Jakarta, Kirani – Menyambut perayaan 500 tahun Kota Jakarta, Batik Marunda menghadirkan koleksi bertajuk “Aku, Jakarta” di panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Kamis lalu (30/7).
Batik Marunda merupakan karya para perajin Rusunawa Marunda melalui pembinaan Irma G Sinurat yang sudah berjalan selama 12 tahun. Kamis malam itu, Irma sebagai pemilik Batik Marunda, menghadirkan sembilan rancangan busana dengan signature look ‘Sampir Jakarta – The Jakarta Drape’.
Persembahan koleksi Irma di panggung IFW kali ini untuk menceritakan identitas ibu kota dan menjadi bukti Jakarta juga memiliki batik yang lahir dari tangan warganya sendiri.
Perempuan berdarah Batak ini konsisten mengembangkan batik Marunda dengan melibatkan para perempuan di Rusunawa Marunda.
“Aku terharu, ini pekerjaan yang dengan suasana perasaan bercampur aduk, senang bisa membantu mereka para perempuan, dan bangga bahagia karena mereka bisa memiliki ketrampilan dan kemampuan berkarya,” kata Irma sambil menegaskan untuk setiap koleksinya adalah batik tulis yang dikerjakan para perempuan dengan waktu pengerjaan dua minggu.

Membina dan mengajari para perempuan di Rusunawa Marunda menjadi kebahagiaan tersendiri untuk wanita berusia 62 tahun ini. Bukan semata memberikan pekerjaan, tetapi ada makna mendalam bisa melakukan pemberdayaan, mengajari para perempuan yang tinggal kawasan tersebut sehingga mereka memiliki value atau nilai bisa berkarya, punya kemampuan dan mandiri.
Ada sebanyak 20 orang terdiri dari buruh cuci, pekerja serabutan dan sebagainya, yang membuat Irma merasa terharu karena mereka mau dididik dan dibina hingga berhasil mempersembahkan karya Batik Marunda ‘Sampir Jakarta – The Jakarta Drape’.
Irma menegaskan para perempuan ini tinggal di Rusunawa alias rumah susun Marunda milik Pemprov DKI Jakarta. Awalnya, mereka tinggal di kawasan kumuh yang direlokasi ke rusun ini dan disediakan fasilitas sebagai pengrajin Batik Marunda.
“Aku, Jakarta adalah cerita tentang kami sebagai orang Jakarta. Batik dibuat di Jakarta oleh orang Jakarta. Jadi, benar-benar karya warga Jakarta. Bersama para perempuan penghuni Rusunawa Marunda, kami menghadirkan batik tulis yang bukan sekadar karya fesyen, tetapi juga simbol perjalanan, pemberdayaan, dan harapan,” kata Irma yang memiliki latar belakang pendidikan arsitek.
Sehelai Kain Dikenakan di Bahu Sebagai Simbol Kehangatan
Menariknya, koleksi Sampir Jakarta tidak sekadar hadir dalam bentuk kain panjang yang membungkus tubuh. Di tangan wanita berambut lurus ini, pemilihan konsep sampir dimaknai sehelai kain yang dikenakan di bahu sebagai simbol kehangatan.
Menurut Irma, secara filosofi hal ini mencerminkan karakter Jakarta yang selalu terbuka , hangat kepada warganya dan bagi siapa saja yang datang ke kota ini.

Untuk siluet busananya Irma menyajikan secara sederhana berupa sentuhan kontemporer supaya mudah dikenakan generasi muda. Irma pun secara terbuka memilih membiarkan kekuatan cerita dan motif sebagai pusat perhatian.
Baginya, Jakarta adalah melting pot, tempat bertemunya berbagai budaya. Semangat ini dia terjemahkan ke dalam rancangan busana yang mempertemukan tradisi membatik dengan gaya urban masa kini.
Batik Marunda menghadirkan wajah Jakarta yang lebih segar. Motif Museum Sejarah Jakarta, bangunan Kota Tua, unsur topeng Betawi, petasan, hingga detail ondel-ondel diolah secara abstrak sehingga menghasilkan karakter yang lebih modern. Selain itu, Batik Marunda juga mengangkat kekayaan flora dan fauna khas Jakarta seperti Melati Gambir, Kembang Kelapa, Elang Bondol, dan berbagai tanaman yang menjadi identitas ibu kota.
“Batik Marunda menjadi batiknya kota Jakarta yang harus diapresiasi,” kata Irma yang di panggung IFW 2026 malam itu mendapat sambutan meriah. Bisa dibilang, penampilan Irma yang malam itu tampil bersama delapan perancang bertema Ragam Kultura Jakarta, menjadi puncak antusiasme dan meriahnya sambutan para undangan.
Teks : Hadriani Pudjiarti I Foto: Istimewa

