Jakarta, Kirani – Sosoknya sangat mencuri perhatian dengan gaya gesit dan tegas, Yulina Hastuti, mampu membawa TIKI semakin berkibar di jagat logistik dan kurir Indonesia. Seperti kita tahu, TIKI saat ini memiliki banyak produk dan layanan inovatif yang menyasar gen z, komunitas dan lainnya.
Kemampuan TIKI untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kunci keberhasilan dan daya tahan perusahaan di industri kurir yang kian kompetitif.
Memahami kebutuhan konsumen yang semakin beragam, TIKI menghadirkan berbagai produk dan layanan inovatif yang menyasar komunitas hobi, pecinta hewan, hingga penggemar tanaman dan produk segar.
“Selain inovasi produk, TIKI memperkenalkan layanan tambahan yang mendukung kenyamanan transaksi pelanggan, seperti Aplikasi TIKI, JEMPOL (Jemput Online), Drive Thru 24 Jam, SOBATIKI, dan TIKI SERLOK (Seller Online Booking),” ujar perempuan yang akrab disapa Lena seusai Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TIKI di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, lalu.
Sejak 2017, TIKI juga menjalankan transformasi digital secara menyeluruh untuk meningkatkan daya saing dan kepuasan pelanggan.
Sebuah perjuangan panjang bagi Lena, untuk membawa kapal TIKI menjadi seperti sekarang. Berkat tangan dinginnya Lena mampu membawa TIKI terus melaju tanpa terkikis zaman.
TIKI sendiri pertama kali hadir di Tanah Air pada 1 September 1970. Perusahaan yang didirikan Alm Soeprapto Soeparno bersama sang istri Nuraini Soeprapto. Kemudian, TIKI semakin diperkuat dengan bergabungnya sejumlah orang yakni Alm. Irawan Saputra, Gideon Wiraseputra dan Raphael Rusmadi pada tahun 1972.

Lena mengaku, sebelum menjabat sebagai pemimpin di PT TIKI, dirinya pernah bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK) dan bekerja di restoran cepat saji di Amerika sekitar tahun 2000-an.
“Sekitar tahun 1998 lah, saya dan suami sekolah di Amerika, sambil menunggu itu saya kerja part time jadi guru TK dan restoran cepat saji, tapi setelah ada anak jadi agak sulit kerja yang di restorannya. Pengalaman ini berharga sampai sekarang, banyak ilmu dan pengalaman saya peroleh seperti bagaimana handling customer, dan mengelola operasional,” kata Lena.
Kurang lebih 12 tahun di negara orang, Lena memutuskan kembali ke tanah air untuk melanjutkan kehidupannya. Di saat ingin memulai keinginannya untuk bekerja, Lena malah ditantang oleh ayahnya untuk memulai karir dengan mengembangkan TIKI.
Tantangan itu di sambut Lena memulai karir dari bawah di TIKI. Lena mengawali karir di TIKI sebagai manajer marketing sekitar tahun 2000an.
“Saya tidak serta merta memperoleh karpet merah untuk menduduki posisi penting di TIKI, tapi saya digembleng dari bawah. Jatuh bangun mempelajari semua yang ada di TIKI membuat saya banyak tahu alur pekerjaan dan apa yang harus dikembangkan,” ungkapnya.
Tanpa kenal lelah Lena belajar dunia logistik, pelayanan pelanggan dan banyak hal lainnya. Menurut Lena kedua orang tuanya merupakan support system yang paling kuat di dalam hidupnya. Ayahnya mengajarkan Lena untuk memimpin sebuah perusahaan. Gaya kepemimpinan ayahnya dia pelajari dan diserap dengan baik.
“Saya belajar siang malam, karena mau tau gimana sih cara kerja perusahaan kurir ini. Saya juga turun ke lapangan, memantau bagaimana sistemnya bekerja dan kondisinya seperti apa. Ayah saya banyak membantu saran dan masukan tapi beliau menggembleng saya dengan keras,” jelas dia.
Buah perjuanganya mempelajari seluk beluk TIKI, membuah hasil hingga saat ini dirinya mampu memimpin perusahaan dengan lebih dari 6.000 karyawan. Bukan hal yang mudah. Butuh strategi dan gaya kepemimpinan untuk bisa membawa perusahaan untuk bisa bertahan.
Tak cuma untuk pelanggan, tapi dia juga berupaya semaksimal mungkin untuk memperhatikan pegawai sampai lingkungan perusahaan. Misalnya dengan rutin menyalurkan zakat baik ke masyarakat muslim dan non muslim.
Wanita yang hobi bersepeda ini menjelaskan jika TIKI setiap bulannya memberikan beras sebesar 25 kilogram untuk para pegawainya. Kebiasaan itu masih diterapkan hingga sekarang.
“Dulu sempat saya mau ganti jadi uang, karena kasihan lihat pegawai bawanya berat. Tapi pegawainya bilang, ‘jangan bu kalau beras banyak yang tanya dari mana, kami jawab dari TIKI’ itu jadi kebanggaan buat karyawan kalau tempat kerjanya memperhatikan mereka. Nah prinsip itu yang diajarkan oleh orang tua saya,” jelas dia.

Sebagai Dirut, Lena meneruskan tongkat estafet dari mendiang Soeprapto, pendiri sekaligus ayah dan mentornya. “Selama lebih dari lima dekade, TIKI selalu menjaga komitmen menjadi mitra kurir dan logistik terpercaya bagi para pelaku usaha di Indonesia. Kami terus menjaga amanah para pendiri untuk bertumbuh bersama mitra keagenan, kurir, dan staf,” kata Lena.
Dengan kepemimpinan Lena, TIKI optimis terus berinovasi dan memperkuat jaringan logistik nasional demi mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Di sisi internal, lanjut Lena, TIKI berkomitmen meningkatkan kompetensi digital karyawan melalui pelatihan rutin agar siap menghadapi tantangan teknologi masa kini.
“Tak hanya fokus pada bisnis, TIKI juga konsisten menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan melalui program TIKI Budayakan Berbagi. Program CSR ini meliputi renovasi masjid, bantuan bencana, santunan bagi anak yatim, tuna netra, dan janda, serta program literasi bekerja sama dengan berbagai yayasan,” terang Lena.
Komitmen yang dilakukan TIKI ini diapresiasi oleh BAZNAS melalui penghargaan BAZNAS Award 2023 sebagai Perusahaan dengan Program Sosial/DSKL Terbaik.
Selain itu, TIKI aktif mendukung pengembangan UMKM Indonesia melalui pelatihan dan pembekalan seputar distribusi barang, sehingga dapat membantu pelaku usaha kecil memperluas jangkauan pasar.
Teks/Foto : Galuh

