Wesly Silalahi

Wesly Silalahi, Sosok Putera Daerah Membangun Kota Paling Toleran di Indonesia

Jakarta, Kirani – Kota Pematangsiantar di Sumatera Utara, dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Kota ini bahkan meraih peringkat ke-5 nasional dalam Indeks Kota Toleransi (IKT) 2024 dari SETARA Institute. Memiliki keberagaman suku dan agama, kota ini menonjolkan kerukunan, peran aktif pemerintah dalam kegiatan keagamaan, etnis, serta warisan budaya toleran yang kuat. 

Dan Wesly Silalahi merupakan sosok penting pemangku dan memimpin Kotamadya ini. Ya, Wesly tercatat sebagai Wali Kota Pematangsiantar dan merupakan putera daerah. Pria kelahiran kota ini pada 12 Oktober 1957 adalah buah cinta pasangan Wongso Silalahi dengan Aminah Boru Sinaga. Ayahnya, Wongso Silalahi merupakan mantan Pegawai pemerintahan  Kabupaten Sialungun.

Wesly menempuh Pendidikan dan menjadi alumni SMA Negeri 2 Pematangsiantar. Wesly muda melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi di kampus Universitas Indonesia. Di kampus yang sama ini juga, Wesly melanjutkan pendidikan Magister Kenotariatan.

Perjalanan kariernya dimulai saat tahun 2015 mengikuti Pemilihan Umum Wali Kota Pematangsiantar bersama dengan Sailanto yang diusung Partai Kedailan Sejahtera, Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan dan Persatuan. Pasa saat itu, dia kalah dengan perolehan suara 25.609, dan Pemilu Walkot ini dimenangkan Hulman Sitorus dan Hefriansyah yang memperoleh suara sebanyak 59.401 suara.

Dalam Pemilu Walkot ini, Wesly Silalahi sebagai orang yang paham hukum kemudian mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi karena tuduhan kecurangan penyaluran dokumen C6.

Kemudian tahun 2019, pada Pemilihan Umum Legislatif Indonesia Wesly maju  dalam daerah pemilihan Sumatera Utara dan kalah dengan perolehan suara 14.097. Wesly kembali maju dalam Pemilu Legislatif Indonesia 2024, tetapi kalah hanya mampu mengumpulkan 21.599 suara.

Toh, sebagai putera daerah Wesly terus mencoba untuk membangun kota kelahirannya. Kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya jera, bahkan semakin menebalkan semangat meraih sukses, membangun dan melakukan yang terbaik untuk kota tercintanya. Dan ini terwujud, pada Pemilihan Umum Wali Kota Pematangsiantar 2024, Wesly berpasangan dengan Herlina yang diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrat, Partai Nasdem dan Partai Gelombang Rakyat Indonesia yang berhasil meraih suara tertinggi sehingga ditetapkan menjadi Wali Kota Pematangsiantar pada tahun 2025 hingga 2030.

Kota Paling Toleran Peringkat Lima

Di bawah komando Wesly, kota Pematangsiantar berhasil meraih peringkat ke-5 dalam Indeks Kota Toleran (IKT) Tahun 2024 yang dirilis oleh SETARA Institute pada tahun lalu, Mei 2025. Prestasi ini merupakan kenaikan yang signifikan dari peringkat ke-11 pada tahun sebelumnya.

Penghargaan ini diserahkan secara langsung kepada Wesly di Jakarta pada 27 Mei 2025 lalu. Saat menerima penghargaan ini, Wesly menegaskan komitmen pemerintahannya dalam menjaga keberagaman dan kerukunan suku, agama, ras dan etnis.

Wesly menaruh perhatian pada Komitmen dan Dialog Lintas Agama. Dalam hal ini, Wesly aktif memimpin dialog bersama tokoh lintas agama dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menjaga ketenteraman dan kerukunan, yang dianggap sebagai “perekat” bagi masyarakat yang heterogen atau majemuk di Pematangsiantar.

Melalui kepemimpinannya, Wesly juga memiliki visi pembangunan pemerintahan kota berfokus pada pembangunan yang tidak hanya fokus pada infrastruktur tetapi juga mempertahankan harmoni sosial. Dalam hal ini, Pematangsiantar memiliki konsep kota yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.

Untuk tahun 2026 ini, Wesly menaruh harapan dan menargetkan kotanya meraih posisi tiga besar kota toleransi tertinggi di Indonesia. Hal ini, seiring dengan komitmen berkelanjutan dalam menjaga kerukunan antar suku dan agama. 

Wesly mengatakan toleransi di Kota Pematangsiantar merupakan perekat yang menjaga kerukunan, persatuan, dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat yang heterogen.

Dan dia meyakini dengan adanya toleransi, setiap orang dapat menjalankan keyakinannya masing-masing dengan damai, tanpa merasa terancam, sehingga potensi konflik dapat diminimalisir dan masyarakat dapat hidup harmonis.

Sekali lagi melalui pencapaian Kota Pematangsiantar yang telah meraih peringkat kelima Indeks Kota Toleransi (IKT) di Indonesia, Wesly mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat toleransi. Semoga ke depannya atau di tahun ini, Pematangsiantar bisa meningkatkan peringkat Indeks Kota Toleransi dari ke lima menjadi lebih meningkat lagi.

Semangat Gotong Royong yang Kental

Tentang Pematangsiantar sebagai kota paling toleran juga diakui oleh Vrida Manurung, seorang jurnalis Indonesia yang berasal dari kota ini. Vrida berkarier di sebuah media Nasional dan tinggal di Jakarta. Dia memeluk agama Kristen Protestan yang menuturkan panjang lebar tentang sikap toleransi dan keharmonisan cinta damai yang berlaku di kotanya, Pematangsiantar.

Vrida merasakan sikap toleransi yang begitu tinggi dan patut diberikan acungan jempol. Hal itu terjadi, ketika ayahnya wafat atau meninggal dunia, semangat saling bantu dan gotong royong di kotanya begitu kental dan terasa.

Apa pasal? Vrida menceritakan saat pulang ke Pematangsiantar pada Oktober tahun 2024 lalu. “Saat Ayah meninggal, ada upacara keluarga yang melakukan pemotogan babi dan kerbau. Masyarakat di sekitar begitu bersemangat saling bantu, padahal banyak di antara mereka beragama Islam. Tidak ada judgment kafir atau apalah, karena ada hewan babi yang disembelih dan di keyakinan mereka dianggap sebagai barang haram. Pokoknya, kota ini memang bisa hidup damai, saling toleran dan menghargai apapun agama, suku, ras, atau etnis berasal. Saya menaruh respek besar kepada Pak Wesly yang mampu menjaga dengan baik kota toleran ini,” ungkap Vrida panjang lebar yang juga memuji peran sang Walikota, Wesly Silalahi.

Teks : Hapudji | Foto : Istimewa