Esther balet

Rosalina Esther Tampubolon Memaknai Balet Sebagai Seni Kehidupan

Jakarta, Kirani – Balet bukan semata gerakan tarian. Balet dikenal sebagai bentuk tarian klasik terstruktur dan artistik yang berasal dari Italia pada abad ke-15. Selanjutnya, berkembang pesat di Prancis dan Rusia. Dan tarian balet mengutamakan teknik yang tepat, gerakan anggun, keseimbangan, serta seringkali bercerita atau teatrikal yang  diiringi musik dan kostum khusus. 

Namun dalam diri Rosalina Esther Tampubolon, pemilik dan guru di Sekolah Balet Natalenta, balet lebih dari sekedar menari. “Balet itu art of life atau seni kehidupan. Balet adalah bahasa ekspresi, keanggunan sekaligus ketangguhan, kerja keras, disiplin dan komitmen,” ujar Esther saat ditemui di Sekolah Balet Natalenta, di Kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Esther menuturkan dirinya menekuni balet sejak usia dini, sembilan tahun. Sejak kecil, Esther dikenal sebagai pribadi yang tomboy. Sebagai anak ke empat dari lima bersaudara, Esther dikenal sebagai sosok anak tak bisa diam, banyak gerak, suka manjat pohon, berlarian, seolah energinya tidak pernah habis.

Awalnya Esther tertarik dengan Kung Fu, tetapi orang tuanya justru memasukan ke balet. Nah, di balet ini kemudian Esther tertantang lantaran memiliki banyak gerakan. “Pada akhirnya saya jadi bertahan, hingga tak terasa sejak tahun 1983 berlanjut hingga kini sudah 43 tahun menekuni balet.”

Esther menemepuh pendidikan balet mulai dari Studio Tari Tanneke Burki, Bandung. Kemudian Dance Education Sylabus, Graduate Advanced 2 dan Certificate in Balet Teaching Studies di Royal Academy of Dance, London, Inggris. Selanjutnya, Esther juga memperoleh Certificate Associated Dance Art For Professional Teachers (ADAPT) di Kanada.

Rosalina Esther Tampubolon

Menurut wanita cantik bertubuh ramping dan berkulit putih ini, balet mengajarkan banyak hal tentang nilai kehidupan. “Balet mengajarkan banyak hal mencakup tentang kehidupan. Yaitu, disiplin, spirit atau semangat, sportivitas, kejujuran, mentalitas yang kokoh, mampu bertahan dari gempuran under pressure atau tekanan dan memiliki jiwa besar dalam menghadapi sebuah kesempatan, peluang bahkan kompetisi,” ujar ibu tiga anak ini.

Esther mendirikan Sekolah Balet Natalenta pada tahun 2002, dengan dedikasi untuk menyediakan pendidikan tari balet yang luar biasa bagi anak-anak berusia 3 tahun ke atas. Dari awal berdiri hingga sekarang, sekolahnya mencatat sudah ada sekitar ribuaan siswa.

Istri Fairly Siahaan ini menceritakan nilai-nilai kehidupan melekat di balet, bahkan bisa disebut juga balet memiliki peran sebagai character building atau pembangunan karakter diri dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Dia menjelaskan seorang anak yang menekuni balet harus memiliki sikap bahagia, senang atau gembira untuk siap menari balet. Sikap gembira, semangat dan kejujuran pada diri sendiri adalah poin penting. Seorang anak dengan sikap ini akan lebih bisa menikmati saat berlatih balet yang menemui banyak gerakan. Tanpa sikap ini, mood anak saat berlatih bisa tidak baik atau kesal.

Balet juga mengajarkan mentalitas yang kokoh, tidak lembek meski harus melalui banyak gempuran atau tekanan melalui gerakan-gerakan  dari yang mudah sampai yang sulit.

Kemudian memiliki jiwa besar menghadapi kesempatan, peluang bahkan siap berkompetisi yang akan dihadapi seorang balerina atau penari balet dalam proses perkembangan selanjutnya.

“Memang ada orang tua yang memasuki anaknya ke balet karena ingin ada aktivitas seperti halnya piano, karate, atau les vokal. Tetapi banyak juga anak-anak yang memilih dan menekuni balet didasari bakat yang mereka miliki dan kemauan keras untuk terus belajar mengasah diri,” ujarnya.

Teks : Hapudji I Foto : Istimewa