Bandung, Kirani – Menjamurnya bisnis kecantikan hingga hingga ke pelosok Indonesia, menandakan besarnya potensi di industri ini sebagai ladang subur yang diminati para pebisnis bidang kecantikan. Fakta, kehadiran Beauty Clinic yang tersebar di seantero negeri termasuk juga salon kecantikan menjadi semangat dan alasan yang dibidik Sukmawati Bachtiar.
Sukma, sapaan perempuan kelahiran Ujung Pandang, 15 November 1990 ini melihat peluang bisnis kecantikan menarik minat dan perhatiannya. Ya, Sukma nekat mendirikan salon kecantikan dan bridal pertamanya. Didasari sebuah cerita menarik dibalik keputusannya dalam membuka salon.
“Ketika wisuda, saya ke salon langganan untuk book make-up akan tetapi sudah full, bayangkan pada saat itu harga make-up Rp 150.000, dan tamu salon mungkin mencapai hingga 100 orang dalam satu hari. Otak bisnis saya menghitung omset yang dicapai salon itu. Hal inilah yang membuat saya tertarik menggeluti di bidang kecantikan,” kata Sukma.
Maka pada Juni 2015 berdirilah Makaffah Salon and Bridal di Cimahi. Penambahan kata Bridal dipilih untuk membedakan Makaffah dengan pesaing, karena tidak banyak pemain Salon and Bridal yang bertahan di Indonesia hingga saat ini. Selanjutnya, pada 2017 lalu, Makaffah berhasil melebarkan sayap ke ibukota karena respon pasar yang sangat positif.
Akan tetapi kegagalan menghampiri pada 2021, ketika Makaffah terpaksa harus di relokasi ke Bandung karena gagal mempertahankan eksistensi di Jakarta.
Bungsu dari dua bersaudara ini memang memiliki tekad yang keras dalam memperjuangkan sesuatu. Tak heran bila kegagalan atau ketakutan dalam menjalani kehidupan berhasil dilaluinya.

Memiliki Kemudahan dan Fasilitas
Meski Sukma dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan, tetapi dia tidak pernah dididik manja. Bahkan ada pengalaman menarik saat ia berumur 11 tahun, yang terus diingatnya hingga saat ini. “Orang tua melepas saya untuk pulang ke Pomalaa (Sulawesi Tenggara) sendirian, bahkan harus transit di Surabaya kemudian menginap di mess karyawan di Makassar karena tidak ada penerbangan langsung,” ujar dia.
Alumni Administrasi Bisnis Universitas Indonesia (UI) dan Magister Administrasi Bisnis Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memang dibesarkan dalam keluarga pengusaha. Sang ayah adalah seorang pengusaha tambang, membuat Sukma memiliki fasilitas dan mendapat kemudahan dari segi modal untuk mengembangkan usaha.
Namun, Sukma sadar dan memiliki tekad bahwa dalam setiap bisnis membutuhkan kerja keras dan kegigihan. Dan dua hal inil yang membuat Makaffah di bawah pimpinannya mampu untuk terus bertahan hingga tahun ke sembilan.
“Saya ingat ketika covid menyerang pada tahun 2020, bagaimana bisnis saya terkena dampak hingga harus gulung tikar. Bersyukur berbekal pengetahuan mengenai bisnis bahwa perusahaan yang baik harus memiliki dana tunai cadangan untuk membiayai hal tidak terduga. Hal inilah yang membuat saya dapat bertahan,” kata Sukma panjang lebar.
Selain itu, Sukma mengakui bahwa seolah semua memang sudah diatur. Sukma ingat, baru saja memperbaharui sewa di gerai Cimahi untuk tiga tahun ke depan pada awal 2020 sehingga dapat melalui badai covid.

Memiliki Segudang Prestasi
Sukma adalah perempuan yang memiliki segudang prestasi seperti Juara 3 Olimpiade Fisika Tingkat SMP Se-Kabupaten 2004, Juara 2 Lomba Pidato Tingkat SMP SeKabupaten 2004, Krida Art Group (KAG) V Europe Folklore Festival 2006, Juara 1 Lomba Debat Tingkat SMA Se-Kota Bandung 2007, dan Juara Harapan Duta Lip Ice Tingkat Nasional 2009.
Mengukir banyak prestasi juga membuat Sukma seolah dipaksa dewasa oleh keadaan. Sejak kecil Sukma berpindah dari panggung ke panggung untuk mengikuti berbagai kompetisi. Dan hal inilah yang mengajarinya bagaimana mendapatkan kepercayaan diri.
Maka tidak heran, berbagai lomba pernah diikuti dan dimenangkannya, yaitu Winter Exchange Project Dalian, China AIESEC UI 2012, Juara 3 Trivia Quiz Tingkat FISIP UI 2012, Invited Speaker Democratic and Economic Youth Summit (DEYS) Turkey 2013, Juara 2 Lomba Bridal Make up Puspita Martha 2017, dan Top 10 Business Idea Generation (BIG) ITB 2024.
Kendati memiliki kemudahan dan fasilitas, akan tetapi Sukma juga terbiasa dengan kegagalan, “Ketika saya sedang mengembangkan lini fashion yaitu clothing line, tidak ada satupun yang beli sehingga terpaksa saya harus membagikannya ke keluarga dan teman. Dengan tekad dan kegigihan, akhirnya pada Lebaran 2023, saya bisa merasakan omzet tembus double digit,” ungkap perempun berdarah Bugis dan Sunda ini bersemangat.
Makaffah sendiri kini sudah memiliki empat merk dengan bidang bisnis yang berbeda yaitu Beauty, Fashion and Travel. Sukma menuturkan ketika kuliah S1 dulu aktif tergabung di BEM UI, waktu itu sedang hangat mengenai hukuman mati TKW di Arab Saudi. Lalu dia terpikir bagaimana caranya untuk membantu para perempuan agar kasus ini tidak terulang lagi.
“Hingga akhirnya, beberapa tahun setelah lulus kuliah, saya melihat peluang bisnis salon adalah jawaban yang tepat untuk memberdayakan perempuan sekitar dengan membuka lapangan pekerjaan yang layak dalam negeri,” ujar dia.
Menurut Sukma, “Saya sadar begitu banyak kenikmatan yang saya rasakan hingga saat ini atas berkat karunia Allah SWT, oleh karena itu sebagai wujud rasa syukur, saya bekerja keras agar dapat bermanfaat bagi banyak orang. Sebaik-baiknya investasi ialah di sektor ril dengan demikian roda perekonomian dapat terus berputar meski banyak yang berpikir bahwa pencapaian saya saat ini karena privilege orang tua tetapi apabila privilege ini dapat dimanfaatkan dengan baik maka akan membawa dampak baik yang lebih luas,” ujar perempuan yang dikenal perfectionist and ambitious hingga pernah mendapat panggilan Miss Perfect ini panjang lebar.
Dan si Miss Perfect ini semakin membuktikan kepiawaiaan dari talenta bisnisnya pada Sabtu, 23 Agustus di Uncle D Space, Bandung sukses membuat Trunk Show Makaffah Daily dengan tema “Amorette A Timeleless Ode to Vintage Feminity” dan juga menggelar Talk Show tentang Suistanable Fashion. Acara ini mendapat sambutan dan antusiasme tinggi tak hanya dari warga kota Bandung.
Teks : Hadriani.P dan Setia Bekti | Foto : dok Makaffah Daily, Benkbenk

