Korea JF3

Karya Menarik Tiga Perancang Negeri Gingseng di Pangung JF3 2025

Jakarta, Kirani – Pelaksanaan Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) tahun ini tak hanya menghadirkan karya desainer lokal. Seiring berlangsungnya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Busan Fashion Week (Korea Selatan) dan JF3 (Indonesia) pada Sabtu (26/7) di Media Lounge Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, juga menghadirkan tiga desainer Korea Selatan yaitu Choi Chung-hoon dengan label Doucan, lalu  Junebok Rhee dengan label Rr Rhee dan Baek Juhee dengan Reonve.

Kehadiran tiga desainer Korea Selatan di panggung JF3 bukan sekadar unjuk diri dalam pertunjukan mode. Lebih dari itu, bisa dikatakan ini merupakan  sebuah pertemuan lintas budaya. Ya, lintas budaya dengan bentangan bermakna benang-benang cerita, memori, dan harapan pada sehelai kain yang juga berisi harmonisasi sebuah  kolaborasi fesyen nan indah yang ditorehkan oleh dua negara.

Dan ketiga desainer ini menghadirkan karya menarik dengan detail kekuatan tema, inspirasi, pemakaian bahan, detail rancangan dan sebagainya.   

Adalah Choi Chung-hoon, seorang desainer mode asal Korea Selatan dan pendiri merek Doucan. Dia menempuh pendidikan di Prancis di Studio Bercot. Kemudian memulai karirnya bekerja dengan berbagai merek mewah dunia seperti Chanel, Kenzo, dan Dior. Sekembalinya ke Korea, Choi meluncurkan Doucan pada tahun 2011, yang dikenal dengan warna-warna berani, memiliki motif grafis, dan desain terinspirasi alam yang memadukan fantasi Timur dengan gaya modern.

Merek busana wanita Korea ini juga dikenal memiliki cetakan yang cerah, terinspirasi alam dan siluet elegan yang memadukan estetika Timur tradisional dengan mode modern.

Secara rutin Doucan tampil di pekan mode internasional, dan desainnya telah dikenakan oleh bintang-bintang Korea, bahkan mendapatkan pengakuan global atas detail gaya yang halus namun ekspresif.

Di panggung JF3 ini, Doucan  menghadirkan tema  Rekonstruksi Memori. Tema ini bermakna momen-momen memori direkonstruksi secara tidak sadar, yang terakumulasi ditarik keluar, lalu berevolusi menjadi bentuk lain seperti organisme hidup dengan satu kekuatan hidup yang direkonstruksi dengan variasi baru.

“Saya menyajikan koleksi yang direkonstruksi yang melacak kembali kenangan mulai dari koleksi-koleksi yang telah dipamerkan sejak awal peluncuran hingga saat ini. Semua kenangan ini direkonstruksi secara tidak sadar dan mengandung Dna yang menggambarkan diri saya dengan baik,” ujarnya panjang lebar.

Motif cetak asli Doucan megah dan etnik dengan warna seperti emas dan merah. Selain itu, Doucan menampilkan barang-barang unik dengan kombinasi detail berani dan siluet trendi untuk menangkap sensitivitas unik.

“Saya tertarik pada motif karena saya menggambarnya sendiri. Ada motif batik di Indonesia yang sangat indah. Saya berencana untuk melihat banyak motif batik selama kunjungan ini,” kata dia.

Sebagai desainer yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan fashion, dia menyajikan sebuah koleksi karyanya dibuat menggunakan wig bekas. Tassel yang terbuat dari wig tersebut direkonstruksi menjadi jaket cape, dan digunakan sebagai detail pada tas, jaket, sepatu bot dan gaun satu potong untuk menciptakan koleksi yang mengesankan. Tassel rambut yang bergerak dinamis sesuai dengan langkah model membuat peragaan busana Doucan semakin megah dan dramatis.

Di kesempatan ini juga menayangkan video avatar 3D yang menampilkan identitas Doucan. Video ini dibuat bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki teknologi simulasi kostum 3D terbaik di dunia. Dan musik untuk pertunjukan mode Doucan diciptakan oleh komposer K-pop Korea terkenal. “Dia adalah komposer yang menciptakan lagu-lagu idola K-pop seperti U-KISS dan Jay Park. Dia adalah teman berharga saya dan terus menciptakan musik untuk pertunjukan mode Doucan.”

Kiprah Re Rhee dan Reonve

Adapun desainer Junebok Rhee memulai kariernya di London. Alumni desain fesyen dari  Central Saint Martins College of Arts and Design ini kemudian mengembangkan mereknya di Korea dengan nama Re Rhee.

Dalam kehadiran Re Rhee adalah Rediscovering Myself yang bermakna menemukan kembali jati diriku. Dengan proses desain yang mengusung prinsip reduksi menghilangkan elemen yang tidak diperlukan. Lalu menampilkan hal yang esensial melalui pertemuan kontras, menciptakan narasi tentang keanggunan yang alami dan kehalusan berkelas.

Re Rhee telah membangun kehadiran global yang kuat, mulai dari pengakuan awal di Seoul Fashion Week hingga debut yang mendapat pujian di Paris Fashion Week S/S2025.

Merek ini menolak tren sesaat dan memilih pendekatan abadi yakni meringkas desain ke bentuk intinya melalui siluet terstruktur, detail yang halus, dan penggunaan material yang sadar lingkungan.

Di panggung JF3, Re Rhee menghadirkan “This Appearance; Disappearance” untuk musim Semi/Panas 2025.

Koleksi ini mengeksplorasi sifat sementara dari mode dan bagaimana kemegahan saat ini pada akhirnya akan memudar, menjadi sekadar catatan, anekdot dalam arus waktu.

“Tren-tren setiap musim bersifat sementara namun bersinar yang diibaratkan seperti percikan sesaat: memukau, tetapi cepat dilupakan. Melalui reinterpretasi visual terhadap perjalanan waktu dan jejak-jejak sementaranya, koleksi ini merefleksikan ketidak abadian dari penampilan, keberadaan, dan ketiadaan,” katanya panjang lebar.

Sementara Baek Ju Hee, pengelola merek Reonve menghadirkan busana yang elegan dan berkelanjutan, dibuat secara handmade oleh para pengrajin yang dirancang untuk momen yang bermakna dan tak terlupakan.

Baek Ju Hee mengusung tema, “Whispers of Heritage” adalah koleksi yang menangkap perpaduan halus keindahan tradisional Korea ke dalam ritme kehidupan wanita modern.

Setiap busana dalam koleksi ini dibuat secara handmade oleh para pengrajin, menggunakan detail tradisional seperti bordir, quilting, dan patchwork. Siluet yang anggun dengan struktur khas Timur memperkuat keanggunan, sekaligus menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan dan nilai warisan. Koleksi ini dirancang untuk momen-momen bermakna dan tak terlupakan, menghadirkan keindahan yang melampaui waktu.

Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto: JF3 dan Ade Oyot