Depok, Kirani – Wajah wanita bertubuh mungil dengan rambut pendek berwarna pirang itu tampak semringah. Dengan senyum terus mengembang dia mendatangi meja para undangan menerima ucapan selamat. Lenny Agustin Ernawati mengaku meski tangannya masih berasa dingin, namun lega dan plong setelah sekitar satu jam, secara singkat, lugas, cerdas dan bernas menjelaskan dan menjawab disertasi promosi doktoralnya. Lenny, pada Rabu (8/7) lalu bertempat di audiotorium Fakultas Ilmu Budaya di kampus Depok, Universitas Indonesia, meraih program Doktoral Ilmu Sejarah.
Lenny yang juga dikenal sebagai perancang di Tanah Air memang memiliki semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan. Sebagai perancang busana ternama Indonesia, Lenny dikenal dengan gaya desain funky, edgy, dan eksplorasi wastra tradisional. Perjalanan akademiknya tidak linier berawal dari D3 jurusan Mode Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI, kemudian S1 Desain Komunikasi Visual di Institut Kesenian Jakarta, berlanjut ke S2 Kajian Seni Urban dan Industri Budaya Pascasarjana IKJ, hingga akhirnya S3 FIB Ilmu Sejarah UI yang menurut Lenny memberikan tantangan tersendiri. Dia berhasil menyelesaikan program S3nya ini selama sebelas semester.
Perjuangan panjang Lenny tidak sia-sia dan disertasi S3nya berjudul Kebaya Modern Sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia Pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan sukses meraih doktor dengan nilai sangat memuaskan dan IPK 3,82. Nama Lenny tercatat sebagai Doktor ke 496 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Doktor keenam di Ilmu Sejarah FIB Universitas Indonesia. Untuk Promotor dan Kopromotor Doktornya adalah Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S, M.A dan Dr. Didik Pradjoko M.Hum.

Disertasi pemilik empat line yaitu Lenny Agustin, Lenny Agustin Bridal, Lennor dan Waw ini mengkaji kebaya modern sebagai busana nasional wanita Indonesia di era Orde Baru dengan menempatkannya sebagai artefak politik kebudayaan, bukan sekadar produk estetika.
Menurutnya, penelitian ini berangkat dari persoalan kontemporer mengenai melemahnya otoritas simbolik kebaya pasca-Reformasi, yang tercermin dalam polemik pendaftaran kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO serta perdebatan representasi kebaya dalam budaya populer global, untuk kemudian menelusuri secara historis bagaimana negara Orde Baru membangun dan menstabilkan kebaya modern sebagai simbol identitas bangsa.
Tentu saja sebagai penelitian sejarah, Lenny menekankan disertasinya sebagai perubahan historis dan peran manusia sebagai agen perubahan. Perubahan utama yang dianalisis adalah transformasi kebaya dari busana tradisional yang bersifat plural dan kontekstual menjadi kebaya modern yang dinasionalisasi secara estetis dan difungsikan sebagai busana nasional wanita Indonesia.
Menurut Ketua Nasional Indonesian Fashion Chamber (IFC) periode 2024-2027 ini bahwa proses tidak dipahami sebagai modernisasi yang alamiah, melainkan sebagai nasionalisasi estetika tradisi yang dijalankan untuk kepentingan pembentukan identitas bangsa dan stabilitas ideologi Orde Baru.

Lenny menjelaskan pada penelitiannya menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, serta memanfaatkan sumber arsip negara, majalah perempuan, dokumentasi visual, dan sumber lisan.
Adapun untuk kerangka teorinya memadukan relasi kuasa sebagai fondasi analitis, hegemoni untuk menjelaskan mekanisme konsensus kultural negara, teori strukturasi Anthony Giddens untuk membaca posisi agensi perempuan dan pelaku industri mode, politik tubuh untuk menganalisis pendisiplinan tubuh perempuan, serta semiotika mode untuk membaca kebaya modern sebagai sistem tanda visual. Lenny juga memakai literatur Michel Foucault, semiotika mode Roland Barthes dan teori hegemoni Antonio Gramsci.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kebaya modern pada era Orde Baru berfungsi sebagai teknologi kultural yang menasionalisasi estetika tradisi guna membentuk citra wanita Indonesia yang anggun, tertib, dan terkendali secara ideologis. Melalui peran negara, elite perempuan, pelaku industri mode, dan perempuan pemakai, kebaya modern direproduksi sebagai simbol yang menopang identitas bangsa sekaligus stabilitas ideologi Orde Baru.
“Dengan demikian, disertasi ini menegaskan kebaya sebagai arena historis relasi kuasa antara negara, tubuh perempuan, dan nasionalisme, serta berkontribusi pada pengembangan kajian sejarah mode Indonesia dengan menempatkan busana sebagai bagian integral dari sejarah politik kebudayaan,” penjelasan Lenny panjang lebar seperti tertuang dalam bahan disertasinya.
Sebagai pelaku mode sekaligus peneliti sejarah, Lenny menyadari bahwa kedekatan dengan objek penelitian dapat menjadi kekuatan sekaligus potensi bias. “Pengalaman di dunia mode memberikan keuntungan dalam memahami aspek teknis busana, membaca perubahan desain, dan mengakses narasumber yang relevan. Namun, untuk menjaga objektivitas, kebaya tidak diposisikan sebagai warisan budaya yang secara otomatis bersifat luhur, melainkan sebagai artefak politik budaya yang harus dianalisis secara kritis,” ungkapnya panjang.
Diakui Lenny, juga melakukan refleksivitas melalui kritik sumber, triangulasi data, dan pembacaan yang mempertimbangkan relasi kuasa, ideologi, serta konteks sejarah yang melatarbelakangi perkembangan kebaya modern sebagai busana nasional wanita Indonesia.

Dalam disertasi ini Lenny juga mengulas tentang peran Ibu Tien Soeharto yang memiliki posisi sentral dalam pembentukan kebaya sebagai busana nasional. Walaupun Ibu Negara bukan jabatan konstitusional, dalam politik simbolik Orde Baru ia berfungsi sebagai figur kultural yang menghubungkan negara, keluarga, perempuan, dan kebudayaan. Biografi dan berbagai kesaksian tentang Ibu Tien menunjukkan perannya dalam proyek sosial-kultural seperti Yayasan Harapan Kita, TMII, organisasi perempuan, dan kegiatan kenegaraan.
“Konsistensi penampilan Ibu Tien Soeharto dalam kebaya memperkuat hubungan antara kebaya, keanggunan, kewibawaan, dan nasionalisme perempuan. Ibu Tien merepresentasikan konsep wanita ideal Jawa yang menekankan kelembutan, kesetiaan, pengendalian diri, pengabdian keluarga, dan dukungan terhadap suami. Kajian tentang keluarga Jawa dan citra diri orang Jawa menunjukkan pentingnya harmoni, pengendalian diri, serta peran perempuan dalam menjaga keluarga dan kehormatan sosial,” kata Lenny panjang lebar seperti tertuang di disertasinya.
Hari itu, anak ketujuh dari sembilan bersaudara dan ibu tiga anak ini merasa lega dan plong, “Terbayar sudah perjuangan dan kerja panjang selama ini. Terima kasih kepada banyak pihak yang tidak bisa aku sebutkan namun kesemuanya memberikan dukungan dan semangat aku bisa seperti sekarang,” kata Lenny tersenyum bahagia yang hari itu di sidang terbuka doktoralnya dihadiri undangan dari keluarga, kerabat, sahabat, kolega, para pelaku industri mode Tanah Air dan awak media. Selamat Ibu Doktor!!!
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto : Istimewa

