Karya Tiga Perancang dari Sekolah Desain Ecole Duperre Prancis

Jakarta, Kirani – Sama seperti tahun lalu, dalam kesempatan JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung Kamis lalu (23/7), juga menghadirkan karya tiga desainer dari sekolah desain Ecole Duperre Prancis.

Adalah setiap perancang mode dari sekolah desain ini hadir dengan konsep matang dan desain yang out-of-the-box, yang menggugah rasa penasaran mereka yang menatapnya. Penyelenggaraannya berlangsung meriah di runway JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Show dibuka dengan presentasi oleh Aurelien Voegelin yang menghadirkan Koleksi 3088 sebagai “surat cinta” tentang perdesaan Prancis. Aurelien mengahadirkan  elemen peternakan dan memamerkan enam tampilan yang dibuat dengan tailoring rapi, mulai dari mantel panjang hingga jaket longgar yang nyaman.

Dalam proses konstruksi, dia memadukan tailoring, cording, braiding, macramé, dan pengembangan tekstil buatan tangan.

Koleksi Aurelien Voegelin

Selanjutnya, desainer Maurien Willebien menghadirkan Beauties. Dia mengubah lanskap perdesaan Prancis milik Aurelien menjadi ruang feminin dan “centil”.

Di tangan Willebien, seolah ingin membuktikan dirinya menantang batas antara pakaian intim dan pakaian sehari-hari melalui layering, reinterpretasi, dan hybridisasi.

Karyanya ini menghadapi hiperseksualitas perempuan dengan mentransformasi underwear menjadi outerwear, menawarkan refleksi tentang representasi dan pembebasan tubuh perempuan.

Melalui Beauties, Willebien mengeksplorasi representasi perempuan melalui perspektif Willebien sendiri, sebuah ‘female gaze’ yang menempatkan pengalaman perempuan di pusat dialog kreatif.

Koleksi Maurien Willebien

Koleksi ini mempresentasikan visi keindahan sebagai ruang emansipasi, kepercayaan diri, dan kebebasan. Ia menyoroti perempuan yang merebut kembali kode-kode sosial yang mungkin dipaksakan pada mereka atau yang mungkin menjadi sumber penghakiman.

“Tentu saja, dengan menginterpretasikan kembali norma-norma ini, mereka mentransformasikannya menjadi alat ekspresi dan penegasan diri” ujar Willebien

Koleksinya menjadi perayaan pluralitas femininitas dan persepsi pribadi Willebien tentang keindahan yang bebas, percaya diri, dan kuat.

Selanjutnya, peragaan ini itutup karya  lansiran Paul Vidal yang unik dan berani. Koleksi bertajuk Wrap Me Up ini adalah penggabungan estetika berbusana abad ke-17 dan 18 dengan material pelindung kemasan yang menghadirkan dialog antara warisan sejarah dan ekspresi kontemporer.

Koleksi Paul Vidal

“Saya memiliki kebiasaan mengoleksi foto-foto lukisan yang saya temui di museum-museum di Prancis, Belanda, Belgia, hingga Jerman. Potret-potret dari abad ke-16 hingga ke-18 menjadi sumber inspirasi utama saya karena menampilkan karakter-karakter unik yang dibalut busana dengan siluet luar biasa,” kata Vidal menjelaskan panjang lebar.

Vidal menegaskan, melalui koleksinya ia membayangkan bagaimana sosok-sosok eksentrik dalam lukisan tersebut akan “membungkus” diri mereka jika hidup di masa kini.

Dengan volume kostum bersejarah diterjemahkan menggunakan estetika material pelindung seperti terpal, plastik transparan, dan pita perekat usang, sehingga menghadirkan perspektif baru tentang perlindungan, transformasi, dan memori.

Vidal juga menggunakan material yang flowy dan ringan dijahit ke dalam pakaian dengan tailoring rapi dan drapery yang lembut. Siluetnya menggabungkan referensi busana historis dengan bentuk oversized yang menyerupai kemasan pelindung.

Teks : Hadriani Pudjiarti I Foto : JF3 2026