Harry Hasibuan JF3 2025

Keindahan Bunga dan Kerinduan Ibunda dalam Rancangan Harry Hasibuan di JF3 2025

Jakarta, Kirani – Seorang Ibu selalu menjadi kesayangan, motivasi hidup, semangat dan insiprasi berkarya. Hal ini juga berlaku pada desainer Harry Hasibuan, desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), dan ikut unjuk diri di Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2005, di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (25/7).

Melalui labelnya Haze Be Wear, Harry mempersembahkan koleksi terbarunya bertajuk ‘Falling for the Bloom’. Koleksi ini merupakan perayaan keindahan bunga-bunga yang bermekaran juga ungkapan rasa cinta dan sayang kepada Ibundanya yang telah meninggal dunia.

“Saya ingin menghadirkan keindahan bunga-bunga, mengajak semua berbahagia menyaksikan keindahan ini. Dan saya yakin di show ini membawa serta Mama yang sudah bahagia di surga,” katanya saat ditemui seusai acara.

Harry menerjemahkan karyanya ini ke dalam desain busana yang memadukan keanggunan klasik dengan sentuhan segar nan feminin.

“Saya dan Mama sama-sama suka keindahan bunga. Saya tahu Mama kini sudah bahagia di surga dan pasti bahagia menyaksikan Falling for the Bloom ini,” kata perancang bertubuh gempal ini sambil tersenyum.

Harry meyakini semua orang yang menyaksikan karyanya pada malam ini akan ikut bahagia melihat keindahan bunga-bunga seperti Melati, Lili, Mawar, Aster yang bermekaran dengan pilihan semburat warna-warna cerah dan hangat mulai warna oranye, hijau, kuning, pink hingga nuansa nude. “Semua menciptakan tampilan yang menyegarkan dan menggugah semangat,” pungkasnya.

Harry yang juga Sekretaris APPMI Sumatera Utara, kali ini menampilkan 20 koleksi busana. “Busana ini  didominasi oleh potongan loose dan siluet mengalir. Sehingga bisa menjadi pilihan sempurna untuk berbagai momen yang dapat dikenakan di acara pesta, cocktail night hingga perayaan,” katanya bersemangat.

Harry mengakui, koleksi ini dirancang inklusif sehingga bisa  dikenakan oleh berbagai rentang usia, baik muda maupun dewasa tanpa mengesampingkan sisi gaya dan kenyamanan.

Secara teknis, koleksi ini terdiri dari dress, setelan blus dan rok, serta blus dan celana panjang yang menonjolkan kesan elegan dan effortless. 

Harry menggunakan material yang memperkuat nuansa feminin dan glamor, seperti lace, tulle, organza, beludru, hingga aksen budaya melalui penggunaan kain songket dan tenun tradisional Indonesia. Di tangan kreatifnya, Harry mengerjakan karyanya dengan persiapan matang dengan waktu tiga hingga empat bulan.

Dan saat mempersiapkan rancangannya ini ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi mulai detail, fabric, payet hingga aplikasi pemakain detail bunga. “Bicara mengenai tantangan, saya harus menyajikan di karya saya ini ada yang menggunakan beberapa bahan pada satu baju. Tentu ini harus saya kerjakan dengan detail, teliti supaya hasilnya sempurna,” kata dia.

Perancang busana asal Medan ini dikenal lewat karya-karya yang terinspirasi dari kekayaan budaya lokal. Dia memiliki ciri khas dalam memadukan wastra tradisional dengan sentuhan glamor dalam desain yang modern.

Pada koleksi kali ini, Harry mengajak para pencinta mode untuk jatuh cinta kembali pada keindahan, kelembutan, dan kekuatan bunga. “Saya percaya kekuatan bunga tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga melambangkan semangat dan keanggunan perempuan,” tegasnya.

Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto: JF3