Menyingkap Keindahan Danau Lau Kawar, Di Kaki Gunung Sinabung

Jakarta, Kirani – Cantik dan memiliki pesona yang tak kalah dengan Danau Toba, membuat siapapun mudah jatuh cinta pada keindahan Danau Lau Kawar.

 

Keindahan Danau Lau Kawar memang tak bisa ditolak oleh mata setiap orang. Sayang, keindahan tersebut harus ditutupi karena kegarangan Gunung Sinabung yang masih tetap bergejolak. Butuh jarak tempuh 70 KM dalam waktu tiga jam dari Kota Medan untuk mencapai danau ini. Persis dibawah kaki Gunung Sinabung, Desa Kutagugung, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

 

Seperti kita ketahui, Gunung Sinabung yang kini masih terbatuk-batuk ini memiliki ketinggian hingga 2.451M dpl. Setelah meletus di tahun 2010 dan mengalami letusan freatik hingga 2011. Hal ini membuat Danau Lau Kawar belum bisa didatangi oleh pengunjung. Dalam jarak radius tiga kilometer masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan kegiatan di sektor Utara-Barat, empat kilometer untuk sektor Selatan-Barat, tujuh kilometer untuk sektor Selatan-Tenggara, enam kilometer untuk sektor Tenggara-Timur, dan empat kilometer untuk sektor Utara-Timur.

 

Perbukitan hijau, udara sejuk, cuaca yang sering tiba-tiba mendung membuat suasana danau sunyi dan sendu. Begitu tenang dan sejuk untuk dinikmati bila kita ingin mencari ketenangan. Danau Lau Kawar terletak di dataran tinggi, sehingga kabupaten ini dijuluki Tanah Karo Simalem. Iklim sejuk dan suhu berkisar 16 sampai 17 derajat celcius, membuat tanah di daerah ini subur untuk ditanami. Air tenang dan bening, serta tumbuhan anggrek di sekeliling danau adalah pemandangan danau sebelum terjadi letusan gunung.

 

Masyarakat masih tetap melakukan aktivitas memancing di danau.

 

Danau ini berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), berada di ketinggian 2.451 meter diatas permukaan laut. Bila situasi normal banyak suguhan keindahan yang dapat dinikmati dari kawasan Berastagi dan Dataran Tinggi Karo yang juga berada di kaki Gunung Sinabung. Jalur berliku jalan pegunungan, perkampungan, kebun sayur dan hutan pinus, terasa makin nikmat. Tak hanya pemandangan alam, kita juga bisa mengagumi kemegahan rumah adat Karo yang berusia ratusan tahun di sekitar jalur menuju Danau Lau Kawar, tepatnya di Desa Lingga.

 

Meski saat ini masyarakat harus waspada dengan situasi, tapi kegiatan penduduk asli dari memancing dan berkebun masih dilakukan. Diapit alam pegunungan yang ditumbuhi oleh kayu-kayuan hutan tropis. Pinggiran danau terbentang lahan seluas 3 Ha yang sangat cocok untuk berkemah dan bermalam. Selain itu kita dapat melakukan memancing, menyewa perahu atau kapal boat, dan panjat tebing. Bila ingin berkunjung kita tak memerlukan budget besar untuk ke Danau Lau Kawar.

 

Air Mata Kesedihan

Selain keindahan ternyata Danau Lau Kawar menyimpan misteri cerita yang dipercaya oleh masyarakat sekitar hingga saat ini. Ada yang bilang, kalau Danau Lau Tawar terbentuk dari air mata kesedihan seorang ibu yang melihat anak-anaknya berkelahi. Dua orang anaknya Sinabung dan Sibayak tidak mau dipisahkan, meski sang ibu berteriak-teriak dan menangis. Rasa sedih sang ibu membuat dirinya menyumpahi kedua orang anaknya, sehingga terjadi bencana besar yang menenggelamkan desa tersebut.

 

Versi lain, menurut masyarakat nama danau merupakan nama sebuah desa. Desa Kawar merupakan desa yang subur. Masyarakatnya memiliki mata pencarian bercocok tanam, sehingga hasil panen desa ini selalu melimpah. Suatu saat, di Desa Kawar panen meningkat dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya yang membuat persediaan padi di desa sangat berlebih.

 

Untuk mengucapkan rasa syukur terhadap rezeki panen yang melimpah, penduduk mengadakan pesta adat meriah dibanding tahun sebelumnya. Semua persiapan dilakukan, dari memasak, pakaian yang warna-warni, perhiasan hingga desa berhias. Semua penduduk bergotong royong saling bahu-membahu demi kelancaran upacara adat yang akan mereka gelar.

 

Pemandangan tenang, sejuk dan damai yang selalu ditawarkan oleh danau ini.

 

Tibalah saat pelaksanaan upacara adat yang dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron yang merupakan musik khas masyarakat Karo. Pesta dihadiri seluruh penduduk kecuali seorang nenek tua renta yang sedang lumpuh. Namun anak, menantu maupun cucunya turut hadir dan melupakan mengirim makanan kepada sang nenek. Saat pesta usai, mereka baru ingat untuk mengirim makanan melalui sang cucu. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega terhadap dirinya. Sang nenek merasa sangat sedih dan terhina dan air mata kesedihan tak terbendung lagi.

 

Nenek tersebut berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya yang begitu tega pada dirinya. Seketika, langit menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan angin turun dengan lebatnya. Penduduk desa pontang-panting menyelamatkan diri, tapi semua tidak bisa diselematkan. Desa dan seluruh penduduknya tenggelam dari keganasan alam. Konon jika hari baik dan cerah akan terlihat permukaan danau yang sangat subur. Tidak hanya itu saja, wisatawan dilarang untuk berkata kotor dan berbuat maksiat apabila berada di lingkungan danau. Bila dilanggar, penunggu danau akan marah ditandai dengan datangnya badai secara tiba-tiba.

 

Teks : Galuh            Foto : Dok. Istimewa

 

 

Facebook Comments