Re-See French Designers x Residency, Mengulik Cerita Sebuah Karya

Jakarta, Kirani – Di panggung mode, sebuah busana bukan hanya karya, tapi juga punya cerita. Hal itu terasa dalam acara Re-See French Designers x Residency di Fashion Tent La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Senin lalu (27/7).

Dengan konsep Re-See, panggung runway disulap menjadi studio. Pengunjung dan media bisa masuk ke “workshop” para desainer Indonesia dan Prancis, melihat detail koleksi, dan berdialog langsung tentang inspirasi, bahan, hingga proses kreatif.

Re-See menjadi ruang yang intim untuk mengulik cerita dan semangat di balik sebuah karya. Salah satunya terlihat dari kolaborasi Lisa Rayar dari Prancis dan Gabriel Marcella Budiono dari Semarang dalam program PINTU Residensi di bawah payung PINTU Incubator.

Sebelum bertemu langsung, keduanya banyak berdiskusi daring. Kolaborasi mereka melahirkan koleksi “Au Large” yang berarti ‘lepas pantai’. Bertema maritim, karya ini memadukan kreativitas Prancis dengan kekayaan tekstil Indonesia..

“Sebuah kesempatan emas. Melalui Au Large, kreativitas kami bisa hidup berdampingan dalam konteks mode kontemporer. Tujuannya memadukan kreativitas Prancis dengan kekayaan tekstil Indonesia,” kata Lisa.

Ia mengaku terbantu oleh eksplorasi batik Mojokerto karya Gabriel yang terinspirasi dari penelitiannya, tradisi Sedekah Laut. Motif hijau dan putih pada batik itu merepresentasikan sesajen dalam ritual tersebut.

“Dari sini saya belajar menyelami seni kriya Indonesia, terutama kain tradisional. Ini membantu saya memahami pasar Asia lebih utuh,” ujar alumni LISAA Fashion Paris ini. Sebelumnya. Lisa juga menempuh Pendidikan di École de Condé Lyon dan IICC Fashion Marseille.  

Di negerinya, Lisa Rayar dikenal  sebagai desainer wanita dengan rancangannya berkarakter struktural dan pendekatan berkelanjutan. Dia pun dikenal piawai memadukan konstruksi teknis dengan keahlian tangan yang ramah lingkungan. Diakui Lisa, peran Gabriel banyak membantunya berkenalan dan beradaptasi dengan material lokal, “Kami ingin menggunakan batik dengan cara modern karena saya pikir orang Prancis bisa menyukainya, tapi kami ingin busana bisa dikenakan dengan cara kontemporer,”kata dia.

Lisa banyak belajar hingga mendapati bahwa tradisi tekstil Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri, misalnya batik yang sarat filosofi dan makna, suatu pola menyimpan makna yang jauh melampaui sekadar unsur dekoratif.

Sementara Gabriel, desainer Indonesia merasakan hal sama. “Kolaborasi ini proses panjang. Kami saling bertukar gagasan, mempertanyakan asumsi, dan membangun visi bersama. Kami sama-sama belajar dan saling melengkapi,” ujar lulusan ESMOD itu.

Selain Lisa dan Gabriel, Re-See juga menampilkan karya kolaborasi Beatrice Angelica x Micakael Nana, serta desainer dan brand Paris lainnya: 30%70, Rohan Mirza, Louise Marcaud, dan TAREET x DENIMITUP. Setiap jahitan, material, hingga teknik konstruksi bisa diamati langsung. Di sinilah warisan budaya Indonesia diterjemahkan lewat perspektif desainer Prancis secara kontemporer.

Program Ruang Belajar Profesionalisme Industri Fashion Global

Hadir di sesi tersebut, Thresia Mareta, Presiden Direktur JF3 sekaligus inisiator PINTU Incubator, menyebut program ini sebagai ruang belajar profesionalisme industri fashion global.

“Kolaborasi dua negara membuka jalan bagi perancang Indonesia ke panggung dunia, dan sebaliknya bagi desainer Prancis tampil di sini,” ujarnya.

Menurut Thresia, tren dunia kini mengarah ke desain sederhana, fungsional, dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Karena itu desainer Indonesia perlu beradaptasi dan membangun bisnis berkelanjutan.

“Lewat residensi, desainer kita belajar cara kerja industri fashion internasional secara profesional. Di Prancis, kreativitas sejak awal diajarkan harus punya nilai komersial agar bisa berkembang,” katanya.

Thresia berharap kolaborasi ini berlanjut ke peluang bisnis, jaringan internasional, hingga akses fashion week dunia.

“Setelah kerja sama dengan Korea, kami terus membangun koneksi baru agar desainer Indonesia punya panggung lebih luas. Bagi desainer asing, JF3 juga jadi kesempatan mengenal pasar dan budaya Indonesia,” tutupnya.

Teks : Hadriani Pudjiarti I Foto : JF3 2026