). Sebuah kawasan industri smelter (pengolah logam) yang didalamnya terdapat 16 perusahaan saling terintegrasi, dilengkapi dengan pelabuhan ekspor, power plan (PLTU), pusat pengolahan air bersih, masjid, rumah sakit dan Wisma Tsinghan Arcadia.

 

Butuh dua kali penerbangan untuk mencapai Morowali, dari Jakarta kita harus melalui Makassar lalu dilanjutkan dengan penerbangan Makassar ke Morowali. Perjalanan dimulai pada Rabu (19/02) pagi dari Jakarta menuju Morowali. Setelah menumpang pesawat ATR GA 3680 kami disambut terik matahari di Morowali.

 

Kunjungan ke PT IMIP

 

Landasan Runway sepanjang 1800 meter dan bandara sedang dibangun di Morowali, kebetulan saat bersamaan para petinggi PT Angkasa Pura juga sedang berada di Morowali yang meninjau pembangunan bandara tersebut. Setiba di kawasan PT IMIP, siapapun akan dibuat tercengang dengan keindahan konsep pengembangan kawasan industri yang dilakukan oleh PT IMIP.

 

“Kami membangun kawasan PT IMIP di Morowali dengan konsep taman, jadi kami berusaha untuk tidak meninggalkan bekas hasil industri yang akan merusak alam.  Sisi lain kami masih mengembangkan konsep lingkungan yang ramah di sekeliling industri yang kami kembangkan,” kata CEO PT IMIP Alexander Barus yang menemani perjalanan rombongan penggiat sosial media.

 

Harus diakui di usia yang terbilang muda, kurang dari 5 tahun dan mulai beroperasi 2015 lalu. Perkembangan PT IMIP maju pesat, sudah mampu mengekspor hingga 3 juta ton hot rod coil (HRC) dan 500 tibu ton cold rod coil (CRC). Industri smelter ini mampu menyerap tenaga kerja 30.500 putra putri bangsa yang bekerja di kawasan IMIP dan sekitar 3000 tenaga kerja asing asal Tiongkok. TKA itupun merupakan tenaga ahli dalam rangka transfer knowledge.

 

Industri Nikel PT IMIP

 

Mengapa Tiongkok? karena IMIP perusahaan patungan Shanghai Decent Investment (Group) dengan porsi saham 49,69%, selain pemegang saham lokal PT Sulawesi Mining Investment 25%, dan PT Bintang Delapan Investama 25,31%.

 

“Ini yang membuat saya sedih dengan kabar yang berkembang di luar bahwa tenaga kerja asing dari Tiongkok yang jumlahnya lebih besar dari tenaga kerja Indonesia. Padahal, semua bisa melihat sendiri dari kunjungan di setiap sudut industri bagaimana tenaga kerja asing dan Indonesia, jumlahnya lebih besar tenaga kerja Indonesia,” ungkapnya.

 

 

Diakui oleh pria yang masih tampak gagah ini, bahwa tenaga kerja asing yang bekerja di PT IMIP adalah tenaga kerja bukan permanen. Mereka mengerjakan pekerjaan yang menjadi bagiannya setelah selesai dan kontrak habis, maka mereka dikembalikan lagi ke negaranya.

 

“Mereka tenaga ahli yang mendampingi tenaga kita, agar terjadi proses transfer ilmu. Kami sangat menginginkan lokal ini mengambil alih. Ini akan membuat kami suistain (bertahan). Karena kalau (tenaga kerja) China ini nanti mereka pulang, mati kita. Jadi kita harusmembuat ketahanan jangka panjang agar industri ini berkembang di Indonesia,” urai Alex.

 

Tidak ada Beda Perlakuan.

 

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, kami sempat berkeliling di setiap sudut kawasan. Tidak hanya itu, kami juga mewawancarai pegawai dan staf yang sudah bekerja tiga hingga lima tahun di IMIP, rata-rata mereka merasa nyaman bekerja disini, dan mereka juga memiliki keluangan waktu untuk menjalankan ibadah shalat bagi yang muslim. Melihat etos kerja mereka, yang menjaga lingkungan, seperti menjaga dirinya sendiri. Itu luar biasa.

 

Tenaga kerja wanita yang berasal dari lokal

 

“Kami betah bekerja disini, disamping kami memperoleh gaji yang besar dengan fasilitas semua terjamin dari makan, ibadah dan olah raga tersedia disini. Kami juga tidak mengalami pembedaan perlakuan dengan tenaga kerja dari Tiongkok,” jelas Nelsi yang berasal dari Bungku Barat, Sulawesi.

 

Diakui oleh Nelsi, bahwa kabar burung dan hoaks yang beredar di luar tentang perusahaannya membuat dirinya sedih. “Sedih juga dengan kabar hoaks itu, mba, menutup peluang bagi orang yang percaya isu itu. Sebab, itu membuat orang-orang muda seperti saya yang ingin bekerja dengan karir bagus dan memperoleh pengetahuan bahasa, tehnik dan gaji lumayan harus termakan isu yang ga bertanggung jawab,” tutupnya.

 

Potensi di balik Morowali

 

Memang sangat disayangkan bila potensi sebuah daerah baik dari sektor pariwisata dan industri harus dihujani dengan berita miring yang tak bertanggung jawab dan tanpa mericek lebih dahulu. Bagaimana Indonesia akan bisa bersaing dengan negara lain bila kita tidak mau membuka diri terhadap sebuah kemajuan.

 

Teks : Galuh        Foto : Galuh        Editor : Tia

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments