Jakarta, Kirani – Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2025 yang berlangsung di Mal Kelapa Gading akhir Juli lalu, menjadi pembuktian menarik yang dilakukan PINTU Incubator. Selama ini melalui program binaannya, PINTU Incubator menghadirkan brand-brand lokal yang tertuang melalui karya para perancangnya ikut unjuk diri di runway JF3 tahun ini.
Para brand lokal binaan PINTU Incubator ini adalah CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, Rizkya Batik, dan Denim It Up. Koleksi rancangan mereka dipamerkan dalam peragaan busana kolaboratif bertajuk “Echoes of the Future by PintuIncubator featuring École Duperré “di Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta.
Dya Sejiwa brand yang didirikan Nadya Kinanti Arifin pada 2017 merupakan merek ready to wear yang berbasis di Indonesia. Memiliki fokus pada produksi yang berkesadaran, brand ini berkomitmen menjauhi produksi massal. “Kami bangga memproduksi dalam skala kecil yang menggabungkan Tenun Bulu khas Indonesia dengan material yang dipilih dengan cermat,” kata Nadya.

Koleksinya ini mencerminkan komitmen untuk melestarikan warisan dan keterampilan kerajinan Indonesia. Diiakui Nadya bahwa label Dya Sejiwa identik dengan potongan busana yang tak lekang waktu, memadukan teknik tradisional dengan desain kontemporer dan menghasilkan beragam pakaian yang cocok untuk berbagai kesempatan.
“Seiring pertumbuhan kami, nilai-nilai kami tetap lestari. Kami berdedikasi untuk merancang setiap produk dengan penuh perhatian, memastikan keseimbangan antara kenyamanan dan gaya. Bergabunglah bersama kami dalam perjalanan ini, di mana tradisi bertemu inovasi, dan fesyen menjadi kisah tentang kesadaran serta keanggunan yang abadi,” ujar Nadya panjang lebar.
Nadya bersukacita bisa berpartisipasi dalam Pintu Incubator 2025 dan melalui Dya Sejiwa menciptakan koleksi eksklusif bertajuk ‘Merekah’ yang terinspirasi dari transformasi alam yang paling anggun atau mekarnya bunga dan metamorfosis seekor kupu-kupu.
Menurut Nadya, keduanya melambangkan pertumbuhan yang tenang, dari keheningan menuju keindahan, menggambarkan perjalanan Dya Sejiwa yang terus berkembang.
Diibaratkan seperti sayap yang muncul dari kepompong atau kelopak yang terbuka saat fajar, koleksi ini menampakkan dirinya melalui lapisan-lapisan lembut, sulaman yang halus, dan siluet yang mengalir. Kain seperti organza sutra, tenun bulu, dan sutra mentah yang merepresentasikan kehalusan dan transformasi, sementara elemen-elemen yang dapat dilepas mencerminkan keindahan dari perubahan.

“Dengan memadukan fungsi dengan keanggunan, koleksi ini bergerak dengan ringan, dihiasi warna pastel lembut dan rona tegas yang mencerminkan taman yang mekar dan sayap kupu-kupu. Dalam setiap rona mencerminkan kepercayaan diri, pembaruan, dan kehidupan yang terus bergerak,” kata Nadya.
Dalam babak baru ini, Dya Sejiwa mekar dan terbang namun tetap setia pada esensi minimalisnya sembari merangkul kedalaman kreativitas. “Sebuah perayaan akan metamorfosis, Merekah adalah tempat di mana kain, bentuk, dan rasa berkembang menjadi sesuatu yang baru.”
Membangkitkan Kenangan, Emosi, Cerita Hidup, Peran Penting, Perjalanan dan Perempuan Bercerita
Adapun Lil Public yang di JF3 ini meluncurkan koleksi perdananya bertajuk ‘Hisashi Series’. Dalam koleksinya kali ini terinspirasi dari novel karya Hisashi yang di dalamya berisi mulai soal kehangatan keluarga, cinta masa lalu, hingga rindu yang tidak tersampaikan. Selain itu, juga tentang perasaan yang mengeksplorasi bagaimana makanan dapat membangkitkan kenangan, emosi dan cerita hidup seseorang.
Koleksi ini juga menampilkan berbagai fashion item dengan cutting oversize bergaya urban wear yang dirancang agar mudah dipadupadankan untuk keseharian. Produk yang dihadirkan antara lain, Hoodie, Work Jacket, Leather Jacket, Shirt & Tshirt, Celana, Aksesori, dan tentunya topi dengan desain unik khas Lil Public.

Sementara Rizkya Batik dengan bangga mempersembahkan ‘Mimo’, koleksi terbaru yang dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui. Mimo menjadi sebuah refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil gaya tanpa mengesampingkan peran penting mereka.
Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, Mimo menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan.
Koleksi ini menggunakan bahan batik tulis hasil pengrajin batik solo yang berkualitas tinggi dengan sentuhan warna indigo alam dan hijau kuning yang menenangkan, serta fitur busui friendly seperti bukaan tersembunyi.
Kali ini melalui Mimo, Rizkya Batik mengundang semua perempuan untuk merayakan babak baru dalam hidup mereka, dengan mengenakan busana yang mengakar pada budaya namun melangkah ke masa depan.

Brand Nona Rona mempersembahkan ‘Lavanya’ yakni sebuah penghormatan untuk cahaya yang ada dalam diri setiap perempuan. Bahwa setiap perempuan punya kisah, perjalanan yang dipenuhi kekuatan, momen-momen anggun, dan ketangguhan yang tak selalu terucap.
Inilah jiwa dari Nona Rona yang melalui Lavanya berarti “Keanggunan Memikat” yang terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan Indonesia. Setiap busana membawa bisikan warisan budaya, sulaman yang terperinci layaknya jejak perjalanan hidup, dan motif bunga yang merekah sebagai pengingat bahwa keindahan hadir di setiap bab kehidupan.
Hadir dengan gaun lembut yang mengalir hingga luaran tegas yang berkarakter, Lavanya pun merefleksikan keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan. Bagi Nona Rona, fashion bukan sekadar pakaian, ini adalah cara bercerita. Dan melalui Lavanya, sebagai perayaan semangat setiap perempuan yang memiliki keberanian, keanggunan dan kemampuan untuk terus bangkit dan bdan berkembang.
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto: JF3

