Jakarta, Kirani – Nunggang roso ngener ing panggayuh
Lunging gadung mrambat krambil gading
Gegondel witing roso pangroso
Nyancang jadi wasanane
Mbrebes mili banyu saking langit
Tibeng kedung lumembak ing pangkon
Anut nyemplung lelakon ngaurip
Cumemplong roso atiku
Petikan tembang “Ingsun” karya Sujiwo Tejo yang berisikan lirik bahasa Jawa nan puitis. Isinya mengandung sarat makna filosofis tentang kehidupan, perasaan, serta perjalanan batin manusia. Tembang dengan suara musik gamelan tradisional yang berpadu dengan efek kabut asap ini, jadi pengiring pembukaan runway koleksi HARSA dari LAKON Indonesia di panggung Fashion Tent JF3 2026 di Summarecon Kelapa Gading pada Rabu (29/7).
Tampak para model yang mengenakan 36 koleksi HARSA melenggang lalu berdiri mematung lama di panggung JF3 2026. Pengunjung serasa mendapat kejutan menyaksikan peragaan berkonsep seperti ini, Apalagi hampir semua wajah para model mengenakan topeng yang tertutup rapat berbalut kain-kain indah koleksi HARSA. Dan koleksi cantik ini langsung mengajak para pengunjung untuk datang mendekat, lalu memegang, meraba setiap koleksi yang dikenakan paa model yang berdiri mematung bak manekin terpasang di etalase mode. Ya, peragaan koleksi HARSA ini menjadi penutup acara JF3 2026 yang berlangsung sejak 22 hingga 29 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.
HARSA menghadirkan babak baru dalam perjalanan kreatif LAKON Indonesia sekaligus memperlihatkan bagaimana karya tangan Indonesia terus berkembang melalui bahasa desain yang modern dan relevan.
Diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti kebahagiaan, HARSA menjadi kelanjutan dari perjalanan yang dimulai melalui Urub dan Pasar Malam pada JF3 tahu-tahun sebelumnya. Jika Urub berbicara tentang semangat yang terus menyala, dan Pasar Malam merayakan kehidupan serta pertemuan manusia di dalamnya, maka HARSA menjadi refleksi tentang menikmati perjalanan, menghargai setiap proses, dan mensyukuri segala hal yang lahir darinya.

Di tengah dunia yang semakin menghargai kecepatan, HARSA justru mengajak kita merayakan sesuatu yang tidak dapat dipercepat: proses, keterampilan, dan waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah karya. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan pada tujuan akhir, melainkan pada keberanian untuk terus belajar, berkarya, dan bertumbuh. Nilai inilah yang menjadi landasan koleksi terbaru LAKON Indonesia.
Melalui HARSA, LAKON Indonesia memberikan penghormatan kepada para perajin, pembatik, pembordir, penjahit, dan seluruh tangan yang terlibat dalam setiap tahap penciptaan. Setiap busana menjadi representasi dari dedikasi, keterampilan, serta kecintaan terhadap karya tangan Indonesia yang terus dikembangkan melalui bahasa desain yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Koleksi HARSA masih berada di bawah arahan Creative Director Irsan, yang menandai koleksi kesembilannya bersama LAKON Indonesia. Sebagai salah satu desainer senior Indonesia dengan pengalaman panjang di industri fashion, Irsan menghadirkan perspektif yang matang dalam membangun keseimbangan antara kreativitas, fungsi, dan kualitas eksekusi. Pengalamannya menjadi fondasi penting dalam memperkuat karakter LAKON Indonesia, membentuk bahasa desain yang terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Kolaborasi yang kini memasuki koleksi kesembilan juga mencerminkan keyakinan LAKON Indonesia bahwa identitas sebuah brand tidak dibangun dalam satu musim, melainkan melalui proses yang konsisten, dialog kreatif yang berkelanjutan, serta keberanian untuk terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Melalui HARSA, Irsan membawa LAKON Indonesia memasuki babak baru. Setelah mengeksplorasi pendekatan streetwear melalui koleksi Urub, kali ini ia menghadirkan siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan dengan eksplorasi yang bergerak dari daily wear hingga daily wear deluxe.

Dan dengan memakai kekayaan batik dan bordir karya tangan Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang modern melalui permainan proporsi, konstruksi, serta eksplorasi material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza. Hasilnya, ada 36 koleksi yang terasa ringan, elegan, dan kontemporer, menghadirkan kemewahan secara subtil tanpa kehilangan fungsi sebagai pakaian yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui HARSA, kami ingin merayakan proses. Merayakan sesuatu yang dijalani dengan sepenuh hati karena mengerti tujuannya. Dan ketika semuanya berproses, kebahagiaan menemukan jalannya. Semoga kebahagiaan itu juga dapat dirasakan oleh setiap orang yang mengenakan karya kami,” ujar Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, Co-Initiator PINTU Incubator, dan Advisor to JF3 Fashion Festival ditemui usai acara.
Thresia mengatakan untuk melengkapi presentasi HARSA, LAKON Indonesia juga menghadirkan Euneun, brand tas asal Korea Selatan yang dikenal melalui pendekatannya terhadap desain yang elegan dan fungsional. “Koleksi tas Euneun jadi pelengkap di atas runway yang menghadirkan dialog visual antara karya LAKON Indonesia dan Euneun. Tentu saja, melalui apresiasi yang sama terhadap kualitas, craftsmanship, dan desain yang berkarakter,” kata Thresia.
Dia juga menjelaskan sebagai bagian dari presentasi tersebut, pendiri Euneun, aktris Korea Selatan Hahm Eun-jung ikut hadir di Jakarta. Dan kehadiran Euneun dalam presentasi HARSA mencerminkan semakin terbukanya ruang dialog antara pelaku industri fashion Indonesia dan Korea Selatan.
“Bagi LAKON Indonesia, pertukaran budaya tidak selalu harus diwujudkan melalui penciptaan sebuah koleksi bersama, tetapi juga melalui saling mengapresiasi karya, kualitas, dan craftsmanship yang menjadi kekuatan masing-masing,” tutup dia.
Thresia juga menegaskan HARSA merefleksikan semangat RECRAFTED: Shaping the Future, tema JF3 tahun ini. Dan ini sebuah keyakinan bahwa masa depan fashion Indonesia dibangun melalui penghormatan terhadap craftsmanship, kolaborasi lintas budaya, dan keberanian untuk terus berevolusi tanpa kehilangan akar yang menjadi identitasnya.
HARSA bukan hanya penutup sebuah festival, tetapi juga pengingat bahwa masa depan fashion Indonesia tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun melalui proses yang panjang, kolaborasi yang tulus, dan penghargaan terhadap setiap tangan yang berkarya.
Teks : Hadriani Pudjiarti I Foto: JF3 2026

