Jakarta, Kirani – Selama empat tahun perjalanannya sejak 2022, PINTU Incubator telah tumbuh menjadi program inkubasi mode. Dia tidak hanya membina desainer muda Indonesia, tetapi juga membuka jalur kolaborasi internasional, salah satunya melalui kerjasama jangka panjang dengan École Duperré Paris.
Pada tahun ini, PINTU meluncurkan program baru yaitu Residency Program yang menunjukkan bahwa masa depan fashion terletak pada keberanian untuk melintasi batas—baik geografis, budaya, maupun ideologis. Lebih dari sekadar menghasilkan busana, program ini menghadirkan narasi, identitas, dan harapan baru bagi fashion Indonesia di kancah global.
Residency Program, sebuah program residensi untuk desainer muda Prancis yang dirancang untuk menciptakan pertemuan langsung antara kreativitas Prancis dan kekayaan budaya Indonesia.
Program ini merupakan sebuah inisiatif yang mempertemukan desainer muda Prancis dengan kekayaan budaya Indonesia dalam perjalanan kreatif selama tiga hingga empat bulan di Indonesia.
Dan diiprakarsai oleh Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) dan LAKON Indonesia bersama Kedutaan Besar Prancis melalui IFI.
Kini, PINTU Incubator telah menghadirkan pendekatan kurasi, edukasi, dan diplomasi budaya yang terintegrasi, hingga mendapatkan apresiasi langsung dari Presiden Emmanuel Macron sebagai simbol keberhasilan kerja sama kreatif antara Indonesia dan Prancis.
PINTU Incubator yang berkolaborasi dengan student École Duperré membawakan parade show antara lain tiga perancang muda seperti Bjorn Backes, Mathilde Reneaux dan Pierre Pinget pada akhir Juli, Minggu (27/7) di Mal Kelapa Gading.

Bjorn Backes – Student École
Bjorn Backes merupakan seorang desainer aksesori luxury ready-to-wear yang memiliki spesialisasi dalam bordir dan penciptaan karya unik. Selain itu, dia juga istimewa menggunakan teknik chainmail yang menggabungkan logam dan kulit. Dia unggul dalam mengembangkan eksperimen tekstil inovatif dan teknik-teknik yang mendorong batasan dari keahlian tradisional.
Melalui penelitian vo lumetrik, dia pun menciptakan kembali bentuk dan efek yang terinspirasi dari arsitektur Gotik. Termasuk langit-langit berkubah, detail pahatan, dan ukiran rumit. Dia menerjemahkan referensi historis tersebut menjadi aksesori modern dengan dimensi naratif yang kuat.
Karyanya berpusat pada memori dan pelestarian kenangan melalui objek, merancang karya yang mengungkap dan mengangkat ingatan personal maupun kolektif. Terinspirasi oleh prinsip-prinsip yang telah lama digunakan oleh Gereja untuk memuliakan dan melindungi relikui suci, ia menciptakan aksesori yang berfungsi sebagai reliquary kontemporer.
Dia mengasah keahliannya selama magang di Weinsanto dan Mugler, di mana mendalami proses kreatif rumah mode kelas atas. Pengalaman ini memungkinkannya untuk memperdalam keterampilan teknisnya, mendapatkan wawasan mengenai pendekatan desain yang inovatif, dan bereksperimen dengan reinterpretasi karya arsip menjadi bentuk kontemporer.
Pada tahun 2024, ia memenangkan penghargaan bergengsi “Knitdesign Award” dari Loro Piana, dan ia akan segera bergabung dengan merek tersebut dalam kontrak jangka waktu tertentu untuk lebih memperluas pengetahuannya tentang produk kulit mewah dan memperoleh savoir-faire baru di dunia kerajinan kulit kelas atas.

