Saatnya Industri Fashion Diperkuat Digital

Jakarta, Kirani – Industri fashion menjadi salah satu sektor yang terdampak COVID-19. Digitalisasai tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tapi juga membantu perusahaan untuk menekan biaya dan memperbaiki rantai pasok.
Survei McKinsey menunjukkan pada bulan April terjadi penurunan belanja offline sebesar 70-80% dan belanja online sebesar 30-40% di Eropa dan Amerika Utara. Di China, sebesar 74% konsumen mengatakan mereka menghindari pusat perbelanjaan dalam dua minggu setelah toko dibuka meski transaksi penjualan offline telah kembali. Ini membuktikan adanya tren peningkatan belanja fashion online.

 

Digitalisasi memungkinkan opsi pemenuhan logistik baru seperti click and collect dan drive through, mendorong akuisisi pelanggan, dan mengelola inventaris untuk membuat rantai pasok yang aman. Hal fundamental dari proses digitalisasi ini adalah data, transparansi, dan tata kelola.

 

The new normal secara berkelanjutan dapat mengubah pola belanja konsumen menjadi lewat e-commerce. McKinsey menyebut, perusahaan yang 30-40% pendapatannya telah diperoleh dari penjualan online bisa sangat diuntungkan dengan kondisi ini, namun alangkah baiknya jika proses transformasi digital terus diakselerasi agar tidak tertinggal dengan perusahaan lainnya.

 

Brand fashion harus memanfaatkan media sosial untuk tetap berkomunikasi denga konsumen, meskipun pada saat ini konsumen mengurangi belanja. Sebanyak 35% konsumen mencari inspirasi fashion dari online shop minimal satu minggu sekali. Oleh karena itu, penting menyajikan konten yang relevan kepada konsumen untuk mengelola customer loyalty.

 

Brand fashion juga harus meningkatkan kapasitas online. Pada bulan April, lalu lintas ke situs web 100 merek fashion teratas meningkat 45% di Eropa. Meminimalisir friksi sangat penting dilakukan untuk membuat konsumen nyaman berbelanja online. Beberapa ritel bahkan telah memindahkan penjaga toko offline ke posisi yang menunjang transaksi online seperti call center.

 

Pandemi telah meningkatkan channel digital sebagai keharusan bagi brand fashion. Oleh karena itu, sangat penting mengeluarkan investasi besar untuk menjadikan channel digital sebagai pusat transaksi. Omnichannel juga sangat berperan penting dalam meningkatkan penjualan karena fungsinya sebagai jembatan antara online dan toko offline.

 

McKinsey juga menyebut personalisasi telah membantu beberapa pemain industri mencapai peningkatan penjualan 20-30%. Untuk itu, penting juga bagi brand fashion untuk memberikan sentuhan personalisasi keuntungan bagi para konsumen. Yang tidak ada kalah penting adalah menarik talent digital agar pemain industri fashion bisa mengadopsibinis yang agile untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis secara digital.

 


Teks Wiwied | Foto Akun IG Maggie Hutauruk-Eddy

 

 

Facebook Comments