PINTU Incubator Membangun Fondasi Talenta Mode di Tanah Air dan Global

Jakarta, Kirani – Pada 2026, PINTU Incubator menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling. Program ini melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.

Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Senin (20/7) di JF3 Media Lounge, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, PINTU menyampaikan perkembangan program 2026, berbagai kolaborasi yang telah berlangsung,

Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026, yaitu dua brand, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Kelima peserta tersebut menghadirkan pendekatan yang beragam, mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi

PINTU Accelerator: Membuka Ruang Kolaborasi

Pada jalur Accelerator, DENIMITUPmengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET. Kolaborasi tersebut mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.

Sementara itu, Lil Public berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis, sekaligus memberikan pengalaman presentasi dan interaksi bagi brand Indonesia di lingkungan mode internasional.

Kedua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana jejaring PINTU dapat membuka ruang bagi kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan kemungkinan baru bagi para pelaku mode Indonesia.

PINTU Residency: Dialog Kreatif Indonesia dan Prancis

Memasuki penyelenggaraan keduanya, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer. Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.

Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi Garuda. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.

Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer. Hasil dari kedua proses tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.

Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda. Kolaborasi ini menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan, dan memiliki nilai jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat.

Teks: Hadriani Pudjiarti I Foto: JF3 2026