JAKARTA, Kirani – Penuaan kulit merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Seiring bertambah usia, produksi kolagen dan elastin menurun sekitar 10% tiap 10 tahun. Akibatnya kulit kehilangan kekencangan dan elastisitas.
Tren perawatan anti aging kini bergeser. Jika sebelumnya masyarakat cenderung memilih prosedur instan atau berbasis alat, saat ini permintaan mulai mengarah ke solusi yang menargetkan penyebab penuaan dari dalam.
Dalam jumpa pers dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta, Selasa (2/6), menyebutkan paparan sinar ultraviolet sebagai faktor utama percepatan penuaan.
“Paparan UV tinggi adalah faktor penyebab aging nomor satu, sehingga kulit akan mengalami masalah,” ujar dr. Catherine.
Menurutnya, berkurangnya kolagen dan elastin membuat kulit menipis, kendur, dan berkerut. Kondisi ini bisa dievaluasi secara sederhana melalui “tes cubit pipi”. Kulit yang sehat dan muda memiliki lapisan tebal, kencang, dan kenyal.
Mengenal Collagen Stimulator PLLA-SCA
Salah satu perawatan non-bedah yang mulai digunakan adalah injeksi biostimulator PLLA-SCA atau Poly-Lactic Acid Skin Collagen Activator. Produk dari Galderma ini telah digunakan dokter estetika di berbagai negara selama lebih dari 25 tahun dan mulai tersedia di Indonesia sejak Oktober 2024.

Berbeda dengan dermal filler yang memberikan volume secara langsung, PLLA-SCA bekerja dengan merangsang fibroblast untuk memproduksi kolagen alami tubuh secara bertahap.
“Setelah tiga bulan, kulit akan naik, pigmentasi berkurang, smile line lebih tersamar, kulit di sekitar mata lebih naik, dan dagu pun naik sehingga jaw line lebih terlihat,” jelas dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC
Durasi Efek dan Keamanan
Efek PLLA-SCA tidak bersifat instan. Hasil optimal terlihat beberapa bulan setelah perawatan karena proses pembentukan kolagen berlangsung bertahap. Bahan ini bersifat biodegradable dan akan terurai sepenuhnya dari tubuh seiring waktu.
Kolagen baru yang terbentuk diklaim dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan, sehingga memperbaiki kualitas dan struktur kulit dalam jangka panjang. dr. Catherine menekankan pentingnya tenaga medis yang kompeten dalam prosedur ini.
“Obatnya sudah bagus dan aman, tapi kalau yang menyuntik bukan ahli, berisiko terjadi berbagai efek samping. Penting sekali untuk memilih dokter dan klinik yang tepat,” pungkasnya.
Perawatan dengan collagen stimulator memerlukan beberapa sesi injeksi. Dosis dan kebutuhan tiap pasien disesuaikan dengan usia serta kondisi wajah.
Teks/Foto : Tim Kirani