Mathilde Reneaux – Student École
Mathilde Reneaux mempersembahkan sebuah koleksi yang sepenuhnya dibuat secara handmade. Koleksi ini berlandaskan pada keahlian, khususnya bordir, penciptaan material, dan pembuatan aksesori.
Koleksi ini diberi judul ‘Syrius, it dog’ yang terinspirasi dari kisah hubungannya dengan anjing kesayangan bernama Syrius. Koleksinya ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat yang secara bertahap mengubah makhluk hidup yang dalam hal ini anjing menjadi objek konsumsi.
Dan melalui lima siluet dan satu lini aksesori, koleksi ini menyajikan narasi visual yang menelusuri perjalanan dari hewan liar hingga menjadi produk yang terstandarisasi.
Setiap tahapan mencerminkan fase dalam transformasi ini yaitu hewan bebas menjadi teman, lalu menjadi aksesori, kemudian menjadi citra, hingga akhirnya direduksi menjadi karakteristik yang paling diinginkan.
Di proyek ini, Mathilde menggunakan material dan teknik yang bermakna, seperti kulit, bordir, dan logam, serta mengacu pada bahasa visual dari produk kulit dan perhiasan untuk menyoroti mekanisme fetisisasi.
Menariknya, tas-tasnya berbentuk tubuh anjing yang terdistorsi secara hiper-tipikal akibat pembiakan selektif, menggambarkan bagaimana estetika sering kali lebih diprioritaskan daripada kesehatan. Dengan cekatan dia menghadirkan ‘It-bag’ menjadi ‘it-dog’: sebuah objek status yang lentur dan diproduksi massal.
“Saya menampilkan enam tampilan lengkap beserta aksesoris-aksesoris pendukungnya. Dan sebagai kontras terhadap standarisasi tersebut, koleksi ini mengadopsi pendekatan kerajinan tangan,” kata dia
Dan pada setiap karya dianggap unik dan mengikuti ritme kreatifnya sendiri. Pada Bordir, misalnya, tidak digunakan sebagai hiasan semata, melainkan sebagai gestur pemulihan, cara untuk memperlambat, kembali terhubung dengan material, dan mengembalikan perhatian kepada makhluk hidup.
“Memang untuk saat ini, koleksi ini belum tersedia untuk dibeli, tetapi saya ingin fokus pada penciptaan karya-karya unik yang dibuat sesuai pesanan,” kata Mathilde.

Pierre Pinget – Student École Duperré “Mafia”
Dalam koleksinya ini Pierre Pinget menafsirkan ulang simbol visual dari sosok mafia Italia melalui sudut pandang tailoring kontemporer dan pemberdayaan perempuan. Kemudian koleksi ini mengacu pada tradisi sartorial untuk mengeksplorasi gagasan tentang kekuasaan, penyamaran, dan otoritas.
Pierre menjelaskan koleksinya berakar dari tailoring tradisional Italia, yang dipelajari secara mendalam selama mengikuti program pertukaran Erasmus selama enam bulan di Napoli dan di bawah bimbingan Master Tailor Antonelli Lello.
“Di sana, saya belajar membuat pakaian fully canvassed, 95% di antaranya dibuat sepenuhnya dengan tangan. Dan pondasi kerajinan ini menjadi dasar eksplorasi estetika dan simbolis dari figur mafia dan representasi visualnya,” kata Pierre yang menyebutkan terinspirasi oleh sinema The Godfather, Casino, Borsalino dan The Penguin.
Kemudian dijelaskan juga dia meneliti jas tailored sebagai alat untuk dominasi, intimidasi, dan penyamaran. Dan simbol-simbol ini ditafsirkan ulang melalui perspektif kontemporer dan feminin.
“Pada benang jahit kasar yang dibiarkan terlihat secara sengaja, sebagai cerminan dari jaringan mafia yang tak kasat mata. Pemakai dapat memilih untuk melepasnya sebagai gestur untuk melepaskan diri dari sistem atau membiarkannya sebagai tanda kesetiaan,” katanya panjang lebar.
Dia menghadirkan perempuan yang kini mengambil peran sebagai Don dan mewarisi jas milik suaminya dan mengubahnya menjadi senjata pribadi yang menjadi simbol kekuasaan, rekonstruksi, dan otoritas.
Pierre juga menghadirkan topi, aksesori ikonik dari sosok mafia, memperkuat anonimitas dan control dirinya. “Melalui koleksi ini, saya berupaya melampaui fantasi sinematik untuk menawarkan sebuah realitas yang nyata: sosok perempuan yang kuat, tegas, dan sepenuhnya mengendalikan citra serta posisinya.”
Dalam koleksinya ini dibangun dengan material mulia dan menuntut, yang dipilih dengan cermat untuk mencerminkan tingkat kualitas dan keanggunan yang diharapkan dari karakter-karakter yang ditampilkan dalam setiap siluet. Koleksi ini terdiri dari 7 siluet lengkap, termasuk jas, celana, kemeja, mantel, dan aksesori.
Bahan yang digunakan wol flanel berkualitas tinggi, kancing dan benang premium, beludru ungu iridescent 100 persen alami, dan organza sutra.
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto : JF3

