LPTB Susan Budihardjo Memperkenalkan Desainer Baru di Jakarta Fashion Week Melalui ‘Times”

Jakarta, Kirani – “Seorang desainer dilihat dari koleksi yang dipresentasikan di muka publik. Saat itulah orang menilai kreativitas dan kemampuan desainer secara utuh. LPTB Susan Budihardjo senantiasa memfasilitasi dan mendorong murid serta lulusannya untuk benar-benar terjun ke masyarakat. Salah satu upaya meningkatkan kemampuan desainer muda dengan mengajak mereka untuk ikut di dalam perhelatan mode seperti Jakarta Fashion Week ini”, papar Susan Budihardjo, pimpinan LPTB Susan Budihardjo.

 

Oleh karenanya, tak heran bila Susan rutin mengajak para murid dan alumni, terutama alumni terbaiknya untuk mengikuti beragam ajang fashion bergengsi, salah satunya adalah Jakarta Fashion Week, yang digelar pada 22-28 Oktober 2019 di Senayan City, Jakarta. Digelar pada Jumat, 25 Oktober 2019, LPTB Susan Budihardjo kali ini memberikan kesempatan kepada empat desainer muda, yaitu Bella Shofie, Sonia Angela, Prettycia Haqni, Abirani, dengan mengusung TIMES sebagai tema utama.

 

Koleksi Sonia Angela

 

Peragaan dibuka oleh Bella Shofie yang mengambil awan sebagai interpretasi waktu atau times. Awan yang selalu berubah baik bentuk maupun warnanya selayaknya waktu yang juga terus berganti. Menurut desainer yang juga artis film dan penyanyi ini, awan selalu berubah sejak pagi hingga malam hari, mulai dari putih, ungu, jingga, juga hitam. Palet warna ini yang dibawanya ke dalam busana yang bergaris desain glamor dan feminin. Gugusan awan hadir di setiap busana dalam bentuk ruffles unik yang berbeda-beda, dengan keunikan yang hadir pada gaun terakhirnya, dimana gaun panjang berupa gugusan awan yang tiba-tiba memendarkan cahaya dengan formula “glow in the dark” dan memberi efek dramatis saat lampu panggung dipadamkan.

 

Sementara itu, gerbang kastil yang ditumbuhi bunga mawar menjadi inspirasi koleksi Sonia Angela yang berupa office wear yang chic, stylish, dan elegan. Garis desain yang lurus layaknya gerbang dengan kelopak-kelopak bunga mawar yang hadir sebagai detail melengkung pada setiap koleksi hadir dalam warna-warna abu-abu, merah legam juga off white. Potongan pola yang ditindas dengan garis jahit tindas yang tertera diibaratkan sebagai gerbang yang kokoh hadir dalam busana dua-potong, dan tiga-potong; blus dengan padanan rok, maupun blus, vest, dengan celana panjang. Sonia begitu yakin dengan potongan tailor yang rapi, penempatan lining yang tepat, dan pola terstruktur di atas bahan wol dan satin, dan merasa tidak perlu mempertegas ide dengan bantuan embellishment lain kecuali sepatu yang senada serta scarf dan stocking bermotif abstrak kreasinya sendiri.

 

Koleksi Prettycia Haqni

 

Cia atau Prettycia Haqni tampil di urutan ketiga dengan dua belas koleksi busana yang terinspirasi dari gedung dan laut di Santorini, Yunani. Diberi judul Struktur, Cia menerjemahkan gedung dengan warna biru putih sebagai ciri khas Santorini dalam gaun dan busana koktail dalam warna yang sama. Di bagian bawah gaun dibentuk potongan semacam kubah dan lonceng gedung. Bahan duchess yang agak tebal dipilih untuk mempertegas bentuk. Gelombang laut diimplementasikan Cia menjadi pleats yang diolah dari bahan sifon dalam warna gradasi biru. Gaun tiered dress yang disusun tumpuk dalam potongan A tanpa lengan memberi gambaran yang kuat tentang gelombang laut.

 

Koleksi Abirani

 

Akhirnya, peragaan busana ditutup dengan begitu cantik oleh Abirani dengan koleksi busana bergaya constructed-edgy dalam aroma unisex berjudul Emotion. Abirani atau biasa dipanggil Rani, melihat waktu berjalan beriringan dengan emosi, yang diterjemahkannya menjadi potongan busana asimetris, dalam warna yang bercerita; off-white untuk mewakili ketenangan dan warna terang untuk menggambarkan emosi yang kental. Ketrampilannya memecah pola menjadi potongan-potongan tak terduga layaknya puzzle, dan menyatukannya kembali dengan jahitan, menjadikannya rumit saat setiap potong terbuat dari bahan yang sama sekali berbeda baik tekstur maupun jenisnya. Karenanya, dalam satu set busana Rani dapat memasukkan hingga dua puluh unsur yang berbeda. Menggunakan embellishment yang tidak biasa seperti pita, webbing, smock, kelingan, kaitan tas, dan mata itik, membuat desainnya terlihat begitu kaya. Webbing atau tali yang digunakan menjadi benang merah busana untuk menggambarkan bahwa tiap waktu saling berkaitan, tiap emosi saling berhubungan. Dalam gaya padu padan yang sangat modern, tas, sepatu dan kacamata menjadi pelengkap busana yang disiapkan sendiri. Rani salah satu dari sedikit desainer muda yang berhasil mengolah dan mengalahkan bahan sebagai gambaran dari pertanggungjawabannya sebagai seorang perancang mode.

 

 

Teks : Setia Bekti Foto : Dok. Tim Muara Bagdja

 

 

Facebook Comments