Jakarta, Kirani – Industri mode di Indonesia berkembang dengan pesat. Ini membuka peluang dan kesempatan kepada para desainer atau perancang muda berperan dan menghadapi industri mode di Tanah Air. Selama lebih dari dua dekade, Jakarta Fashion Food and Festival (JF3) terus menghadirkan berbagai inisiatif yang berkembang mengikuti kebutuhan industri fashion Indonesia.
Tentu saja, tak hanya melalui presentasi karya di panggung runway, JF3 juga berkomitmen membangun ekosistem yang mendukung lahirnya generasi baru pelaku industri fashion yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Di tengah berkembangnya industri fashion Indonesia, kreativitas tetap menjadi pondasi yang penting. Namun, kreativitas saja tidak cukup. Industri juga membutuhkan desainer yang mampu menerjemahkan ide menjadi karya nyata melalui kemampuan teknis, pemahaman proses, pengambilan keputusan, serta kualitas eksekusi yang baik.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, JF3 menghadirkan Future Fashion Designer (FFD). Sebuah program yang dirancang untuk menguji sekaligus mengembangkan kemampuan desainer muda melalui pengalaman yang menyerupai situasi industri sesungguhnya.
Dan sejalan tema JF3 2026 yaitu Recrafted: Shaping the Future, FFD menjadi salah satu langkah nyata JF3 dalam mempersiapkan generasi penerus fashion Indonesia. Tidak hanya sebagai kreator, tetapi juga sebagai profesional yang memiliki kedisiplinan, daya tahan, kemampuan teknis, dan kesiapan untuk berkembang di industri.
“FFD bukan sekadar kompetisi desain. Program ini kami rancang untuk menguji bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan menjadi karya yang nyata. Untuk memajukan industri fashion Indonesia, kita membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu menciptakan konsep, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik. Kemampuan tersebut hanya dapat dibangun melalui pengalaman, tantangan, dan proses yang nyata,” ujar Thresia Mareta, Advisor JF3 di acara jumpa pers pada Kamis (18/6) di Gafoy Workshop Summarecon Kelapa Gading.

Dari Ide Menjadi Karya Nyata
Bekerja sama dengan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute, FFD ditujukan bagi lulusan sekolah fashion dari berbagai daerah di Indonesia. Dari puluhan pendaftar yang mengikuti proses seleksi, delapan peserta terbaik terpilih untuk mengikuti program intensif yang berlangsung pada 12–26 Mei 2026.
Dalam waktu hanya 14 hari, para peserta ditantang menyelesaikan lima koleksi berdasarkan lima brief yang berbeda. Mereka harus melalui seluruh proses yang lazim dihadapi seorang fashion designer, mulai dari riset konsep, pemilihan material, penyusunan anggaran, pembuatan pola, proses produksi, styling, hingga presentasi di hadapan panel juri.
FFD menghadirkan lima tantangan berbeda, yaitu Prototype, The Curve, Re’Heritage, Multifunction, dan Opposite. Masing-masing dirancang untuk menguji aspek yang berbeda, mulai dari eksplorasi identitas desain, interpretasi budaya, inovasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian masalah secara kreatif.

Lebih dari sekadar kompetisi, FFD merupakan simulasi dunia kerja yang menuntut peserta untuk berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan layaknya seorang profesional di industri fashion. Penilaian tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga mencakup kualitas produksi, kemampuan presentasi, pengelolaan proses kerja, serta konsistensi dalam menjawab setiap tantangan.
Dan sepanjang program, peserta memperoleh penilaian dan masukan langsung dari 12 profesional yang mewakili berbagai bidang dalam industri fashion, mulai dari desainer, pemilik brand, pendidik, jurnalis, stylist, show director, hingga praktisi branding. Panel juri lintas profesi ini adalah Thresia Mareta, Susan Budihardjo, Rinaldy A. Yunardi, Hian Tjen, Caren Delano, Sofie, Yongki Komaladi, Sarie Febriane, Didi Budiardjo, Richard Hartono, Ary Juwono dan Djafar.
Dari delapan peserta yang mengikuti program sejak awal, lima desainer berhasil mencapai tahap final dan mempresentasikan koleksi akhir mereka melalui trunk show di hadapan panel juri. Kelima finalis tersebut adalah Arron Bryan, Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, Nabila Karimah, dan Tashannie Abigail Loekman.
Menurut Rinaldy A.Yunardi hadirnya dua belas juri dari lintas profesi melalui ilmu dan keprofesionalismenya akan memberikan banyak masukan. Nantinya bekal ilmu para juri ini akan befungsi sebagai pondasi dasar bagi para desainer muda untuk masa depan dan jeberlanjutan karir mereka.
“Saya rasa, jumlah para juri tidaklah kebanyakan, justru menjadi sangat penting. Karena nantinya di dunia kerja nyata, mereka, para desainer muda ini harus menghadapi banyak orang dengan opini yang berbeda-beda. Justru, ini saatnya mereka menyerap seluruh masukan yang disampaikan dari para juri dan menjadi ilmu serta pembelajaran penting berharga,” kata Rinaldy, desainer aksesori senior kondang di Tanah Air.

Senada dengan Rinaldy, Thresia Maretha mengatakan semua juri adalah professional yang bisa menempatkan diri sesuai kapasitas dan tugasnya masing-masing. Dan para juri ini bertugas memberikan input yang membangun tidak hanya mengkritik. “Semua juri punya peran untuk memberikan ilmu sebagai pondasi para desainer muda. Justru ini sebuah kesempatan tak ternilai yang mereka harus belajar, serap dan terapkan dalam masa depan selanjutnya.”
Melalui masukan para juri yang bisa saja bertentangan satu sama lain, menurut Thresia justru para desainer muda harus melihatnya sebagai tantangan, motivasi dan sebagai keputusan atau sikap, pendirian bekal di masa depan mereka. Thresia berharap melalui ajang ini kemampuan para desainer muda Indonesia bisa bertambah dan meningkatkan kualitas industri fesyen di Tanah Air.
Thresia menegaskan untuk memajukan industri fashion Indonesia, membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu menciptakan konsep, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik. “Nah, kemampuan ini hanya dapat dibangun melalui pengalaman, tantangan, dan proses yang nyata,” ujar Thresia.
Teks : Hadriani Pudjiarti | Foto : JF3 2026

