Jakarta Aesthetic Clinic Kembali Toreh Prestasi se-Asia Pacific

Jakarta, Kirani – Masa pandemi virus corona bukan halangan bagi Jakarta Aesthetic (JAC) untuk terus mendulang prestasi dalam dunia klinik estetika. Belum lama ini, JAC kembali raih 4 penghargaan sekaligus dalam ajang 5th Golden Record Award (GRA) by Merz Aesthetics.

 

GRA merupakan ajang penghargaan internasional yang diselenggarakan oleh Merz APAC (Asia Pacific Region) sejak 2016, untuk merayakan pencapaian klinik-klinik estetika unggulan setiap tahunnya. Penghargaan  kelas international ini menandakan JAC mampu berprestasi meski di tengah pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia.

 

GRA merupakan ajang penghargaan global yang diselenggarakan oleh Merz APAC (Asia Pacific Region) sejak 2016, untuk merayakan pencapaian klinik-klinik estetika unggulan setiap tahunnya. Tahun 2020 ini menjadi tahun ke-empat bagi JAC menerima penghargaan di empat kategori sekaligus.

 

Dua dari empat penghargaan yang diraih JAC untuk Asia Pacific Region (APAC) yakni; APAC Award- Winner Highest Achievement Merz Portfolio: Juara I se-Asia Pasifik negara kategori B, untuk Treatment Kombinasi (Ultherapy-Botoks-Filler) terbanyak yang dilakukan sepanjang 2019-2020 dan APAC Award – 2nd Runner up Highest Achievement Ultherapy Transducer: Juara II se-Asia Pasifik negara kategori B, untuk Perawatan Ultherapy terbanyak yang dilakukan sepanjang 2019-2020.

 

Sementara dua penghargaan lain JAC untuk Local Awards yakni; Local awards – Merz Portfolio Highest Achievement: Juara I se-Indonesia untuk Treatment Kombinasi (Ultherapy-Botoks-Filler) terbanyak yang dilakukan sepanjang 2019-2020 dan Local awards – Merz Ultherapy Transducer Highest Achievement: Juara I se-Indonesia untuk Treatment Ultherapy terbanyak yang dilakukan sepanjang 2019-2020.

 

“Penghargaan ini adalah bukti kerja keras dan niat baik seluruh tim JAC. Terima kasih untuk para pasien yang telah bersama kami sejak awal, sekarang dan masa depan. JAC ingin memberikan satu statement, jika kita mau maka kita pasti bisa, menembus batas dan mencetak prestasi di dunia untuk Indonesia,” ujar dr. Olivia Ong, Founder dan Medical Director Jakarta Aesthetic Clinic.

 

Indonesia sendiri masuk dalam kategori B dan harus berkompetisi dengan negara lain seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia, India, Filipina, dan Vietnam. Dari Indonesia, ada sekitar 50 klinik estetika yang diikutsertakan dalam kompetisi GRA. Penghargaan sebagai juara pertama se-Asia Pasifik dan juara pertama Local Awards ini, menambah catatan sejarah prestasi JAC yang mewakili Indonesia.

 

Kedepannya, JAC ingin terus menjadi leading aesthetic clinic di dalam dan luar negeri, menjadi satu daya tarik wisata bagi siapapun yang hendak merasakan pengalaman yang berkesan setiap kali berhubungan dengan perawatan Botox, Filler, Ultherapy ataupun kombinasinya untuk meningkatkan kebahagiaan dan kualitas hidup.

 

Pengalaman JAC membuktikan kerja keras tersebut diganjar penghargaan .

 

Protokol Kesehatan JAC di masa New Normal

 

Pandemi tidak menyurutkan semangat JAC untuk berkompetisi dan memberikan yang terbaik untuk para pasiennya. Meski sempat tutup sementara (16 Maret-31 Mei 2020) saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total, JAC kini hadir dengan penampilan baru di masa new normal.

 

JAC memiliki protokol kesehatan internal yang ketat, memastikan hanya tim sehat yang melayani pasien setiap harinya. Dari tenaga medis sampai cleaning service, wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) level-2 yang lengkap sesuai standar internasional praktik kedokteran estetika selama pandemi Covid-19. Seluruh tim JAC juga wajib melakukan Swab PCR/Antigen per dua minggu sekali.

 

Tidak sampai disitu, tim JAC juga wajib menggunakan APD disposable, penutup kepala, tameng wajah (faceshield), masker KN-95, masker bedah 3 lapis, sarung tangan disposable sampai kaus kaki dan sandal pelindung.

 

“Pasien diharuskan mengisi Formulir Kesehatan Mandiri secara online sehari sebelum kedatangannya juga sudah melakukan konsultasi virtual, sehingga pasien sudah memahami kebutuhan perawatan yang akan diambil. Di klinik, pasien dicek suhu tubuh, didisinfeksi dan wajib mencuci tangan pakai sabun dan melakukan Swab Antigen atau Rapid Test bebas biaya. Kalau hasilnya negatif, pasien langsung diberikan APD,” papar dr. Olivia Ong.

 

Satu pasien, satu waktu, satu ruangan adalah komitmen yang JAC jalani untuk mencegah kontaminasi silang. JAC pun membatasi jumlah pasien yang datang, hanya 20 pasien saja per harinya. Usai praktik pun, seluruh jendela dan pintu dibuka untuk perputaran udara.

 

Seluruh kursi, meja dan peralatan disterilisasi atau didisinfeksi. Seluruh ruangan juga disemprotkan disinfektan untuk memastikan JAC aman untuk digunakan keesokan harinya. Bahkan, JAC memiliki mesin penyaring udara dari virus dan bakteri yang beroperasi selama 24 jam.

“Kami berharap pandemi segera usai dan kedepannya JAC ingin berkontribusi dalam pariwisata Indonesia lewat servis kedokteran estetika tanpa bedah yang berkualitas Internasional,” jelas dokter yang sudah malang melintang di dunia estetika sejak 2008 silam.

 

Teks   : Nana Hamid                 Foto : Istimewa.

 

Facebook Comments