Tresno, Bahasa Cinta Bramanta Wijaya Dalam Tiga Budaya

Jakarta, Kirani – Bramanta Wijaya, desainer muda berbakat yang tengah menduduki peringkat atas di dunia fashion Indonesia ini mengaku selalu mengikuti kata hati. Menuangkan apa yang bergemuruh dalam hati dan benaknya melalui goresan pensil berbentuk wajah dan gaun. Gaun pengantin klasik dalam pernikahan hangat dan romantis menjadi elemen utama dalam rancangannya sejak Bramanta memulai karir pada tahun 2011.

 

“Saya memiliki visi menciptakan keindahan di dunia ini melalu busana. Saya juga memiliki beberapa misi yaitu menciptakan desain yang presisi namun juga merengkuh setiap bentuk tubuh dari setiap wanita, mengkreasikan desain klasik yang menunjukan karakter perempuan yang sebenarnya, serta mengedepankan desain klasik dengan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu,” ungkap desainer kelahiran Semarang ini.

Dan pada tahun 2018 ini, Bramanta Wijaya mengeluarkan Trilogi rangkaian koleksinya yang berbicara tentang tiga esensi hidup manusia, yaitu Keyakinan, Harapan, serta Tresno. Memiliki arti cinta dalam bahasa Jawa, tresno ini bisa diartikan cinta kepada Tuhan, keluarga juga sahabat. Tresno yang dipresentasikan pada 7 Desember 2018 di Raffles Jakarta, juga menjadi bagian terakhir dari tiga esensi ini serta menjadi tali yang saling mengaitkan dua esensi lainnya, yaitu Keyakinan dan Harapan.

Terlahir sebagai peranakan Cina – Eropa, ditambah budaya Jawa yang mengakar pada dirinya memberi pengaruh yang unik dalam koleksi kali ini. Ketiga budaya tersebut menjadi paduan bahasa yang kaya dan mudah untuk dipadukan karena cinta yang mendalam terhadap akar budaya Indonesia yang majemuk. Sentuhan kontemporer dalam potongan kain seakan mampu merekam jejak ketiga budaya bangsa lewat motif-motif batik Peranakan Cina dan Jawa, berhias sentuhan inspirasi gaya Eropa.

Terinspirasi oleh klan Manchu dari Dinasti Qing yang merayakan kebebasan wanita dalam strata sosial mereka, diterjemahkan melalui koleksi Tresno dalam siluet anggun jubah wanita bangsawan. Gaun midi dengan potongan trapeze dengan potongan melebar membuat gerakan pun terasa bebas. Hadir pula jubah Manchu dengan 4 belahan yang diberi twist sedikit menjadi gaun panjang berhias detail kancing yang dipadukan dengan celana panjang.

Kerah Shanghai terlihat mendominasi hampir setiap gaun. Sentuhan bustier klasik dan elegan berpadu kain sarung khas kebaya Encim, serta rok berpotongan flare dengan gaun cheongsham sebagai manifestasi dari era ekspresi kebebasan wanita China di tahun 1930 terlihat hadir silih berganti.

 

Teknik bordir diguratkan pada kain linen bermotif bunga krisan dan bunga-bunga Eropa lain. Sebuah motif khas yang dikembangkan oleh kaum pernanakan China dan Eropa yang merindukan warna-warna cerah dan buket bunga sebagai hadiah yang melambangkan kasih. Selain motif bunga, terdapat pula motif awan yang mengingatkan pada Mega Mendung dan garis geometris sebagai representasi hasil perpaduan budaya di pesisir utara Jawa. Irama khas daerah Banyuwangi juga sesekali terdengar lewat alunan musik oriental, menegaskan nuansa akulturasi.

 

Teks : Dessy Rachmawati