Jakarta, Kirani – Sebuah pemandangan menarik tersaji ketika tiga wajah desainer Indonesia muncul di Planetarium Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Mereka adalah Auguste Soesastro, Stella Rissa, serta duet Andy Tandjung dan Jerome Kurnia.
Dalam video singkat yang diputar di salah satu fasilitas andalan TIM tersebut, ketiganya tampil dalam proyek eksplorasi bersama ‘With Gemini, In Craft’. Kolaborasi ini mendorong batas kreativitas ketiga perancang melalui karya yang didukung oleh kecerdasan buatan terkini dari Google, Gemini. Acara ini berlangsung dalam Press Briefing “Mind, Thread, Vision With Gemini, In Craft” di TIM, Jakarta, Kamis (3/9).
Sebuah kolaborasi eksplorasi bersama KRATON Auguste Soesastro, STELLARISSA, dan TWO STITCHES ini membuktikan bagaimana Gemini berperan sebagai mitra yang personal, proaktif, dan andal dalam berkarya.
Melalui inisiatif ‘With Gemini, In Craft’, Google menjadikan kecerdasan buatan sebagai mitra kreatif yang personal, proaktif, dan andal dalam berkarya dan mendukung rumah mode, studio kreatif, serta pelaku usaha di Indonesia. Inisiatif ini menyoroti kemampuan Gemini dalam menyederhanakan alur kerja studio yang kompleks.
Selain itu, Gemini juga mampu memperkaya penuturan kisah atau storytelling. Lebih jauh, teknologi ini menghubungkan perancang lokal dengan audiens global, sembari tetap menempatkan autentisitas seni dan keahlian kriya manusia sebagai pusat utama penciptaan karya.

Industri Kreatif dan Peran Gemini di Studio
Industri mode terus menjadi salah satu pilar penggerak ekonomi kreatif Indonesia, menyumbang 58,55% dari total ekspor barang kreatif pada awal tahun 2026, serta berdampingan bersama subsektor kuliner dan kriya sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dari 27,4 juta pekerja kreatif di Indonesia tahun lalu.
Dan untuk mendukung industri ini, Google berkolaborasi dengan tiga label mode terkemuka Indonesia dalam ranah riset warisan budaya, penuturan kisah multimedia, dan alur produksi lintas batas.
“With Gemini, In Craft” membuktikan sebuah kebenaran mendasar: teknologi mencapai potensi terbaiknya ketika memberdayakan imajinasi manusia. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana Gemini berperan sebagai mitra yang personal, proaktif, dan andal di studio, yang menyederhanakan riset yang rumit, mengubah sketsa asli menjadi format multimedia beragam, dan mendorong pertumbuhan komersial tanpa batas.
“Seiring Gemini terintegrasi ke dalam alur kerja harian masyarakat Indonesia, kami tetap berkomitmen untuk berkolaborasi dengan para kreator lokal, mendukung usaha kecil, merayakan warisan budaya, dan memastikan kreativitas manusia tetap menjadi pusatnya,” kata Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia.
Veronica juga menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia didukung oleh adopsi digital yang kuat, di mana Indonesia kini menempati peringkat lima besar dunia dalam penggunaan Gemini. Saat ini, 1 dari 2 prompt di Indonesia bersifat multimodal atau memadukan teks dengan gambar atau video, dan para pengguna di seluruh negeri menghasilkan hampir 9 juta gambar lewat aplikasi Gemini setiap harinya, tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kolaborasi Desainer Bersama Gemini sebagai Mitra dalam Berkarya
Bagi Auguste Soesastro, jejak internasionalnya sudah dimulai sejak lama. Lahir di Jakarta dan besar di Belanda, Amerika Serikat, dan Australia, ia menempuh studi Arsitektur di University of Sydney dan Digital Arts di Australian National University. Pada usia 24 tahun ia pindah ke Paris untuk belajar di École de la Chambre Syndicale de la Couture, lalu magang di sejumlah rumah haute couture sebelum bekerja untuk couturier Ralph Rucci di New York.
