JF3 re-crafted

JF3 2025 Hadirkan Re-crafted,  Menjahit Ulang Tradisi Menuju Kemajuan Global di Masa Depan

Jakarta, Kirani – Sudah berlangsung hampir tiga dekade, Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) selalu menyajikan sesuatu yang baru. Bukan semata menghadirkan gelaran fesyen rutin tahunan, lebih dari itu, pada setiap perhelatannya JF3 selalu menyajikan visi yang lebih maju menuju masa depan dan menembus lintas batas.

Kali ini, JF3 2025 ini melangkah ke era baru dengan semangat yang lebih kuat dan membawa tema “Re-crafted: A New Vision”. Dalam penjabarannya tema Re-crafted merupakan sebuah seruan untuk mendefinisikan ulang warisan dan tradisi dalam balutan mode masa kini.

Sejak hadir pertama kali di tahun 2004, JF3 selalu memperbarui komitmennya terhadap kreativitas, keahlian, dan keberlanjutan. Selain itu juga mendorong para desainer untuk menembus batas, berinovasi dan bertransformasi tanpa kehilangan akar.

Karena itu, Re-crafted menjadi sebuah gerakan yang mengajak seluruh pelaku industri untuk mendefinisikan ulang warisan budaya sebagai kekuatan di masa depan, dengan spirit dan peran sebagai Cultural Movement yang menjembatani dari sumber kekuatan akar lokal menuju global.  

Dalam kesempatan Media Preview JF3 2025 yang berlangsung Kamis (17/7) di Gafoy Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, hadir Thresia Mareta, Soegianto Nagaria dan Queennindya Jasminehaq.

Menurut Thresia Mareta, penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, tema ini menyuarakan pesan penting bahwa fesyen tidak hanya tentang pakaian. Dia menegaskan re-crafted bukan hanya tema, melainkan panggilan untuk melampaui zona nyaman dan menyalakan kembali inovasi.

“Kami percaya bahwa fesyen bukan sekadar benda. Fesyen mengandung arti yang sangat luas, mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu. Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang,”ujarnya.

Thresia Mareta-Penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia (tengah), Soegianto Nagaria-Chairman JF3(kanan)
Bergerak Lebih Jauh dengan Derap Langkah yang Baru

Thresia menegaskan bahwa makna Re-crafted membutuhkan keahlian dan kemauan  agar tidak terjebak dalam pengulangan, dan bahwa satu-satunya batas yang ada adalah sejauh mana visi itu sendiri dapat diwujudkan. “Sering kali kita terjebak dalam kenyamanan, dan hal ini membuat kita berjalan di tempat. Kehadiran JF3 sebagai ruang kolaboratif yang mengedepankan inovasi dan perubahan, sebuah platform di mana semua pihak bisa bertumbuh bersama dan saling memperkuat. Recrafted: A New Vision bukan hanya sekadar tema. Ini adalah sebuah gerakan dan waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru.”

Selanjutnya, Thresia menjelaskan pada JF3 2025 ini kembali digelar di dua lokasi, yakni pada 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong.

Festival ini akan menampilkan 45 desainer dan brand, menghadirkan koleksi dari para kreator lokal terkemuka seperti Howard Laurent, Adrie Basuki, Sofie, Hartono Gan, Ernesto Abram, hingga LAKON Indonesia. Berbagai brand yang juga turut berpartisipasi diantaranya Metamorph by Zack, Be Spoke, Brilianto, Nes By HDK, Asha, Abbey by Ariy Arka, dan Future Loundry.

Sementara Soegianto Nagaria selaku Chairman JF3 menjelaskan bahwa selama dua dekade, JF3 membuktikan bahwa ketika kreativitas didukung oleh struktur yang kuat dan lengkap, ia mampu menciptakan dampak yang luas. Dengan dukungan fasilitas dan konektivitas dengan dunia ritel dari Summarecon Mall, JF3 membuka berbagai peluang bagi pelaku industri yang siap memenuhi standar.  Ia pun menyampaikan bahwa memasuki babak ketiga perjalanannya, JF3 diarahkan untuk menjadi ruang tumbuh bagi generasi penerus.

“Memasuki dekade ketiga ini, JF3 fokus pada regenerasi. Kami percaya masa depan industri fesyen Indonesia ada di tangan anak-anak muda. Mereka berani bermimpi, bereksperimen, dan melampaui batas. JF3 hadir untuk menyokong langkah mereka, membukakan pintu, dan mendukung mereka menjadi bagian dari ekosistem industri global,” ujarnya menjelaskan.

Menurut Soegianto, JF3 merupakan hasil kolaborasi strategis antara Summarecon dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Kabupaten Tangerang, serta didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

“Dilandasi komitmen kuat untuk terus bertransformasi dan membuka ruang bagi kolaborasi lintas batas, JF3 menjadi bagian dari gerakan kultural yang menyatukan kreativitas, warisan, dan inovasi. JF3 bukan lagi tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi tentang bagaimana para pelaku bisa mendalami perannya dan bersama-sama membawa industri fesyen Indonesia melangkah maju ke depan,” katanya menerangkan.

Teks: Hadriani Pudjiarti | Foto:  JF3