Persembahan Koleksi Desainer Nusantara dan Negeri Menara Eifel di JF3 2026

Jakarta, Kirani – Di panggung mode, tradisi dan inovasi menghadirkan kreativitas atau karya, yang tidak sekedar cantik, namun juga menarik dan menginspirasi. Keduanya, tradisi dan inovasi bersatu di panggung JF3 2026 dengan  menghadirkan koleksi kolaborasi desainer dari Indonesia dan Prancis.

Berlangsung di runway JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis lalu (23/7), peragaan ini pada setiap koleksinya seolah  merayakan dialog antara dua negara yaitu: Bumi Nusantara dan Negeri Menara Eifel. Adanya kolaborasi desainer Indonesia dan Prancis ini menghadirkan visi baru bagi masa depan mode kontemporer.

Menjadi sebuah panggung istimewa tempat keahlian serta warisan budaya Indonesia berpadu dengan desain Prancis, menampilkan koleksi yang lahir dari kolaborasi lintas budaya dan pertukaran kreatif. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan peragaan busana yang akan mendefinisikan ulang dunia mode global.

Di panggung peragaan ini pun menghadirkan desainer Prancis yang unjuk diri lewat karya ciamik mereka: 30%70, Rohan Mirza, Louise Marcaud, dan TAREET x DENIMITUP.

Kemudian bersama PINTU Residensi menghadirkan kolaborasi kreatif antara desainer Indonesia dan Prancis dalam edisi spesial bertajuk “Les Échos: Craft Across Cultures” yang menampilkan karya-karya unik hasil dialog budaya Timur dan Barat.

Melalui karya kolaborasi desainer Indonesia dan Prancis yaitu: Beatrice Angelica dan  Mickael Nana, serta serta Lisa Rayar dan Gabriel Marcella ini menarik pusat perhatian pengunjung runway JF3 2026.

Kolaborasi Desainer Indonesia dan Prancis

GARUDA, merupakan karya kolaborasi antara Beatrice Angelica dan Mickael Nana yang memadukan pendekatan tailoring Barat dengan warisan Tekstil Tanah Air, tenun dan songket Lombok melalui simbol GARUDA.

Adalah Beatrice Angelica, desainer Indonesia dan pendiri NOEN berkolaborasi dengan desainer asal Prancis, Mickael Marlon pendiri brand MARLON NANA.

Koleksi ini terinspirasi dari lambang Garuda yang melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keterbukaan.

Alih-alih berbenturan, tradisi berbeda ditunjukkan dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya.

Keduanya merayakan motto Garuda, “Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki makna “Persatuan dalam Keberagaman”. Inspirasi ini pun datang dari arsip foto Indonesia akhir abad ke-19 hingga awal ke-20, saat busana lokal dan pengaruh Eropa hidup berdampingan.

Dengan teknik draping tradisional, siluet lilit, dan tekstil buatan tangan ditafsir ulang secara kontemporer. Dilengkapi referensi gaya dari Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill, serta penjahitan Eropa era 70–80an, memberi struktur arsitektural.

Sementara keahlian Indonesia menghadirkan fluiditas dan kedalaman budaya. GARUDA didefinisikan sebagai perayaan mode dan bahasa dialog, di mana warisan berkembang tanpa kehilangan identitas.

Koleksi ini terdiri dari 10 look ready-to-wear untuk wanita dan pria. Dengan siluet tegas berpadu potongan longgar dengan sentuhan tradisi Indonesia.3 tekstil tenun tangan eksklusif hasil kolaborasi dengan perajin wanita Lombok.

Menggunakan teknik Songket dan Tenun dari katun pewarna alami, dengan motif Garuda dan aksen sulaman beludru. Perpaduan material tailoring, denim, beludru, tenun, dan outer teknis menciptakan tekstur kaya serta interpretasi modern dari kerajinan tradisional.

AU LARGE, Tentang Maritim, Laut atau Lepas Pantai

Sementara AU LARGE merupakan koleksi kolaborasi Gabriel Marcella dan Lisa Rayar. Gabriel merupakan direktur kreatif Soedisoei dan perancang busana pria yang berspesialisasi dalam wastra modern yang berbasis di Semarang. Sementara, Lisa memiliki karya yang mengeksplorasi budaya tekstil Asia melalui penelitian bahan dan siluet pahatan. 

Gabriel dan Lisa berada di program PINTU residensi yang dipertemukan oleh minat sama terhadap keahlian kerajinan tekstil, pertukaran budaya, dan mode kontemporer.

Penyatuan dua budaya yang berjauhan, AU LARGE justru mengungkap bahasa maritim bersama yang telah terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan yang mendalam dengan laut. Lebih dari itu, AU LARGE juga mengubah nilai bersama dua budaya pesisir menjadi narasi mode kontemporer.

AU LARGE pun bermakna “di lepas pantai” dalam bahasa Prancis yang mengeksplorasi hubungan tradisi maritim Prancis dan Indonesia.

Terinspirasi riset Gabriel tentang Sedekah Laut, koleksi ini menghubungkan pelaut Prancis dengan komunitas pesisir Jawa Utara melalui keahlian, ritual, dan penghormatan pada laut.

Koleksi ini menyajikan 12 look yang memadukan pakaian kerja maritim Prancis dengan tekstil Indonesia. Dengan siluet berstruktur bertemu draperi mengalir dan oversized. Kemudian tali, layar, dan jaring jadi elemen desain utama. Memakai material meliputi batik tulis, denim, katun, kain teknis, jaring sulam, hingga tekstil keemasan. 

Highlight-nya adalah motif batik orisinal yang memadukan kotak sarung Indonesia dan garis maritim Prancis melalui teknik sablon batik.

Teks : Hadriani Pudjiarti I Foto: JF3 2026