Pada 2008 ia meluncurkan label KRATON pertama kali di New York City, dengan misi membawa aspek terbaik seni dan budaya Indonesia ke dunia mode global. KRATON kemudian debut di New York Fashion Week Februari 2009 dan karyanya telah dipentaskan di pusat mode seperti New York, Milan, dan Jakarta.
Dalam proses berkarya, Auguste selalu menempatkan riset mendalam sebagai fondasi. KRATON dikenal dengan teknik penjahitan arsitektural dan komitmen melestarikan warisan budaya melalui tekstil lokal. Namun riset lintas negara dan lintas bahasa kerap menjadi tantangan, terutama saat mengakses arsip internasional dan memverifikasi silsilah antargenerasi di enam wilayah leluhur.
Di sinilah Gemini berperan sebagai mitra riset. Dan, Auguste memanfaatkan Gemini Deep Research untuk mengakses arsip internasional yang sebelumnya sulit dijangkau, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, serta menyusun catatan narasi terstruktur dan bibliografi riset yang komprehensif. Bersama Gemini, ia merancang koleksi adibusana khusus bespoke couture bagi Kenya Kamalashila Soekarno, putri seniman Enrico Soekarno, tanpa meninggalkan keaslian dan kedalaman budaya yang menjadi ciri khas KRATON.

Sementara Stella Rissa mencoba memperluas eksplorasi kreatifnya melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Wanita berparas cantik ini merupakan penata busana di balik label STELLARISSA yang dikenal lewat karya busana clean and wearable dengan perhatian pada detail dan keterampilan tangan. Sejak debut 2008, ia konsisten memberdayakan perempuan lewat desain yang menonjolkan siluet tegas dan sensual.
“Sebagai fashion house yang biasanya bikin bridal, itu semuanya biasanya hampir 90 persen menggunakan tangan,” kata Stella kepada awak media. Dan ia melihat kreativitas bisa melampaui busana. Stella memanfaatkan Gemini sebagai mitra studio yang intuitif untuk mengembangkan karakter Starlet yang pernah ia buat dan kembangkan saat pandemi.
Baginya, Gemini sebagai mitra studio yang intuitif untuk mengembangkan karakter lukisan tangannya. Dengan bantuan Gemini, karakter lukisan tangannya itu ditransformasikan lewat runway virtual fitting dan perputaran 360 derajat ke dalam ekosistem multimedia yang ekspansif. Stella juga mengembangkan karakter orisinal menjadi serial animasi, podcast, hingga mainan koleksi 3D.
Melalui pendekatan ini, Stella sebagai desainer yang selama ini dikenal memiliki siluet yang tegas dan sensual membuktikan bahwa teknologi bisa memperluas dunia IP miliknya. Tentu saja hal ini tanpa menghilangkan kehangatan sentuhan seni buatan tangan yang menjadi DNA STELLARISSA.
Sementara, TWO STITCHES oleh Andy Tandjung & Jerome Kurnia menggerakkan studio kreatif tanpa batas. Duet Andy dan Jerome ini dikenal dengan busana streetwear avant-garde dan everyday essentials. Melalui TWO STITCHES, mereka memanfaatkan Gemini untuk menyatukan tim desain dan bisnis yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin dalam perilisan koleksi terbaru mereka, “MRTYNY”.
Melalui konversi sketsa konseptual menjadi simulasi jatuh kain 3D dan pengepasan virtual pada simulasi model di Gemini, TWO STITCHES memangkas waktu yang diperlukan untuk proses pembuatan sampel fisik dari hitungan bulan menjadi hitungan hari. Ini juga dipadukan dengan analisis pasar prediktif dan tolok ukur harga. Bersama Gemini, TWO STITCHES berharap untuk dapat meminimalkan pemborosan akibat produksi berlebih melalui pendekatan kriya berbasis data.
Teks: Hadriani Pudjiarti | Foto: Gemini Google

